Dark/Light Mode

Iran Ancam Tutup Selat Hormuz, Dunia Cemas Harga Minyak Edan-edanan

Selasa, 24 Juni 2025 07:05 WIB
Selat Hormuz. (Foto: Google Map)
Selat Hormuz. (Foto: Google Map)

RM.id  Rakyat Merdeka - Keputusan Amerika Serikat (AS) bantu Israel menyerang Iran berbuntut panjang. Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan minyak dari Timur Tengah. Jika selat tersebut ditutup, dunia cemas harga minyak akan meroket tajam.

Anggota parlemen senior Iran, Esmaeil Kowsari mengatakan, Majelis Parlemen Iran sepakat menutup jalur utama perdagangan energi global sebagai tanggapan atas agresi AS dan Israel. Keputusan akhir berada di tangan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.

"Parlemen telah sampai pada kesimpulan bahwa mereka harus menutup Selat Hormuz," kata Kowsari dikutip dari Press TV, Senin (23/6/2025).

Ketika ditanya apakah Iran akan menutup jalur air tersebut, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menjawab, "Berbagai pilihan tersedia bagi Iran," tegasnya.

Berdasarkan data Badan Informasi Energi tahun 2024, selat yang terletak di antara Oman dan Iran itu, merupakan rute ekspor utama bagi produsen minyak di Teluk Persia, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Irak, dan Kuwait. Sekitar 20 persen minyak harian dunia, atau 20 juta barel, melewati Selat Hormuz.

Jika Iran jadi menutup Selat Hormuz, harga minyak dunia bakal meroket tajam. Goldman Sachs dan firma konsultan Rapidan Energy memprediksi, harga minyak akan melonjak ke posisi 100 dolar AS lebih per barel.

Baca juga : Cemas Iran Tutup Selat Hormuz, Menlu AS Mohon Bantuan China

Mendengar ancaman Iran itu, AS ketar-ketir. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio meminta bantuan China untuk berbicara dengan Iran supaya tidak menutup selat tersebut. 

"Saya mendorong Pemerintah China di Beijing untuk menghubungi Iran mengenai hal itu," ujar Rubio dalam sebuah wawancara di Fox News, Senin (23/6/2025).

Meski cemas, Rubio tetap berdalih bahwa penutupan Selat Hormuz akan menjadi aksi bunuh diri bagi ekonomi Iran. Mengingat, pendapatan terbesar Negara Islam tersebut berasal dari sektor minyak.

Bukan hanya bagi Iran, penutupan Selat Hormuz juga menjadi malapetaka bagi ekonomi dunia. "Menurut saya, itu akan menjadi eskalasi besar-besaran yang akan membutuhkan respons, tidak hanya dari kita, tetapi juga dari negara lain," pesan Rubio.

Menanggapi permintaan AS tersebut, China meminta kepada seluruh pihak yang bertikai untuk menurunkan ketegangan. Pasalnya, perang yang terus berlangsung dapat memukul ekonomi dunia.

"China mendesak pihak-pihak yang berkonflik untuk mencegah situasi meningkat berulang kali, dengan tegas menghindari limpahan perang, dan kembali ke jalur penyelesaian politik," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menukil AFP, Senin (23/6/2025).

Baca juga : Indonesia, Selat Hormuz Dan Perang Israel-Iran

Apakah Iran akan nekat menutup Selat Hormuz? Analis minyak dari Kpler, Matt Smith tidak yakin negeri Iran akan melakukannya. Pasalnya, Iran sebagai negara terbesar ketiga penghasil minyak di Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak atau biasa disebut OPEC. Iran menghasilkan 3,3 juta barel per hari, dan 1,84 juta barel diekspor.

"Menutup selat itu akan menghentikan aliran ekspor minyak mentah Iran ke China, menghentikan aliran pendapatan utama," kata Smith.

Sementara, mantan Kepala Badan Intelijen Inggris MI6, Sir Alex Younger mengatakan, jika Iran menutup Selat Hormuz, ekonomi global diguncang ketidakpastian. "Menutup selat jelas akan menjadi masalah ekonomi yang luar biasa. Mengingat, dampaknya terhadap harga minyak," katanya dikutip dari BBC, Senin (23/6/2025).

Lalu, apa persiapan Pemerintah Indonesia menghadapi dampak penutupan Selat Hormuz? Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Tri Winarno mengatakan, Pemerintah masih memantau rencana penutupan Selat Hormuz oleh Iran.

"Masih potensi ya, sedang kita kalkulasi potensinya seperti apa," katanya saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Senin (23/6/2025).

Tri mengakui, sebagian impor minyak mentah Indonesia berasal dari Arab yang melewati Selat Hormuz. Meski begitu, belum ada rencana untuk mengalihkan rute distribusi minyak dari Selat Hormuz.

Baca juga : Israel Tutup Seluruh Kedutaan Pasca Bombardir Iran, Imbau Warganya Waspada

Sementara, Vice President Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso menyebut, pihaknya telah menyiapkan sejumlah rute alternatif untuk menjamin kelangsungan rantai pasok minyak mentah. "Pertamina telah mengantisipasi hal tersebut dengan mengamankan kapal kita, mengalihkan rute kapal ke jalur aman antara lain melalui Oman dan India untuk menjaga keberlangsungan rantai pasok," kata Fadjar di Jakarta, Senin (23/6/2025).

Dia mengakui, penutupan Selat Hormuz akan berdampak serius pada distribusi minyak mentah global. Untungnya, saat ini pasokan minyak yang dikuasai Pertamina masih terkendali. 

Sementara, Anggota Komisi XI DPR Bertu Merlas meminta, Pemerintah mengantisipasi harga minyak yang bakal edan-edanan. Sebab efeknya akan terasa pada anggaran subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM).

Bertu menilai penutupan Selat Hormuz akan menjadi ancaman serius. Jika benar ditutup, gejolak ekonomi global tak bisa dihindarkan. Efek dominonya bisa sampai ke Indonesia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.