Dark/Light Mode

Trump Tutup Pintu Harvard University Untuk Mahasiswa Asing

Jumat, 23 Mei 2025 15:58 WIB
Suasana wisuda di Harvard University AS. (Foto: dok. Harvard University)
Suasana wisuda di Harvard University AS. (Foto: dok. Harvard University)

 Sebelumnya 
Seperti banyak perguruan tinggi dan universitas lainnya, Harvard menuai kritik tajam pada tahun lalu atas penanganannya terhadap protes dan perkemahan pro-Palestina, pasca dimulainya perang Israel-Hamas. Belum lagi, keluhan dari alumni dan mahasiswa Yahudi tentang antisemitisme di kampus.

Laporan yang dirilis oleh dua gugus tugas Harvard bulan lalu menyimpulkan, baik mahasiswa Yahudi ataupun Muslim mengkhawatirkan keselamatan mereka di tahun akademik 2023-2024.

Mereka memiliki perasaan keterasingan dan sensor akademis yang mendalam di kampus. Mereka menyertakan rekomendasi umum dan perubahan kebijakan sebagai solusi, yang beberapa di antaranya telah dilakukan Harvard.

Harvard juga telah menerapkan beberapa perubahan untuk mematuhi permintaan pemerintahan Trump. Termasuk mengubah nama Kantor Kesetaraan, Keberagaman, Inklusi, dan Keterikatan terhadap Kehidupan Komunitas dan Kampus.

Namun, dalam suratnya kepada Harvard pada Kamis (23/5/2025), Noem menuduh universitas tersebut melestarikan lingkungan kampus yang tidak aman yang memusuhi mahasiswa Yahudi, mempromosikan simpati pro-Hamas, serta menggunakan praktik keberagaman, kesetaraan, dan inklusi yang rasis. Dia tidak menyebutkan mahasiswa Muslim atau Arab.

Pemerintah AS kemudian menampar Harvard dengan tindakan pembalasan yang keras, termasuk membekukan dana federal senilai 2,2 miliar dolar AS. Tak terima diperlakukan begitu, Harvard berjuang di pengadilan.

CNN International mengungkap, Internal Revenue Service juga berencana mencabut status bebas pajak Harvard.

Pemerintahan Trump tampaknya menjadikan Harvard sebagai contoh hukuman yang akan diberlakukan kepada lembaga lain, jika tak mau bekerja sama.

Baca juga : Kisah 4 Mahasiswa President University, Dapat Kerja Hingga Raih Beasiswa di LN

"Ini seharusnya menjadi peringatan bagi setiap universitas lain untuk bertindak lebih baik,” kata Noem di Fox News.

Ketidakpastian

Ribuan mahasiswa internasional berada dalam ketidakpastian, karena meratapi keterikatan mereka dengan universitas yang mereka perjuangkan mati-matian untuk dapat masuk.

"Orang-orang yang bermimpi datang ke Amerika Serikat untuk belajar, menyerap tradisi Amerika, dan memajukan ilmu pengetahuan … kini hidupnya hancur,” kata Larry Summers, Presiden Emeritus di Harvard dan mantan Menteri Keuangan.

Menurutnya, serangan terbaru pemerintahan Trump datang tanpa proses hukum, tanpa indikasi apa pun tentang masalahnya secara spesifik. Sebagian besar konsekuensinya akan jatuh pada orang-orang yang jelas-jelas tidak bersalah.

Jared, seorang pemuda berusia 18 tahun di Selandia Baru, mengaku patah hati ketika tahu bahwa dia tidak dapat memulai pendidikan sarjana Sosiologi di sekolah Ivy League pada musim gugur ini.

Saat mendengar pengumuman itu, Jared sedang dalam proses mengajukan visa pelajar dan bersiap untuk pindah sejauh 9.000 mil ke Boston.

