Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
WTO Minta Uni Eropa Sesuaikan Kebijakan Terkait Sawit
Selasa, 25 Februari 2025 21:56 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Uni Eropa diminta menyesuaikan kebijakannya agar sejalan dengan perjanjian Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) terkait sawit. Demikian laporan akhir sengketa dagang antara Indonesia dan Uni Eropa (EU) terkait kebijakan Minyak Sawit dan Biofuel Berbahan Baku Kelapa Sawit (DS593: Indonesia-Palm Oil).
Menurut keterangan Perwakilan Tetap Republik Indonesia (PTRI) Jenewa, Swiss, laporan yang diadopsi pertemuan reguler Badan Penyelesaian Sengketa (DSB) WTO telah dipublikasikan pada 20 Januari 2025.
Dalam laporannya, Panel WTO menyatakan, EU telah melakukan diskriminasi dengan menerapkan kebijakan perdagangan yang merugikan biofuel berbahan baku kelapa sawit dari Indonesia. Dibandingkan dengan produk serupa yang diproduksi EU seperti rapeseed dan bunga matahari.
Selain itu, Panel menilai EU gagal meninjau data yang digunakan untuk menentukan biofuel dengan kategori alih fungsi lahan kelapa sawit berisiko tinggi (high ILUC-risk). Serta terdapat kekurangan dalam penyusunan dan penerapan kriteria dan prosedur sertifikasi low ILUC-risk dalam Renewable Energy Directive (RED) II.
Baca juga : PTPN Group Komit Wujudkan Keberlanjutan Industri Sawit
Dengan demikian, EU diwajibkan menyesuaikan kebijakan di dalam Delegated Regulation yang dipandang Panel melanggar aturan WTO.
“Merujuk rekomendasi Panel, maka Uni Eropa perlu menyesuaikan kebijakannya agar sejalan dengan perjanjian WTO, prediktabilitas dan praktik perdagangan yang adil dalam sistem perdagangan multilateral telah ditegakkan. Oleh karena itu, Indonesia mengusulkan kepada DSB agar Laporan Panel diadopsi,” ujar Deputi Wakil Tetap RI II untuk PBB, WTO, dan Organisasi Internasional Lainnya, di Jenewa, Swiss Duta Besar Nur Rachman Setyoko.
Baca juga : Ramadan, Fraksi PKS Minta BPOM Pastikan Keamanan & Kualitas Pangan
Sepanjang proses panel, Indonesia telah menyampaikan sejumlah klaim dan bukti kuat untuk mendukung argumen bahwa langkah-langkah EU tidak konsisten dengan perjanjian WTO.
Indonesia berhasil menunjukkan bahwa alasan EU tentang perubahan iklim, keanekaragaman hayati, dan melindungi moral tidak ada kaitan dengan kebijakan yang diambil terhadap minyak dan biodiesel berbahan baku kelapa sawit.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya