Dark/Light Mode

Ukraina Terima Proposal Gencatan Senjata 30 Hari Dengan Rusia

Rabu, 12 Maret 2025 13:40 WIB
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky (Foto: Instagram zelenskyy_official)
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky (Foto: Instagram zelenskyy_official)

RM.id  Rakyat Merdeka - Amerika Serikat (AS) sepakat melanjutkan bantuan militer dan berbagi informasi intelijen dengan Ukraina, setelah Kiev menyatakan siap menerima usulan AS untuk gencatan senjata selama 30 hari dalam konfliknya dengan Rusia, yang telah berlangsung sejak Februari 2022.

Demikian pernyataan bersama AS dan Ukraina, usai delapan jam perundingan di Jeddah, Arab Saudi, Selasa (11/3/2025).

Terkait hal tersebut, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan, pihaknya siap menyampaikan tawaran tersebut ke Rusia. Keputusan ada di tangan Moskow.

“Presiden menginginkan perang ini berakhir. Karena itu, kami berharap, Rusia akan menjawab ‘ya’ secepatnya. Sehingga, kami dapat mencapai tahap kedua, menuju perundingan yang sebenarnya,” kata Rubio kepada wartawan, seperti dikutip Reuters, Rabu (12/3/2025).

Rusia yang melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina sejak tiga tahun lalu, kini telah menguasai sekitar seperlima wilayah Ukraina. Termasuk Krimea, yang diklaim telah dianeksasi pada tahun 2014.

"Washington menginginkan kesepakatan penuh dengan Rusia dan Ukraina secepatnya," ujar Rubio.

"Setiap hari berlalu, perang ini terus berlanjut. Orang-orang tewas, orang-orang dibom, dan orang-orang terluka di kedua kubu," imbuhnya.

Baca juga : Gerindra Lebih Cocok Dengan Aturan Lama

Lewat akun Instagram resminya, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan menerima proposal gencatan senjata tersebut.

"Kami menganggapnya positif. Kami siap mengambil langkah ini. Amerika Serikat perlu meyakinkan Rusia untuk melakukannya. Jika Rusia setuju, keheningan akan berlaku pada saat itu juga," ungkap Zelensky.

Menurutnya, elemen penting dalam diskusi tersebut adalah kesiapan Amerika untuk mengembalikan bantuan pertahanan ke Ukraina, juga dukungan intelijen.

"Ukraina siap untuk perdamaian. Rusia juga harus menunjukkan apakah mereka siap mengakhiri perang, atau malah melanjutkannya," tutur Zelensky.

"Waktunya telah tiba untuk seluruh kebenaran. Saya berterima kasih kepada semua orang yang membantu Ukraina," imbuhnya.

Kesepakatan Mineral

Di Arab Saudi, AS dan Ukraina juga sepakat untuk segera menyelesaikan perjanjian komprehensif, demi mengembangkan sumber daya mineral penting Ukraina. Perjanjian yang tak kunjung terealisasi, terutama setelah ribut-ribut antara Trump dan Zelensky pada 28 Februari lalu.

Terkait hal tersebut, staf khusus Zelensky mengatakan, pihaknya telah membahas opsi untuk jaminan keamanan bagi Ukraina dengan pejabat AS. Tanpa merinci opsi tersebut.

Jaminan Keamanan 

Baca juga : AS Dialog Langsung Dengan Kubu Hamas

Jaminan keamanan memang menjadi salah satu tujuan utama Kiev. Beberapa negara Eropa telah menyatakan kesediaan untuk menjajaki pengiriman pasukan penjaga perdamaian.

Rubio pun akan menyampaikan rencana ini  kepada Rusia melalui berbagai saluran.

Sementara Penasihat Keamanan Nasional Trump, Mike Waltz mengumumkan akan berbicara dengan mitranya dari Rusia dalam beberapa hari mendatang.

Dalam pernyataan bersama, Ukraina menegaskan kembali bahwa mitra Eropa harus dilibatkan dalam proses perdamaian.

Untuk itu, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte akan berada di Gedung Putih pada tanggal 13 Maret mendatang.

Aliansi Terbalik

Di bawah kepemimpinan Trump, Washington, yang dulunya sekutu paling setia Kiev, telah mengubah kebijakannya tentang perang. AS kini justru memberikan tekanan pada Ukraina.

Waltz mengatakan dimulainya kembali bantuan militer awal untuk Ukraina, memerlukan peralatan dari persediaan AS. Hal ini disetujui oleh mantan Presiden AS Joe Biden, dengan menggunakan Otoritas Penarikan Pasukan Presiden, sebelum ia meninggalkan jabatannya. Bantuan militer Ukraina dihentikan oleh Trump, setelah adu mulut dengan Zelensky di Gedung Putih.

Baca juga : IKAPPI Dukung Koperasi Desa Merah Putih Atasi Lonjakan Harga Kebutuhan Pangan

Saat diplomasi berlangsung, posisi Ukraina di medan perang berada di bawah tekanan berat, khususnya di wilayah Kursk Rusia, tempat pasukan Moskow melancarkan serangan untuk mengusir pasukan Kiev, yang telah mencoba mempertahankan sepetak tanah sebagai alat tawar-menawar.

Ukraina semalam meluncurkan serangan pesawat nirawak terbesarnya di Moskow dan wilayah sekitarnya. Ini menjadi bukti bahwa Kiev juga dapat mendaratkan pukulan besar, setelah serangkaian serangan rudal dan pesawat nirawak Rusia, yang salah satunya menewaskan 14 orang pada 8 Maret 2025.

Serangan yang melibatkan 337 pesawat nirawak itu jatuh di atas Rusia, menewaskan sedikitnya tiga karyawan gudang daging dan menyebabkan penutupan sementara di empat bandara Moskow.

Ukraina mengatakan pesawat nirawaknya menyerang kilang minyak di dekat Moskow dan sebuah fasilitas di wilayah Oryol Rusia, sementara Hungaria mengatakan pengiriman minyak mentah melalui jaringan pipa Druzhba Rusia ditangguhkan setelah serangan itu.

Pejabat AS dan Rusia bertemu di ibu kota Saudi pada bulan Februari dalam pertemuan langka antara kedua mantan musuh Perang Dingin itu.

Diskusi sebagian besar difokuskan pada pemulihan hubungan yang sempat beku di bawah Biden, pendahulu Trump dari Partai Demokrat.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.