Dark/Light Mode

Propaganda Dan Disinformasi Seliweran Di Media Sosial

Perang India-Pakistan Lanjut Ke Ranah Digital

Selasa, 3 Juni 2025 06:20 WIB
Pagar di sepanjang Garis Kontrol antara India dan Pakistan digambarkan dalam sebuah tur yang diselenggarakan Angkatan Darat India untuk para jurnalis yang berkunjung ke utara Kashmir India, pada tanggal 19 Mei 2025. (Foto: Foto: REUTERS/SHARAFAT).
Pagar di sepanjang Garis Kontrol antara India dan Pakistan digambarkan dalam sebuah tur yang diselenggarakan Angkatan Darat India untuk para jurnalis yang berkunjung ke utara Kashmir India, pada tanggal 19 Mei 2025. (Foto: Foto: REUTERS/SHARAFAT).

RM.id  Rakyat Merdeka - Saat ketegangan mulai berkurang usai saling tembak pada awal Mei 2025, India dan Pakistan malah melakukan perang lain di ranah digital.

Kepolisian India menangkap sejumlah warga negaranya yang ketahuan bersikap ramah dan bersahabat dengan Pakistan. Dilansir Channel News Asia, Senin (2/6/2025), kepolisian di wilayah bagian utara In­dia, Assam, mengamankan 81 orang yang bersimpati dengan Pakistan.

“Mereka masuk ke dalam kelompok anti-nasionalis yang mendukung Pakistan. Sistem keamanan kami terus menyeli­diki pergerakan kelompok ini lewat media sosial mereka,” kata Menteri Utama Assam Himanta Biswa Sarma, Minggu (1/6/2025).

Konflik India dan Pakistan kini berlanjut dengan misinfor­masi, propaganda dan penyen­soran di media sosial. Situasi ini menciptakan kebingungan publik terkait siapa yang memu­tarbalikkan fakta dan versi peris­tiwa mana yang harus dipercaya.

Baca juga : Stephanie Poetri, Nikah Dengan Aspri, Pakai Dress Simpel

India dan Pakistan makin ketat mengawasi postingan media sosial warganya pasca serangan pada 22 April 2025 terhadap wisatawan di Kashmir yang dikelola India.

Para ahli memperingatkan bahwa platform digital kini telah berubah menjadi medan perang informasi. Propaganda berbasis kecerdasan buatan atau AI (Arti­ficial Intelligence), disinformasi yang terorganisir dan penyen­soran ekstrem, telah menjadi senjata baru yang mengancam kebenaran, stabilitas dan per­damaian regional, terutama di Asia Selatan.

Menurut Direktur Media Mat­ters for Democracy Asad Baig, banyak media penyiaran, terutama di India, menyebarkan in­formasi palsu, gambar rekayasa dan narasi sensasional demi mengejar keterlibatan digital.

Disinformasi sebagian besar datang dari pihak India,” ujar Baig kepada Arab News pada 29 Mei 2025.

Baca juga : Mau Bikin Negara Yahudi, Tabrak Bus Jemaah Haji di Tepi Barat: Israel Dikutuk Dunia

Media, lanjutnya, berubah menjadi alat propaganda, meng­utamakan sensasi dan monetisasi daripada integritas informasi.

Seorang aktivis hak digital di India Usama Khilji mengkritik media yang gagal memverifikasi informasi secara independen.

Dia menegaskan, pentingnya memanfaatkan alat seperti citra satelit dan sumber lapangan un­tuk mengecek klaim yang dibuat oleh negara.

Platform X yang telah diblokir Pemerintah Pakistan sejak Feb­ruari 2024, tiba-tiba dipulihkan pada 7 Mei 2025 saat Pakistan merespons serangan rudal India.

Baca juga : Menag Ucapkan Syukur: Persoalan Haji Terurai Dengan Baik

Pemulihan akses ini disebut sebagai strategi agar narasi Pakistan tetap terdengar oleh dunia internasional.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.