Dark/Light Mode

Biden Dan Trump Sama-Sama Klaim Berjasa Golkan Kesepakatan Israel-Hamas

Kamis, 16 Januari 2025 09:41 WIB
Presiden AS Joe Biden (kiri) dan Presiden Terpilih AS Donald Trump. (Foto: Instagram)
Presiden AS Joe Biden (kiri) dan Presiden Terpilih AS Donald Trump. (Foto: Instagram)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dan Presiden Terpilih Donald Trump sama-sama mengklaim berjasa atas kesepakatan gencatan senjata Israel dan Hamas di Gaza, Rabu (15/1/2025). 

Asal tahu saja, untuk memuluskan negosiasi yang telah berlangsung selama berbulan-bulan, Gedung Putih membawa utusan Trump untuk Timur Tengah.

Trump pun tidak membuang waktu untuk menegaskan, bahwa dia adalah kekuatan pendorong di balik kesepakatan tersebut.

Sementara Biden menekankan, kesepakatan tersebut dicapai di bawah kontur yang tepat atas rencana yang telah ditetapkannya pada akhir Mei 2024.

"Perjanjian gencatan senjata EPIC ini hanya dapat terjadi dari Kemenangan Bersejarah kita pada November 2024. Karena hal itu memberi isyarat pada dunia, bahwa pemerintahan saya akan memperjuangkan perdamaian dan menegosiasikan kesepakatan untuk memastikan keselamatan semua orang Amerika dan sekutunya," tulis Trump di media sosial.

“Saya sangat senang, para sandera Amerika dan Israel akan kembali ke rumah untuk dipersatukan kembali dengan keluarga dan orang-orang terkasih mereka,” imbuhnya.

Trump memastikan, utusan Timur Tengah-nya: Steve Witkoff — yang berpartisipasi dalam perundingan di Doha, Qatar — akan terus bekerja sama erat dengan Israel dan sekutu AS.

"Kami pastikan, Gaza TIDAK PERNAH lagi menjadi tempat berlindung yang aman bagi teroris,” tegas Trump.

Klaim Biden

Terkait gencatan senjata Israel-Hamas, Biden memastikan, diplomasinya tidak akan pernah berhenti dalam menyelesaikan persoalan tersebut.

"Ini bukan hanya hasil dari tekanan ekstrem yang dialami Hamas dan perubahan persamaan regional setelah gencatan senjata di Lebanon, serta melemahnya Iran. Ini juga berkat diplomasi Amerika yang gigih dan telaten," kata Biden dari Gedung Putih, Rabu (15/1/2025).

Pergolakan ini terjadi karena Biden dan Trump bertekad untuk menjadikan kesepakatan itu sebagai bagian dari keberhasilan Timur Tengah, yang menjadi legacy masa jabatan presiden mereka.

Baca juga : Biden Umumkan Deal Gencatan Senjata Israel-Hamas, Ini Bocoran Kesepakatannya

Pemerintahan Biden bekerja selama berbulan-bulan untuk menjadi penengah perdamaian dalam pembicaraan yang hampir berhasil, sebelum berulang kali gagal.

Trump, pada bagiannya, telah memperingatkan neraka yang harus dibayar, jika kesepakatan tidak tercapai dalam waktu lima hari sebelum pelantikannya.

Penolakan Biden untuk membatasi pengiriman senjata ke Israel, mungkin telah membantu sekutu utama AS tersebut untuk serius melemahkan Hamas dan kelompok militan lain yang didukung Iran, Hizbullah di Lebanon.

Namun, perlu diingat, penolakan tersebut juga disertai dengan penderitaan yang sangat besar bagi warga Palestina dan Lebanon yang tidak bersalah, yang telah terperangkap dalam baku tembak 15 bulan yang melelahkan.

Tanggapan Pengamat

Direktur Prakarsa Keamanan Timur Tengah Scowcroft di Atlantic Council, Jonathan Panikoff mengatakan, Biden pantas dipuji karena terus mendorong perundingan. Meski berulang kali gagal.

Ancaman Trump terhadap Hamas dan upayanya melalui Witkoff untuk "membujuk" Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu juga patut dipuji.

Realitas ironisnya, kata Panikoff, saat partisanisme meningkat, bahkan dalam hal kebijakan luar negeri, kesepakatan itu menggambarkan betapa jauh lebih kuat dan berpengaruhnya kebijakan luar negeri AS ketika bersifat bipartisan.

“Pemerintahan saat ini dan yang akan datang, pantas dipuji atas kesepakatan ini. Kemungkinan besar, kesepakatan Israel-Hamas tidak akan terjadi tanpa dorongan Biden dan Trump,” ujar Panikoff, seperti dikutip The Associated Press (AP), Rabu (15/1/2025).

Dalam sambutannya di Gedung Putih, Biden mengatakan pemerintahannya ikut merundingkan kesepakatan. Tim Trump  ditugaskan untuk memastikan kesepakatan itu terwujud.

"Selama beberapa hari terakhir, kami telah berbicara sebagai satu tim," kata Biden sambil mengangguk kepada Witkoff,  yang ikut serta dalam pembicaraan tersebut.

Namun, Tim Trump mengatakan, Biden tidak dapat menyelesaikan kesepakatan tersebut, hingga Trump dan Witkoff turun tangan.

