Dark/Light Mode

Di Antara Perang Dagang Dua Raksasa: Asia Pasifik Jangan Lagi Jadi Penonton

Jumat, 11 April 2025 21:18 WIB
Ilustarasi perang dagang Amerika Serikat dan China (Gambar: Istimewa)
Ilustarasi perang dagang Amerika Serikat dan China (Gambar: Istimewa)

April 2025 menjadi saksi kembali panasnya tensi ekonomi global. Pemerintah Amerika Serikat (AS) menaikkan tarif impor hingga 60 persen terhadap produk kendaraan listrik dan semikonduktor dari China. Langkah ini bukan hanya dilatarbelakangi oleh proteksionisme, tetapi juga oleh kekhawatiran atas dominasi teknologi tinggi negeri panda tersebut. Tak butuh waktu lama, Beijing merespons dengan ancaman tarif balasan terhadap produk pertanian dan energi asal AS. Dalam duel ekonomi dua kekuatan raksasa ini, Asia Pasifik tidak lagi sekadar penonton.

Efek domino dari perang tarif ini langsung terasa di kawasan Asia. Negara seperti Vietnam, Indonesia, dan Thailand mulai dibanjiri tawaran relokasi industri dari pabrikan China yang ingin menghindari tarif AS. Namun, di sisi lain, negara seperti Jepang dan Korea Selatan menghadapi dilema berat: ekspor teknologi mereka tersangkut di tengah sanksi silang dua adidaya. Rantai pasok global terganggu, pasar goyah, dan Asia Pasifik menjadi medan tarik-ulur kebijakan dagang yang makin agresif.

Netralitas yang Tak Lagi Relevan?

Selama ini, banyak negara Asia memilih berdiri di garis netral dalam konflik geopolitik global. Tapi, dinamika 2025 menantang posisi itu. Friendshoring dan decoupling ekonomi memaksa negara-negara Asia untuk menyusun ulang strategi aliansi dan orientasi dagangnya. Saat Washington menggaungkan Indo-Pacific Economic Framework (IPEF), Beijing membalas dengan jalur investasi alternatif melalui Belt and Road Initiative. Di tengah semua itu, ASEAN terlihat gamang, berusaha menjaga keseimbangan tanpa kekuatan penuh untuk memengaruhinya.

Asia Pasifik bukan lagi pinggiran dari konflik global. Namun sayangnya, suara kawasan ini belum terdengar nyaring. Tidak ada konsensus kawasan dalam menghadapi perang tarif AS-China. Alih-alih bersatu, banyak negara justru berlomba-lomba mengambil keuntungan jangka pendek dari perpecahan dua kekuatan. Ini saat yang tepat bagi Asia untuk menggagas forum bersama yang membahas strategi kolektif menghadapi tekanan eksternal,baik dalam bentuk tarif, teknologi, maupun geopolitik. 

Pilih Peran, Bukan Sekadar Posisi

Jika Asia terus berdiri di tengah tanpa menentukan sikap strategis, kawasan ini akan terus menjadi ajang perebutan, bukan pengendali arah. Perang tarif hanyalah salah satu bentuk dari babak panjang rivalitas ekonomi global. Tapi. nasib Asia tidak harus ditentukan oleh pilihan Washington atau Beijing, melainkan oleh kemauan kawasan ini untuk menyusun narasi sendiri dalam peta perdagangan dunia.

Alexander Nicholas Ressflor Nunumete
Alexander Nicholas Ressflor Nunumete
Mahasiswa Hubungan Internasional

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.