Dark/Light Mode

Korban Tewas Gempa Dahsyat Myanmar Kini Tembus 1.644, Korban Luka 3.408

Sabtu, 29 Maret 2025 21:15 WIB
Korban gempa dahsyat Myanmar terus bertambah. Hari ini, jumlah korban tewas mencapai angka 1.643. (Foto: Palang Merah Myanmar)
Korban gempa dahsyat Myanmar terus bertambah. Hari ini, jumlah korban tewas mencapai angka 1.643. (Foto: Palang Merah Myanmar)

RM.id  Rakyat Merdeka - Jumlah korban tewas akibat gempa dahsyat Myanmar telah meningkat menjadi 1.644. Sementara jumlah korban luka tembus angka 3.408, dan 139 orang masih dinyatakan hilang.

Ratusan orang diperkirakan terjebak di bawah reruntuhan bangunan. Termasuk, sedikitnya 50 pekerja konstruksi yang belum diketahui keberadaannya, setelah gedung tinggi diratakan oleh gempa bumi di Bangkok.

Banyak Pergerakan Kerak Bumi 

Baca juga : Innalillahi, Korban Tewas Gempa Myanmar Tembus 1.000 Orang, 2.300 Terluka

Myanmar berada di wilayah yang secara geologis sangat aktif. Ada banyak pergerakan kerak bumi yang terjadi. Negara Asia Tenggara ini berada di pertemuan empat lempeng tektonik: lempeng Eurasia, lempeng India, lempeng Sunda, dan lempeng Burma. Keempat lempeng itu bergerak dalam hubungan satu sama lain. Sehingga, meningkatkan kemungkinan wilayah tersebut mengalami gempa bumi secara signifikan.

"Patahan terbentuk untuk mengakomodasi semua pergerakan tersebut. Ini memungkinkan lempeng tektonik bergerak menyamping," jelas Dr. Rebecca Bell, ahli gerakan dan struktur lempeng bumi di  Imperial College London.

Baca juga : Korban Tewas Gempa Myanmar Kini Tembus 694, Korban Luka 1.670 Orang

Ada patahan besar - rekahan di antara bebatuan - yang disebut patahan Sagaing. Posisinya sangat dekat dengan lokasi terjadinya gempa dahsyat Myanmar.

Patahan tersebut membelah Myanmar dari utara ke selatan, dan membentang sejauh lebih dari 1.200 km (746 mil).

Baca juga : Gempa Dahsyat Myanmar Tewaskan Lebih Dari 153 Orang

Data awal menunjukkan, pergerakan bumi yang menyebabkan gempa bumi adalah "gerakan sesar-sesar". Dua blok bergerak secara horizontal satu sama lain.

"Hal ini sejalan dengan pergerakan yang biasanya kita lihat pada patahan Sagaing," ujar Bell.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.