Baca juga : Sore Ini Kenalan, Patrick Kluivert Dijadwalkan Makan Bareng Pemain Timnas

Juru Bicara Departemen Luar Negeri Matthew Miller mengatakan, Pemerintahan Biden memberikan peta jalan terperinci kepada pemerintahan Trump, untuk memenangkan perdamaian abadi yang mendapat dukungan luas di kawasan tersebut.

"Keterlibatan tim Presiden terpilih Trump sangat penting dalam menyelesaikan kesepakatan ini. Itu penting, karena jelas, seperti yang saya katakan hari ini, masa jabatan pemerintahan Biden akan berakhir dalam lima hari," papar Miller.

Herzog Berterima Kasih 

Presiden Israel Isaac Herzog menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Presiden AS, baik yang akan dilantik ataupun yang akan segera lengser.

Kepala Pusat Kebijakan Internasional yang berbasis di AS, Nancy Okail mengapresiasi  penerimaan kesepakatan tersebut, meskipun Trump bersikeras agar gencatan senjata diberlakukan saat ia menjabat.

"Ini menunjukkan betapa efektifnya tekanan yang sebenarnya, dalam mengubah perilaku pemerintah Israel," tuturnya.

Dukungan terbuka pemerintahan Biden terhadap keterlibatan Tim Trump dalam perundingan tersebut, dinilai akan berakar pada lebih dari sekadar pengaruh presiden terpilih terhadap Netanyahu dan ancamannya untuk menyelesaikan kesepakatan sebelum ia kembali ke Gedung Putih.

Peran Witkoff

Para pejabat, yang berbicara dengan syarat anonim untuk memberikan keterangan yang jujur, sangat mendukung partisipasi Witkoff dalam perundingan bersama penasihat Biden untuk Timur Tengah, Brett McGurk.

Partisipasi ini terutama dirancang untuk memastikan bahwa kesepakatan Israel-Hamas akan terus mendapat dukungan AS, sekalipun Biden telah meninggalkan jabatannya.

Namun, sejak Witkoff memasuki putaran terakhir perundingan bersama McGurk, para pejabat AS telah meremehkan relevansi Trump terhadap proses tersebut. Selain dari pentingnya memastikan dukungan Trump terhadap kesepakatan yang dinegosiasikan dengan susah payah selama setahun terakhir.

Mereka juga menginginkan dukungan untuk rencana yang didorong pemerintahan Biden untuk tata kelola, rekonstruksi, dan keamanan Gaza yang akan memakan waktu berbulan-bulan. Serta dukungan signifikan AS untuk berhasil.

Salah satu kekhawatiran tidak mengikutsertakan pejabat Trump dalam negosiasi adalah bahwa rencana pascakonflik untuk Gaza yang telah disusun selama setahun terakhir, mungkin akan ditinggalkan oleh pemerintahan baru.

Baca juga : Penting, Komitmen Memprioritaskan Keselamatan Transportasi

Rencana tersebut menyerukan kehadiran internasional di Gaza untuk membantu Otoritas Palestina dalam tata kelola dan rekonstruksi, serta kehadiran keamanan asing sementara untuk mengatasi masalah keamanan Israel.

Pelaksanaan kesepakatan gencatan senjata Israel-Hamas akan dimulai pada Minggu 19 Januari 2025, saat kelompok sandera pertama dibebaskan.

Koordinasi McGurk dan Witkoff disebut sebagai "kemitraan yang membuahkan hasil". Mereka mampu berkoordinasi erat saat mereka mendesak pihak-pihak untuk mencapai kesepakatan.

Pada titik kritis minggu lalu, Witkoff meninggalkan pembicaraan di Doha, agar dapat bertemu dengan Netanyahu. Hal itu memungkinkan McGurk untuk tetap berada di Doha, dan terus bekerja sama dengan negosiator Qatar yang merupakan lawan bicara utama Hamas.

Negosiator AS: Qatar dan Mesir, bersama dengan tim Israel di dekatnya, bekerja hingga Rabu (15/1/2025) dini hari. Tempat kerjanya, hanya terpaut satu lantai di atas tempat para negosiator Hamas bersembunyi.

Hamas kemudian mengajukan beberapa tuntutan di detik-detik terakhir. Namun, negosiator tetap teguh hingga berhasil mewujudkan kesepakatan.

Selama perang berlangsung, hubungan Biden dengan Netanyahu merenggang akibat jumlah korban tewas Palestina dalam pertempuran tersebut telah melewati angka 46 ribu.

Langkah Israel membatasi akses makanan dan perawatan kesehatan dasar, juga telah menciptakan bencana kemanusiaan di Gaza.

Aktivis pro-Palestina telah menuntut embargo senjata terhadap Israel. Namun, mayoritas kebijakan AS tetap tidak berubah.

Kritikus Biden mengatakan, pendekatannya dapat berdampak jangka panjang bagi posisi AS di Timur Tengah, dan bisa menjadi noda pada warisan jabatannya.

Saat ditanya reporter, tentang siapa yang akan dicatat dalam sejarah atas kesepakatan gencatan senjata tersebut, Biden yang baru saja meninggalkan podium Gedung Putih usai berpidato, berbalik dan tersenyum. Dia berkata,"Apakah itu lelucon?".

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.