Dark/Light Mode

Tahun Baru, Bersiap Menghadapi Bahaya

Taiwan Tolak Dikuasai China

Kamis, 2 Januari 2025 05:15 WIB
Presiden Taiwan Lai Ching (kiri) dan Presiden China Xi Jinping dalam pidato Tahun Baru 2025 membahas mengenai hubungan Taipei dan Beijing. (Foto AP/Yusuke Hinata via Nikkei)
Presiden Taiwan Lai Ching (kiri) dan Presiden China Xi Jinping dalam pidato Tahun Baru 2025 membahas mengenai hubungan Taipei dan Beijing. (Foto AP/Yusuke Hinata via Nikkei)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Taiwan Lai Ching-te mengirimkan pesan Tahun Baru, Rabu (1/1/2025), bahwa pemerintahannya harus meningkatkan belanja persenjataan untuk melindungi kedaulatan. Pesan ini sebagai penegasan bahwa Taiwan tidak mau dikuasai China. Taiwan juga menekankan sebagai negara demokrasi yang mandiri.

Selama ini, Taiwan sering menjadi bulan-bulanan pesawat dan kapal patroli China yang terbang dan berlayar dekat wilayahnya. Kendati begitu, Taiwan mendapat dukungan penuh dari Amerika Serikat (AS) yang mengakui Taipei sebagai negara yang terpisah dari China.

Namun, jelang pelantikan Donald Trump menjadi Presiden AS, Taiwan waswas. Pasalnya, Trump sudah mengeluarkan pernyataan bahwa Taiwan seharusnya membayar jasa perlindungan pasukan AS. Trump mengancam akan menghentikan patroli pasukan AS di Taiwan jika permintaannya tidak dipenuhi.

“Taiwan harus bersiap menghadapi bahaya. Kami harus terus meningkatkan anggaran pertahanan, memperkuat kemampuan dan menunjukkan tekadnya untuk melindungi negara,” ujar Lai di Gedung Kantor Presiden dikutip AFP, Senin (1/1/2025).

Baca juga : KPK Tahan 2 Tersangka Dugaan Korupsi Shelter Tsunami NTB

Meski Taiwan telah meningkatkan belanja militernya dalam beberapa tahun terakhir, pulau berpenduduk 23 juta orang ini masih sangat bergantung pada penjualan senjata AS sebagai upaya pencegahan terhadap pendudukan China. Selain itu, Lai kesulitan menambah anggaran pemerintahannya karena parlemen dikendalikan partai-partai oposisi. Anggaran itu mencakup belanja pertahanan yang mencapai rekor tertinggi.

Untuk itu, dalam pidatonya Lai coba menggugah setiap warga negara. Dia mengatakan, melindungi demokrasi dan keamanan Taiwan adalah tanggung jawab semua orang.

“Kita harus mengumpulkan setiap kekuatan yang dimiliki untuk meningkatkan ketahanan dan pertahanan seluruh masyarakat, membangun kemampuan yang dapat merespons bencana berskala besar dan mencegah ancaman dan invasi,” tegas Lai.

Peringatan Lai ini seperti menjawab pernyataan Presiden China Xi Jinping. Xi Jinping memperingatkan pihak pro-kemerdekaan, tidak ada yang dapat menghentikan penyatuan Taiwan dengan China.

Baca juga : Pemerintah RI Berhasil Tingkatkan PDB Dan Turunkan Kemiskinan Diakui Dunia Internasional

“China dan Taiwan adalah satu keluarga. Tidak seorang pun dapat memutuskan ikatan ini dan tidak seorang pun dapat menghentikan tren historis penyatuan kembali negara,” tegasnya dalam siaran resmi media China, CCTV, Selasa (31/12/2024).

Meski Taiwan menganggap dirinya sebagai negara berdaulat, sebagian besar negara, termasuk AS, tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan negara pulau itu. Langkah itu untuk membuat Beijing tidak marah. Namun banyak negara yang mempertahankan hubungan tidak resmi dengan Taiwan, yang telah menjadi kekuatan besar dalam industri semikonduktor.

Tekanan Militer China

Sepanjang 2024, China meningkatkan tekanan militer di sekitar Taiwan. China mengerahkan kapal perang dan pesawat secara rutin ke wilayah udara dan perairan Taiwan. Langkah ini dianggap Pemerintah Taiwan sebagai upaya untuk menormalkan kehadiran militer China di wilayah tersebut.

Taiwan, yang memiliki pemerintahan sendiri sejak 1949, secara konsisten menolak klaim Beijing. Pemerintah Taiwan menegaskan, masa depan pulau tersebut hanya dapat ditentukan rakyatnya, bukan Beijing.

Baca juga : Top! Kemudahan Berusaha Meningkat, Indonesia Masuk 20 Besar Daya Saing Investasi

Ketegangan semakin memuncak tahun lalu, terutama setelah Lai dilantik sebagai Presiden pada Mei 2024. Beijing memandang Lai sebagai pro-kemerdekaan. Kunjungan Lai ke Hawaii dan Guam, AS, September lalu, memicu kecaman dari Beijing.

Merespons langkah Lai, China menggelar latihan militer besar-besaran di sekitar Taiwan, termasuk di Laut China Timur dan Selatan. China juga rutin memperingatkan AS tidak terlibat dalam kerja sama militer dengan Taiwan. Beijing memberlakukan sanksi terhadap perusahaan dan eksekutif yang terkait dengan pemasok senjata ke Taiwan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.