Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
India vs Pakistan Memanas, Islamabad Siap Lakukan Aksi Balasan
Kamis, 8 Mei 2025 18:20 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Ketegangan antara India dan Pakistan mencapai titik tertinggi setelah serangan di Pahalgam, Kashmir, India pada 22 April 2025. India meluncurkan serangan rudal ke wilayah Pakistan pada 7 Mei 2025. Sementara Pakistan berjanji akan melakukan serangan balasan.
Kuasa Usaha Kedutaan Besar (Kedubes) Pakistan di Jakarta Roshan Lal memberikan pernyataan pers tentang situasi konflik Pakistan dan India, di Kedubes Pakistan, Jakarta, Kamis (8/5/2025). Ia mengutuk serangan di Pahalgam pada 22 April 2025 dan menyampaikan belasungkawa atas kejadian yang menewaskan 26 orang tersebut.
Lal juga menyayangkan serangan tiba-tiba yang dilakukan India baru-baru ini. Lal mengatakan, serangan yang diklaim India untuk menyerang 'kamp teroris' di Pakistan menyebabkan korban jiwa warga sipil. Islamabad siap untuk melancarkan serangan balasan.
Desakan Untuk Berdialog
Di awal konferensi pers, Roshan Lal membeberkan langkah-langkah yang telah dilakukan Pakistan berkaitan kejadian itu. Ia mengatakan bahwa Pakistan juga telah menawarkan investigasi yang netral guna memastikan fakta-faktanya.
"Namun lebih dari dua minggu, India tidak menerima tawaran Pakistan untuk melakukan investigasi yang netral dan tidak memihak terhadap keseluruhan peristiwa tersebut," kata Lal kepada wartawan Indonesia.
Krisis Air Indus dan Eskalasi Konflik
Lal menyoroti tindakan serius India dengan menangguhkan Perjanjian Air Indus (Indus Water Treaty). Perjanjian tahun 1960 ini adalah kesepakatan penting antara India dan Pakistan tentang pengaturan perairan yang menjadi sumber utama bagi kedua negara.
Pakistan menganggap penangguhan perjanjian tersebut sebagai tindakan perang. Sebab air sangat penting bagi ekonomi agraris Pakistan. Roshan Lal menekankan bahwa penangguhan perjanjian ini tidak sah secara hukum internasional.
"Jadi, menangguhkan perjanjian atau mengganggu aliran air bagi 240 juta orang Pakistan tidak dibenarkan," ujarnya.
Baca juga : Klaim Pakistan: 5 Jet Tempur India Ditembak Jatuh Pakai Pesawat Bikinan China
Pada malam hari antara tanggal 6 dan 7 Mei 2025, India melakukan serangan lintas batas di wilayah Pakistan. Roshan Lal mengatakan, India menggunakan serangan jarak jauh untuk menyerang warga sipil.
Serangan tersebut terjadi di seberang perbatasan internasional di Muridke, Sialkot, dan Bahawalpur, serta di seberang Garis Kontrol (Line of Control/LoC) di Kotli dan Muzzafarabad, Azad Jammu dan Kashmir. Pakistan menganggap Jammu dan Kashmir sebagai wilayah yang diduduki secara ilegal oleh India (Indian Illegally Occupied Jammu and Kashmir/IIOJK)
Lal mengutuk serangan tersebut dan menyatakan serangan tersebut sebagai agresi militer melanggar hukum dan tak beralasan. Sebab itu, Pemerintah Pakistan merasa berhak untuk membalas berdasarkan Pasal 51 Piagam PBB yang mengatur hak membela diri jika suatu negara di serang.
"Perang tidak memiliki manfaat bagi siapapun, seperti yang kita lihat di seluruh dunia, apa yang terjadi di Timur Tengah, apa yang terjadi di Eropa," kata Lal.
"Kami memiliki perjanjian, bahwa India dan Pakistan akan menyelesaikan masalah melalui negosiasi damai, melalui usaha diplomasi, termasuk masalah di Kashmir. Tapi India selalu menolak penyelesaian secara damai," lanjutnya.
Pakistan menuduh India terus menyalahgunakan isu terorisme untuk mencoreng perjuangan orang Kashmir, ditambah mempolitisasi air. Di sisi lain, Lal menuding bahwa India juga kerap terlibat dalam berbagai terorisme di Pakistan. Termasuk serangan terhadap kereta Jaffar Express di Balochistan, Pakistan.
