Dark/Light Mode

Mau Relokasi Warga Gaza, Trump Dilawan China

Kamis, 13 Februari 2025 08:05 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Foto: Instagram/realdonaldtrump)
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Foto: Instagram/realdonaldtrump)

RM.id  Rakyat Merdeka - Keinginan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mau merelokasi warga Palestina dari Gaza menuai protes banyak negara di dunia. Kali ini, perlawanan datang dari China. Negara yang lagi terlibat perang dagang dengan AS itu, menolak ide gila Trump soal Gaza.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menganggap, keinginan Trump untuk relokasi warga Gaza menyalahi aturan. Jiakun menganggap, relokasi itu sama saja dengan pemindahan paksa warga Gaza.

Jiakun mengatakan, Gaza milik rakyat Palestina dan bagian integral dari Palestina. “Kami menentang pemindahan paksa warga Gaza,” tegasnya dilansir AFP, Rabu (12/2/2025).

Diketahui, Trump berencana membeli dan memiliki Gaza. Dalam rencana itu, ia juga mengizinkan sebagian wilayah Gaza dibangun kembali oleh negara-negara Timur Tengah (Timteng).

“Kami berkomitmen untuk memilikinya, mengambilnya, dan memastikan bahwa Hamas tidak datang kembali,” kata Trump, saat berada di Air Force One, Minggu (9/2/2025), menukil Reuters.

Baca juga : Konsisten Melayani UMKM, BRI Cetak Laba Rp 60,64 Triliun

Menurutnya, saat ini tidak ada tempat di Gaza yang bisa dihuni warganya. Hampir seluruh wilayah yang menjadi lokasi pertempuran Hamas dengan tentara Israel itu porak-poranda.

Untuk mewujudkan idenya, politisi kelahiran New York 78 tahun silam ini membuka opsi menerima pengungsi Palestina ke Amerika Serikat, dengan mempertimbangkan permintaan itu berdasarkan setiap kasus. “Saya pikir mereka akan sangat senang tinggal di daerah sekitar dengan tempat yang aman, di mana mereka bisa hidup dengan aman dan memiliki kehidupan yang baik,” rayu Trump.

Namun, ide Trump mendapat protes keras banyak negara. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Prabowo Subianto sepakat menolak relokasi Gaza. Kesepakatan itu tertuang dalam pernyataan bersama RI-Turki, Rabu (12/2/2025). Dokumen tersebut merupakan hasil pertemuan Erdogan dan Prabowo di Istana Bogor, Jawa Barat.

“Kedua Presiden juga menolak gagasan untuk merelokasi penduduk Gaza dari tanah air mereka,” demikian salah satu kalimat dalam pernyataan itu, di situs resmi Kementerian Luar Negeri RI.

Prabowo dan Erdogan kembali menegaskan tekad mereka mendukung kedaulatan dan kemerdekaan Palestina. Keduanya juga sepakat agar Palestina dan Israel menghormati gencatan senjata sebagai langkah menuju resolusi abadi.

Baca juga : Idrus Marham: Kami Tingkatkan Kualitas Dukungan

Solusi dua negara merupakan kerangka untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina. Caranya dengan mendirikan dua negara yang berdampingan, hidup damai, saling menghormati, hingga mengakui kedaulatan masing-masing.

Sebelumnya, Presiden Palestina Mahmoud Abbas sangat tegas menolak rencana kontroversial tersebut. Abbas menegaskan hak-hak warga Palestina tidak untuk dinegosiasikan.

Menurutnya, usulan Trump ini merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan perdamaian. Bahkan, usulan Trump itu bisa mengganggu stabilitas internasional yang tidak akan tercapai tanpa berdirinya negara Palestina.

“Kami tidak akan membiarkan hak-hak rakyat kami, yang telah kami perjuangkan selama beberapa dekade dilanggar,” tegas Abbas seperti dilansir AFP, Kamis (6/2/2025).

Kementerian Luar Negeri Saudi ikut mengecam keras pernyataan Trump. Saudi menegaskan bahwa rakyat Palestina memiliki hak atas tanah mereka. Warga Palestina bukanlah penyusup atau imigran yang dapat diusir kapan saja oleh pendudukan brutal Israel.

Baca juga : Adi Prayitno: Pertanda Ada Yang Tak Sesuai Harapan

“Para pendukung ide-ide ekstremis ini adalah mereka yang mencegah Israel untuk menerima perdamaian,” tulis siaran pers Kemenlu Arab Saudi seperti dikutip AFP pada Minggu (9/2/2025).

Raja Yordania Abdullah II bahkan terang-terangan menolak ide Trump. Dia menegaskan, Yordania dalam posisi teguh terhadap pemindahan warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat.

“Ini adalah posisi Arab yang bersatu,” tegas Raja Abdullah II melalui media sosial, usai bertemu dengan Trump. [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.