Sekarang, Jared berada dalam ketidakpastian dan mencari sumber daya lain yang mungkin ditawarkan universitas, seperti pembelajaran daring.

"Tidak ada gunanya bagi saya untuk terlalu khawatir dengan sesuatu yang tidak dapat saya kendalikan. Saya hanya fokus melakukan apa yang dapat saya kendalikan,” katanya.

Baca juga : Kulkas 4 Pintu AQUA Berikan Solusi untuk Kebutuhan Dapur Masa Kini

Mahasiswa internasional yang ada di Harvard juga menghadapi masa depan yang tidak pasti. Mahasiswa tingkat tiga dari Austria, Karl Molden yang saat ini bepergian ke luar negeri mengaku takut tidak diizinkan kembali ke kampus. "Mahasiswa internasional saling berkirim pesan dengan gugup," katanya.

“Banyak dari kami yang telah bekerja keras sepanjang hidup untuk masuk ke universitas seperti Harvard, dan sekarang kami harus menunggu dan melihat apakah kami harus pindah dan menghadapi kesulitan dengan masalah visa,” papar Molden.

Mahasiswa tingkat tiga Austria itu mengatakan mahasiswa internasional lain yang telah dihubunginya bertanya-tanya, apakah mereka dapat menyelesaikan magang musim panas. Sementara yang lainnya khawatir tidak mendapatkan bantuan keuangan seperti yang ditawarkan Harvard dari perguruan tinggi lain.

Tidak ada gunanya bagi saya untuk terlalu khawatir dengan sesuatu yang tidak dapat saya kendalikan. Saya hanya fokus melakukan apa yang dapat saya kendalikan,” katanya.

Mahasiswa internasional yang ada di Harvard juga menghadapi masa depan yang tidak pasti. Mahasiswa tingkat tiga Karl Molden, dari Austria, bepergian ke luar negeri dan mengatakan dia takut tidak akan diizinkan kembali ke kampus. Mahasiswa internasional saling berkirim pesan dengan gugup, katanya.

“Banyak dari kami yang telah bekerja keras sepanjang hidup untuk masuk ke universitas seperti Harvard, dan sekarang kami harus menunggu dan melihat apakah kami harus pindah dan menghadapi kesulitan dengan visa,” kata Molden.

Mahasiswa tingkat tiga Austria itu mengatakan mahasiswa internasional lain yang telah dihubunginya bertanya-tanya apakah mereka akan dapat menyelesaikan magang musim panas. Sementara yang lainnya khawatir tidak mendapatkan bantuan keuangan yang sama besarnya seperti yang ditawarkan Harvard.

Beberapa staf Harvard khawatir, eliminasi mahasiswa asing akan melemahkan kekuatan akademis institusi tersebut. Bahkan mungkin, akademisi Amerika secara keseluruhan.

Baca juga : 5 Rekomendasi Strategis Pakar BINUS University untuk Ketangguhan Pelabuhan

Profesor Ekonomi Harvard dan mantan pejabat pemerintahan Obama Jason Furman menyebut tindakan tersebut mengerikan di semua level.

"Tidak mungkin membayangkan Harvard tanpa mahasiswa internasional kami yang luar biasa. Mereka adalah benefit besar bagi semua orang di sini, juga bagi inovasi dan Amerika Serikat secara lebih luas," papar Furman.

"Pendidikan tinggi adalah salah satu ekspor besar Amerika dan sumber utama soft skill kami. Saya berharap, kebijakan ini segera dihentikan dengan cepat sebelum kerusakannya bertambah parah," imbuhnya.

Profesor lain yang memahami situasi tersebut khawatir, banyak laboratorium yang akan kosong setelah kebijakan tersebut diberlakukan.

Duta Besar (Dubes) Australia untuk AS, Kevin Rudd menilai langkah tersebut akan sangat menyusahkan banyak mahasiswa Australia di Harvard. Dia menawarkan nasihat konsuler sembari memantau situasi dengan seksama.

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.