Terkait isu penggunaan senjata nuklir dalam konflik ini, Roshan Lal tidak bisa menjawab lebih jauh. Namun ia menegaskan, bahwa Pakistan tetap menyerukan penyelesaian damai melalui negosiasi, termasuk soal Kashmir.
Minta Dukungan Indonesia
Lal juga meminta komunitas internasional serta negara sahabat seperti Indonesia untuk turut mendorong India agar tidak memperburuk situasi.
Baca juga : Lanjutan Sidang Hasto, KPK Hadirkan Kusnadi dan Nur Hasan
"Jelas, Indonesia adalah negara sahabat. Kita punya hubungan yang bersejarah. Indonesia juga telah menjaga hubungan baik dengan India. Jadi, sebagai negara yang bertanggung jawab dan bersaudara, Indonesia jelas dapat memainkan peran," kata Lal.
"Kami (Pakistan) telah mendesak semua negara kita untuk mendesak India agar tidak membawa situasi ke eskalasi. Jadi, sebagai negara yang bersaudara atau negara sahabat bagi India dan Pakistan, jelas, Indonesia dapat memainkan peran," lanjutnya.
India Klaim Serangan Terukur
Pada 7 Mei 2025, Kedutaan Besar India di Indonesia juga telah mengeluarkan pernyataan pers yang berkaitan dengan serangan ke wilayah Pakistan. India mengatakan serangan terhadap warga sipil di Jammu dan Kashmir adalah serangan brutal dan keji.
Negeri Bollywood menilai, ada keterlibatan teroris yang berbasis di Pakistan dalam serangan tersebut. Sementara Pakistan terus-terusan menyangkal dan membuat tuduhan operasi bendera palsu terhadap India.
Pemerintah India mengklaim bahwa serangan ke Pakistan adalah tindakan yang terukur, bertanggung jawab, dan dirancang agar tidak bersifat eskalatif.
"Tidak ada target sipil, ekonomi, atau militer Pakistan yang diserang. Hanya kamp-kamp teroris yang diketahui menjadi sasaran," tulis Kedubes India dalam pernyataannya.
Sekretaris Luar Negeri Kementerian Luar Negeri (Kemlu) India Vikram Misri mengatakan, kelompok yang menamakan dirinya The Resistance Front (TRF) telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan di Pahalgam. Ia menyebut kelompok ini merupakan kedok dari kelompok teroris asal Pakistan yang telah dilarang oleh PBB, yakni Lashkar-e-Taiba.
"Perlu dicatat bahwa India telah memberikan informasi mengenai TRF dalam laporan setengah tahunan kepada Tim Pemantau Komite Sanksi 1267 PBB pada bulan Mei dan November 2024, yang menyoroti peran TRF sebagai kedok bagi kelompok teroris berbasis di Pakistan," ujarnya.
Baca juga : India Vs Pakistan Mendidih, Perang Nuklir Di Depan Mata
India merasa perlu untuk merespons secara militer pada pagi hari tanggal 7 Mei 2025, melalui Operasi Sindoor. Misri mengklaim serangan ini bersifat terukur, tidak eskalatif, dan fokus pada sasaran teroris, bukan terhadap warga sipil atau infrastruktur ekonomi Pakistan.
"Fokusnya adalah untuk menghancurkan infrastruktur teroris dan menetralkan teroris yang diperkirakan akan dikirim ke India," katanya.
Dilansir Channel News Asia (CNA), Islamabad mengatakan 31 warga sipil tewas akibat serangan dan penembakan India di sepanjang perbatasan. Sementara New Delhi melaporkan 12 orang tewas akibat penembakan Pakistan.
Posisi Indonesia Dalam Konflik India Vs Pakistan
Pemerintah Indonesia memberikan respon atas konflik antara Pakistan dan India lewat Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Rabu (7/5/2025). Lewat X, Kemlu menyatakan, Pemerintah Indonesia terus mengamati perkembangan situasi antara India dan Pakistan.
"Indonesia mendorong kedua pihak dapat menahan diri dan mengedepankan dialog dalam menyelesaikan krisis," tulis pernyataan tersebut.
Kemlu juga mengimbau Warga Negara Indonesia (WNI), baik yang ada di India maupun Pakistan untuk tetap waspada. WNI juga diimbau menghindari bepergian ke wilayah terdampak dan tempat-tempat yang mungkin menjadi sasaran konflik.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya