Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Beragama Dalam Keberagaman (40)
Keberadaan Paham Kasepuhan Ciptagelar
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nuhrison M. Nuh, dari Puslitbang Kehidupan Keagamaan Balitbang Kementerian Agama RI (2013) menemukan bahwa Paham Kasepuhan Ciptagelar masih tetap eksis, khususnya komunitas masyarakat di kawasan Gunung Halimun, tepatnya Desa Sirnaresmi Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Faham Kasepuhan Ciptagelar adalah sebuah faham yang mempercayai nenek moyang mereka berasal dari Kerajaan Pajajaran.
Mereka percaya bahwa nenek moyang mereka selalu mendapat wangsit untuk memimpin dan memelihara adat kebiasaan yang mereka sebut tali paranti Karuhun.
Nenek moyang mereka diyakini tetap hidup secara gaib dan selalu melindungi, mendampingi, dan memberikan wangsit dan kekuatan supernatural kepada anak cucunya. Untuk melestarikan petunjuk misteri itu maka dilakukanlah sejumlah upacara berupa pengamalan adat-istiadat, seperti Pertunjukan Kesenian Sunda yang disebut Opat Belasan, setiap tanggal 14 penanggalan Sunda yang bertepatan dengan munculnya bulan purnama. Pertunjukan tersebut antara lain Wayang Golek, Jipeng, Topeng, dan Jaipongan di depan Pelataran Imah Gede atau alun-alun.
Prabu Siliwangi yang dikenal sebagai Raja Pajajaran yang sangat disegani, diyakini oleh komunitas Ciptagelar memiliki kekuatan gaib dan diyakini masih hidup secara gaib dan bisa berkomunikasi secara gaib oleh orang-orang tertentu.
Baca juga : Keberadaan Paham Ali Taitang-Zikrullah
Di kawasan Ciptagelar memang ditemukan sejumlah situs megalitik seperti Batu Jolang (tempat permandian), Salak datar, Tugu Gede, Cungkuk, Batu Kursi, batu Dakon (alat perhitungan ilmu bintang), dan lain-lain.
Situs-situs tersebut penuh dengan legenda yang diyakini kebenarannya oleh masyarakat tersebut. Pikukuh Sunda atau tata krama leluhur Sunda masih tetap dipertahankan. Mereka yakin bahwa amalan-amalan tersebut tidak serta merta bertentangan dengan ajaran Islam, sebagai agama yang secara formal dianut di dalam masyarakat tersebut.
“Pertemuan” (encounter) antara Pikukuh Sunda dan Syari’ah Islam berlangsung dengan damai, bahkan dengan mesra. Kehadiran agama Islam tidak pernah dirasakan sebagai ancaman oleh komunitas masyarakat tersebut, bahkan dianggap saling melengkapi.
Hal ini bisa terlihat dengan adanya istilah dari Masyarakat Kasepuhan: Lain selam lawas, lain selam anyur, tapi selam pangandika gusti rasul (bukan Islam lama, bukan Islam baru, tetapi Islam yang mengikuti ajaran rasul). Ungkapan lain yang popular di dalam masyarakat ialah: Tilu sapamulu, dua sakarupa, hiji eta-eta keneh atau hubungan timbal balik dari Ucap-Tekad-Lampah; Syara-Buhun, Negara, papakean-Nyawa-Raga, yang maksudnya setiap tindakan harus diawali dengan niat dan tekad yang kuat, adat istiadat selalu berlandaskan Syari’ah, tidak bertentangan dengan aturan Negara; hubungan adat-agama-negara diibaratkan bagaikan tubuh manusia yang memiliki jasad, nyawa, dan pakaian.
Baca juga : Keberadaan Sidulur Sikep (Samin)
Dalam kenyataan, sebagaimana ditemukan oleh peneliti di atas, masih ada praktik-praktik lokal yang tidak umum dikenal di dalam Islam, seperti Ritual Ngembang, upacara meminta restu dan perlindungan kepada leluhur sebelum mengadakan suatu acara atau pesta.
Doa-doa yang dibaca secara umum ialah selawat kepada para nabi dan doa-doa tolak bala lain yang poluler di dalam Islam.
Bahkan pimpinan upacara mereka fasih dan hafal melafazkan lafaz-lafaz bahasa Arab tersebut.
Upacara yang sering dilakukan di dalam masyarakat antara lain pesta atau syukuran kelahiran bayi, khitanan, pelamaran, perkawinan, kematian, dan tahlilan, pindah rumah, dan lain-lain.
Baca juga : Keberadaan Kejawen Ajaran Ki Ageng Suryomentaram
Upacara lainnya yang biasa dilakukan secara massif atau berjamaah antara lain Carita, sebelum memulai suatu acara, Ngaseuk, memulai bercocok tanam (tatane), mulai penanaman benih, Mipit, upacara pada saat panen, Ngadiukeun yaitu upacara penjemuran padi, Nganyaran memohon izin untuk mengkonsumsi hasil panen kepada Yang Maha Memiliki, dst.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 8, edisi Sabtu, 14 Desember 2024 dengan judul "Beragama Dalam Keberagaman (40), Keberadaan Paham Kasepuhan Ciptagelar"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.