Dark/Light Mode

Korban Tewas Gempa Tembus 2.000

Myanmar Kibarkan Bendera Setengah Tiang Hingga 6 April

Selasa, 1 April 2025 10:55 WIB
Korban gempa dahsyat Myanmar tinggal di tenda karena rumah mereka telah rata dengan tanah. (Foto: FB/Myanmar Red Cross Society)
Korban gempa dahsyat Myanmar tinggal di tenda karena rumah mereka telah rata dengan tanah. (Foto: FB/Myanmar Red Cross Society)

RM.id  Rakyat Merdeka - Myanmar mengheningkan cipta selama satu menit pada Selasa (1/4/2025), untuk mengenang korban tewas akibat gempa dahsyat yang jumlahnya telah melebihi 2.000 orang. Sementara harapan untuk menemukan lebih banyak korban selamat di antara reruntuhan bangunan semakin menipis.

“Bendera nasional akan dikibarkan setengah tiang hingga 6 April 2025, sebagai bentuk simpati atas hilangnya nyawa dan kerusakan akibat gempa besar berkekuatan 7,7 skala Richter pada Jumat (30/3/2025),” demikian pernyataan junta berkuasa, seperti dikutip AFP.

Pengumuman ini disampaikan di tengah menurunnya tempo dan urgensi upaya penyelamatan di Mandalay, salah satu kota yang terdampak paling parah dan merupakan kota terbesar kedua di Myanmar yang berpenduduk lebih dari 1,7 juta jiwa.

"Situasinya sangat buruk. Sulit untuk mengungkapkan apa yang sedang terjadi," kata Aung Myint Hussein, kepala pengurus masjid Sajja Utara di Mandalay.

Orang-orang tampak berkemah di jalan-jalan di seluruh Mandalay, karena tidak dapat kembali ke rumah-rumah yang telah hancur lebur. Mereka khawatir dengan gempa susulan yang berulang kali mengguncang kota tersebut selama akhir pekan.

Baca juga : Korban Tewas Gempa Dahsyat Myanmar Kini Tembus 1.644, Korban Luka 3.408

Di tengah jalan, anak-anak kecil tidur di atas hamparan selimut. Mereka berusaha menjauh dari bangunan, karena takut terkena runtuhan.

Senin (31/3/2025), Junta mengumumkan jumlah korban tewas telah meningkat menjadi 2.056, dengan lebih dari 3.900 orang terluka dan 270 orang masih hilang. Lima warga asing: tiga China dan dua Prancis dilaporkan masuk dalam daftar korban tewas.

Di Ibu Kota Thailand, Bangkok yang berjarak ratusan kilometer dari pusat gempa Myanmar, sedikitnya 19 orang ditemukan tewas di tengah reruntuhan gedung berlantai 30 yang pembangunannya belum selesai.

Para penggali terus membersihkan tumpukan besar puing-puing di lokasi tersebut. Sedikitnya 75 orang masih belum ditemukan di antara reruntuhan bangunan itu.

Pejabat setempat mengaku belum putus asa untuk menemukan lebih banyak korban selamat.

Baca juga : Innalillahi, Korban Tewas Gempa Myanmar Tembus 1.000 Orang, 2.300 Terluka

Di Mandalay, rumah sakit umum yang memiliki kapasitas 1.000 tempat tidur, merawat ratusan pasien di luar. Pasien berbaring di brankar di tempat parkir mobil rumah sakit. Mayoritas hanya menggunakan terpal tipis untuk melindungi diri dari sengatan terik matahari tropis.

Para kerabat berusaha semaksimal mungkin menghibur mereka, berpegangan tangan, atau cari angin dengan kipas bambu. 

Panas yang menyengat, membuat petugas penyelamat kelelahan dan mempercepat pembusukan tubuh, sehingga mempersulit identifikasi. Restoran dan pedagang kaki lima dilaporkan telah kembali beroperasi.

Ratusan umat Muslim berkumpul di luar masjid yang hancur di Mandalay, untuk melaksanakan salat Idul Fitri pertama,

Krisis Kemanusiaan

Myanmar, negara Asia Tenggara yang berpenduduk lebih dari 50 juta jiwa, menghadapi tantangan yang sangat besar. Bahkan, sebelum gempa bumi terjadi.

Baca juga : Korban Tewas Gempa Myanmar Kini Tembus 694, Korban Luka 1.670 Orang

Selama empat tahun terakhir sejak 2021, Myanmar telah dihadapkan pada perang saudara, yang mengakibatkan ekonomi negara tersebut hancur. Layanan kesehatan dan infrastrukturnya rusak parah.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan gempa dahsyat Myanmar sebagai keadaan darurat tingkat tinggi. Myanmar diperkirakan memerlukan bantuan sebesar 8 juta dolar Amerika Serikat (AS) untuk menyelamatkan nyawa dan mencegah wabah penyakit selama 30 hari ke depan.

Terkait hal tersebut, Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah telah mengajukan permohonan bantuan lebih dari 100 juta dolar AS untuk membantu korban dahsyat gempa Myanmar.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.