Dark/Light Mode

Isu Geopolitik Tak Disinggung

Trump Teleponan 1,5 Jam Dengan Presiden China, Fokus Ngobrol Soal Perdagangan

Jumat, 6 Juni 2025 07:42 WIB
Presiden AS Donald Trump (kiri) dan Presiden China Xi Jinping (Foto: Kolase/Instagram)
Presiden AS Donald Trump (kiri) dan Presiden China Xi Jinping (Foto: Kolase/Instagram)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Donald Trump memastikan, ketegangan hubungan perdagangan antara AS dan China dapat segera diselesaikan. Hal tersebut disampaikan Trump usai pembicaraan telepon berdurasi 90 menit dengan Presiden China Xi Jinping, Kamis (5/6/2025).

Lewat postingan media sosialnya, Trump mengatakan, tim ekonominya akan segera mengatur pembicaraan lanjutan. Trump juga mengungkap, dia dan Xi telah saling mengundang untuk mengunjungi negara masing-masing.

Menurut Trump, pembicaraan telepon tersebut hampir sepenuhnya berfokus pada perdagangan, tanpa menyentuh isu geopolitik lain seperti Iran dan Ukraina.

"Pembicaraan telepon tersebut menghasilkan kesimpulan yang sangat positif bagi kedua negara," tulis Trump via Truth Social.

Pembicaraan telepon Trump-Xi terjadi setelah periode keheningan yang panjang antara kedua pemimpin. Serta perbedaan dalam cara menyikapi masing-masing. Baik dalam pembicaraan ataupun diam. 

Dalam pembicaraan telepon tersebut, Xi meminta AS dan China mencari hasil yang saling menguntungkan dalam semangat kesetaraan dan menghormati kepentingan masing-masing.

"Washington harus menghapus tindakan negatif yang diambil terhadap China," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri China, Kamis (5/6/2025).

"Mengkalibrasi ulang arah hubungan China-AS mengharuskan kita untuk mengambil alih kendali dan menetapkan arah yang benar," kata Xi kepada mitranya dari AS.

Baca juga : Pertemuan Pertama, Trump Terkesan dengan Presiden Suriah Sang Eks Al Qaeda

Ketegangan antara AS dan China meningkat dalam beberapa minggu, setelah kedua pihak menyetujui gencatan senjata perdagangan selama 90 hari pada bulan lalu. Ini menghentikan eskalasi tarif balasan mereka untuk sementara.

Pekan lalu, Trump menuduh China melanggar perjanjian tersebut. Namun, tuduhan ini dibantah Beijing. Mereka bahkan menuduh AS mengambil langkah-langkah yang secara serius merusak konsensus tersebut.

Dalam pernyataannya setelah panggilan telepon tersebut, Trump secara khusus menyoroti isu mineral tanah jarang, yang telah dibatasi China. Isu ini menjadi wilayah kemajuan hubungan AS-China.

"Seharusnya, tidak ada lagi pertanyaan mengenai kompleksitas produk tanah jarang," ujar Trump.

Presiden ke-47 AS itu mengatakan, pertemuan antara tim ekonomi kedua negara akan terjadi segera di lokasi yang akan ditentukan.

“Selama percakapan, Presiden Xi dengan ramah mengundang Ibu Negara dan saya untuk mengunjungi China. Saya pun membalasnya. Sebagai Presiden dua negara besar, ini adalah sesuatu yang kami harapkan untuk dilakukan,” beber Trump.

Konsensus Jenewa

Dalam beberapa hari terakhir, pejabat AS telah memberi isyarat bahwa panggilan telepon antara kedua pemimpin dapat membantu mempercepat kemajuan dalam perundingan perdagangan mendatang, yang tampaknya terhenti setelah gencatan senjata awal dicapai di Jenewa.

Dalam panggilan telepon Kamis (5/6/2025), Xi meminta kedua belah pihak untuk menepati konsensus Jenewa. Xi menegaskan, China sungguh-sungguh dan serius melaksanakan perjanjian tersebut.

Baca juga : PM Malaysia Teleponan Dengan Presiden Prabowo, Apa Yang Diomongin?

"Pihak AS harus mengakui kemajuan yang telah dibuat, dan menghapus tindakan negatif yang diambil terhadap China," tuturnya.

Xi berpendapat, kedua pihak perlu memanfaatkan mekanisme konsultasi ekonomi dan perdagangan yang sudah ada. Di samping mencari hasil yang saling menguntungkan dalam semangat kesetaraan dan rasa hormat terhadap kepentingan masing-masing.

“Pihak China tulus tentang hal ini, dan pada saat yang sama memiliki prinsip-prinsipnya sendiri," cetus Xi.

Soal Taiwan

Xi meminta AS untuk menangani masalah Taiwan dengan bijaksana. Dia tak ingin, “separatis kemerdekaan Taiwan" menyeret China dan Amerika ke medan konfrontasi. Bahkan, konflik yang berbahaya.

CNN International menyebut, Partai Komunis China yang berkuasa memandang demokrasi Taiwan yang memerintah sendiri sebagai wilayahnya, meski tidak pernah mengendalikannya.

Xi menyambut Trump untuk mengunjungi China. Xi ingin kedua pihak terus melaksanakan perjanjian Jenewa dan mengadakan pertemuan lagi sesegera mungkin.

Xi dan Trump terakhir kali berbicara pada 17 Januari 2025, beberapa hari sebelum pelantikan Trump. Saat ini, kedua pemimpin negara ekonomi terbesar dunia itu tengah menjalani hubungan yang retak, dengan titik pertikaian yang melampau ketidakseimbangan perdagangan yang menganga lebar. 

Ketegangan terkini

Setelah perundingan Jenewa bulan lalu, pejabat AS memperkirakan China akan melonggarkan pembatasan ekspor mineral tanah jarang, yang telah diberlakukan pada April 2025 sebagai balasan terhadap tarif "timbal balik" Trump atas barang-barang China.

Baca juga : Trump Tunda Tarif Impor Baru Hingga 90 Hari, China Digetok 125 Persen

Mineral tersebut merupakan bagian penting dari berbagai hal, mulai dari iPhone dan kendaraan listrik hingga senjata mahal seperti jet tempur F-35 dan sistem rudal.

Namun, hingga saat ini, pembatasan tersebut belum dicabut. Ini menyebabkan ketidaksenangan yang besar di dalam pemerintahan Trump, hingga mendorong serangkaian tindakan baru-baru ini yang diberlakukan terhadap China.

Di lain pihak, Beijing berang ketika Washington memperingatkan perusahaan-perusahaan, agar tidak menggunakan chip AI yang diproduksi juara teknologi nasional China: Huawei.

AS terus bergerak untuk membatasi penjualan teknologi penting ke China, dan memastikan pihaknya akan secara agresif mencabut visa mahasiswa China di AS, yang memiliki hubungan dengan Partai Komunis China atau belajar di bidang-bidang penting.

Melansir CNN International, menjelang panggilan telepon pada Kamis (5/6/2025), China sempat menunda panggilan tersebut. Lantaran mewaspadai ketidakpastian Trump dan rekam jejaknya dalam menempatkan para pemimpin asing dalam situasi yang canggung atau memalukan.

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.