Dark/Light Mode

Serang Iran

AS Siram Bensin Ke Api

Selasa, 24 Juni 2025 05:57 WIB
Dubes China untuk PBB Fu Cong dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB di New York, Amerika Serikat, Minggu (22/6/202). (Foto CCTV)
Dubes China untuk PBB Fu Cong dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB di New York, Amerika Serikat, Minggu (22/6/202). (Foto CCTV)

RM.id  Rakyat Merdeka - Rencana Iran menutup Selat Hormuz, untuk membalas serangan Amerika Serikat (AS) membuat banyak negara ketar-ketir. Sebab, dampak penutupan Selat Hormuz akan membuat perekonomian global terpuruk. Menyikapi itu, Negeri Paman Sam mendorong China melobi Negeri Mullah agar tak melaksanakannya.

Parlemen Iran sepakat menutup selat sempit jalur laut andalan dalam perdagangan minyak dan gas dunia itu. Keputusan tersebut ditelurkan, Minggu (22/6/2025), setelah AS melancarkan serangan ke fasilitas nuklir Iran, sehari sebelumnya. Sontak wacana tersebut menjadi sorotan karena strategisnya keberadaan Selat Hormuz.

Baca juga : Perang Iran Vs Israel Dan Subsidi BBM

Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Selat Hormuz sangat strategis, karena tidak hanya menyangkut keamanan regional, tapi juga ekonomi global. Selat Hormuz telah menjadi rute pelayaran vital yang menghubungkan produsen minyak Timur Tengah ke pasar Asia, Eropa, Amerika Utara, dan sekitarnya. Belasan juta barel minyak mentah yang diangkut kapal tanker melintasi Selat Hormuz setiap harinya.

Selain minyak, Selat Hormuz juga merupakan rute yang digunakan untuk hampir semua gas alam cair (LNG) yang diproduksi eksportir LNG terbesar di dunia, Qatar. Menurut situs Maritime Executiver, Qatar mengekspor 3,7 miliar kaki kubik LNG per tahun melalui selat itu.

Baca juga : Inter Milan Vs Urawa Reds, Poin Dan Gengsi

Setiap kapal yang melintasi Selat Hormuz, termasuk kapal perang AS, harus melakukan kontak dengan Angkatan Laut Iran, baik Angkatan Laut Reguler Iran maupun Angkatan Laut Garda Revolusi Iran.

Para ahli telah memperingatkan bahwa gangguan atau penutupan selat itu dapat menyebabkan lonjakan harga minyak global yang besar dan mengganggu keamanan energi global.

Baca juga : Perang Iran- Israel, Kemenko Polkam Koordinasikan Pemulangan WNI Dari Iran

Melansir The Diplomatic Insight, jika Selat Hormuz ditutup, harga minyak dapat melonjak hingga 150 dolar AS hingga 200 dolar AS per barel atau lebih, tergantung pada skala gangguan dan kerusakan. Selain itu, ekonomi yang bergantung pada energi saat ini, dari AS dan Uni Eropa hingga China dan India nantinya akan menghadapi guncangan inflasi bahan bakar, yang memengaruhi segala hal mulai dari harga bensin hingga rantai pasokan makanan.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.