Dark/Light Mode

Israel Gencar Halangi Prancis Akui Negara Palestina

Netanyahu Telepon Macron Bahas Hamas

Kamis, 17 April 2025 04:05 WIB
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) dan Presiden Prancis Emmanuel Macron. 
(Foto Tangkapan Layar Times of Israel)
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) dan Presiden Prancis Emmanuel Macron. (Foto Tangkapan Layar Times of Israel)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu berupaya menghalangi Prancis mendukung pembentukan negara Palestina. Sementara, Presiden Prancis Emmanuel Macron berharap pengakuannya itu dapat mendorong solusi dua negara dan mengakhiri penderitaan warga sipil di Jalur Gaza.

Netanyahu menyampaikan kekhawatirannya itu kepada Macron ketika keduanya ngobrol melalui telepon, Selasa (15/4/2925).

“Dalam percakapan itu, Netanyahu menyampaikan kepada Macron soal sikapnya yang menentang keras pembentukan negara Palestina. Dia menyatakan hal itu akan menjadi hadiah besar bagi terorisme,” begitu isi pernyataan pers Kantor PM Israel seperti dilansir Al Arabiya, Rabu (16/4/2025).

Menurut Kantor PM Israel, Netanyahu mengatakan kepada Macron bahwa negara Palestina yang didirikan hanya beberapa menit dari kota-kota Israel, akan menjadi benteng terorisme Iran dan sebagian besar masyarakat Israel dengan tegas menentang hal ini.

“Hal ini telah menjadi kebijakan yang konsisten dan sudah berlangsung sejak lama,” jelas pernyataan itu.

Baca juga : Pertamina Gas Salurkan Bantuan Kemanusiaan ke Palestina di Tengah Krisis

Namun, Macron menegaskan, cobaan berat yang dialami penduduk sipil Gaza harus diakhiri. Dia juga menyerukan pembukaan semua perlintasan perbatasan untuk masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.

Macron mengatakan kepada Netanyahu, hanya gencatan senjata dalam perang melawan Hamas (faksi Palestina yang menjalankan Pemerintahan di Gaza) yang akan membebaskan para sandera yang masih ditahan di Jalur Gaza.

Israel memutus akses bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza sejak 2 Maret lalu untuk menekan Hamas.

Seruan itu disampaikan setelah komentar Macron pekan lalu yang menyebut Prancis akan mengakui negara Palestina dalam beberapa bulan ke depan.

Komentar itu menuai gelombang kecaman di Israel. Termasuk dari Netanyahu dan putranya. Ditambah kritikan kelompok sayap kanan di Prancis.

Baca juga : Prancis Bakal Umumkan Dukung Negara Palestina

Macron, pada Senin (14/4), mengungkapkan harapannya agar pengakuan yang diberikan Prancis terhadap negara Palestina akan mendorong negara-negara lain mengikuti.

Sehari sebelum telepon Netanyahu, Macron berbicara juga via telepon dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas. Dia menyatakan dukungan untuk rencana Otoritas Palestina memerintah Gaza pasca perang, jika mengalami reformasi.

“Sangat penting untuk menetapkan kerangka kerja setelah perang. Melucuti senjata dan menyingkirkan Hamas, menetapkan pemerintahan yang kredibel dan mereformasi Otoritas Palestina,” cetus Macron kepada Abbas.

“Hal ini akan memungkinkan kemajuan menuju solusi politik dua negara. Dengan tujuan konferensi perdamaian pada Juni demi perdamaian dan keamanan bagi semuanya,” sebutnya.

Macron berencana mengumumkan pengakuan ini dalam Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) soal Palestina di NewYork, AS, pada Juni 2025. Prancis akan memimpin konferensi internasional itu bersama Arab Saudi.

Baca juga : Palestina Minta Tolong Ke Prabowo

Konferensi tersebut diharapkan menjadi momentum penting untuk menggalang dukungan pengakuan Palestina dari berbagai negara. Jika itu terjadi, Negeri Menara Eiffel itu akan menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB pertama yang mengakui Palestina sebagai negara. 

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.