Dark/Light Mode

Mulai Hari Ini, Impor Baja Dan Aluminium Ke AS Kena Getok Tarif 50 Persen

Rabu, 4 Juni 2025 12:24 WIB
Ilustrasi roll aluminium (Foto: Pexels)
Ilustrasi roll aluminium (Foto: Pexels)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah menandatangani perintah penggandaan tarif impor baja dan aluminium, dari 25 persen menjadi 50 persen. 

Langkah ini menaikkan pajak impor logam yang merupakan bahan utama industri, mulai dari mobil hingga makanan kaleng, untuk kedua kedua kalinya sejak Maret 2025.

Kebijakan yang berlaku efektif pada Rabu (4/6/2025) itu dimaksudkan untuk mengamankan masa depan industri baja Amerika.

Namun, para kritikus menilai, langkah tersebut dapat mendatangkan malapetaka bagi produsen baja di luar AS, memicu pembalasan dari mitra dagang, dan menimbulkan kerugian besar bagi pengguna logam tersebut di Amerika.

Beberapa jam sebelum Trump menaikkan bea masuk, banyak perusahaan yang terdampak langsung tidak percaya rencana itu akan terus berlanjut.

Baca juga : Hari Ini, Jaksa Kejagung Bacakan Tuntutan untuk Zarof Ricar

Mereka berharap, kebijakan itu hanya sementara atau semacam taktik negosiasi belaka.

Saat Trump terus melaju dengan kesepakatan itu, Inggris mendapat pengecualian. Bea masuk Inggris untuk baja dan aluminiumnya tetap sebesar 25 persen.

Trump bilang, langkah tersebut merupakan cermin diskusi perdagangan Inggris-AS yang saat ini sedang berlangsung.

"Pertanyaan yang selalu muncul dengan Trump adalah, apakah ini taktik atau rencana jangka panjang?" kata Rick Huether, Kepala Eksekutif Independent Can Co, entitas bisnis di Maryland, yang mendatangkan baja dari Eropa dan mengubahnya menjadi kaleng kue hias, kotak popcorn, dan aneka produk lainnya.

Huether yang mengaku telah menunda investasi dan mengkhawatirkan perubahan mendadak, meyakini kenaikan harga akan membuat pelanggannya beralih ke alternatif seperti kotak plastik atau kertas. "Akan ada banyak kekacauan," katanya.

Baca juga : Kemarin Turun, Hari Ini Harga Emas Antam Naik Rp 4.000 Per Gram

Data pemerintah AS yang dilansir BBC menyebut, Negeri Paman Sam adalah importir baja terbesar di dunia setelah Uni Eropa, yang memperoleh sebagian besar logam dari Kanada, Brasil, Meksiko, dan Korea Selatan.

Dalam masa jabatan pertamanya, Trump menetapkan tarif 25 persen untuk baja dan 10 persen untuk aluminium, dengan mengutip undang-undang yang memberinya wewenang untuk melindungi industri yang dianggap vital bagi keamanan nasional.

Tetapi faktanya, banyak impor yang akhirnya terhindar dari bea masuk, setelah AS membuat kesepakatan dagang dengan sekutu dan memberikan pengecualian untuk impor tertentu atas permintaan perusahaan.

Trump kemudian mengakhiri pengecualian tersebut pada Maret 2025. Dia mengaku tidak senang dengan proteksi yang dilemahkan.

Dalam rapat umum di pabrik baja AS pada Jumat (30/5/2025), Trump mengungkapkan keinginannya untuk melejitkan tarif. Sehingga, bisnis AS tidak punya pilihan lain selain membeli dari pemasok Amerika.

Baca juga : AS-China Ketemuan Di Jenewa, Trump Bakal Pangkas Tarif Hingga 80 Persen?

"Tidak akan ada yang bisa melewatinya," kata Trump tentang tingkat 50 persen.

"Itu artinya, tidak akan ada yang bisa mencuri industri Anda. Pada tingkat 25 persen, mereka mungkin saja bisa melewati pagar itu. Tapi pada tingkat 50 persen, tak ada lagi yang bisa melewati pagar," bebernya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.