Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Rusia Serang Ukraina Lagi, Israel Kembali Bombardir Gaza
Dunia Masih Belum Tenang
Senin, 30 Juni 2025 08:00 WIB
Sebelumnya
Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah menilai, harapan membuat dunia tenang dari perang masih sulit. Hingga saat ini, perang masih berkecamuk di berbagai tempat.
Kenapa perang sulit diakhiri? Rezasyah menyebut, ada 4 faktor yang membuat dunia belum tenang. Pertama, peran PBB tidak optimal. “Malah cenderung membiarkan konflik berkepanjangan akibat Dewan Keamanan yang sulit mencapai konsensus,” ulasnya saat dihubungi, tadi malam.
Kedua, Amerika tersandera oleh sulitnya mencari dukungan internasional untuk menghadapi China dalam perebutan sebagai raja ekonomi dunia. Ketiga, Putin masih mengamati kepemimpinan Amerika yang belum solid di tingkat dunia, dan menggunakan momentum untuk menyelesaikan persoalan di Ukraina.
“Karena Putin yakin, Amerika dan Uni Eropa tidak mampu mendukung Ukraina seperti yang mereka janjikan di masa lalu,” kata Rezasyah.
Baca juga : Menko Polkam: Ini Bukti Talenta Unggul Bangsa
Keempat, Israel butuh kemenangan atas Palestina untuk meningkatkan moril pemerintahan Benjamin Netanyahu di tengah kepanikan yang luar biasa. “Bagi Netanyahu, Israel boleh luluh lantak di kota-kota besar, tapi tak boleh lupa akan tujuan jangka panjangnya, yakni pendirian sebuah Israel Raya,” ulas Rezasyah.
Padahal, lanjut dia, perang yang terus meletus akan berdampak pada stabilitas keamanan dunia. Misalnya, konflik di Timteng dan Eropa Timur berpotensi meluas, melibatkan negara yang secara langsung maupun tidak yang memiliki perjanjian keamanan dengan pihak yang terlibat.
Kedua, dunia mulai merasa perlu mereformasi PBB untuk mencegah perang dunia III. Ketiga, dunia juga akan merasa perlu adanya media internasional yang berkualitas dan mandiri, sehingga mempermudah negara untuk membuat kebijakan yang berbasis data yang akurat.
“Dunia mulai memerlukan figur-figur pemersatu yang mampu membangun koalisi lintas benua, guna mengupayakan perdamaian, sekecil apapun potensi perdamaian itu,” ujarnya.
Dengan kondisi ini, Indonesia perlu membangun koalisi lintas kawasan untuk mereformasi PBB. Presiden Prabowo Subianto, kata dia, perlu menyusun formula untuk memperluas jumlah Dewan Keamanan (DK) PBB.
Menurutnya, DK PBB harus mewakili sejumlah unsur, seperti luas wilayah, jumlah penduduk, peradaban, kawasan Asia-Afrika-Latin Amerika. Selain itu, DK PBB harus berperan serta dalam operasi perdamaian di berbagai wilayah konflik, dan kemampuan membangun sesuai prinsip-prinsip kemandirian, dan pelestarian lingkungan hidup.
Prabowo juga perlu memperjuangkan Asta Cita secara murni dan konsekuen, dengan alat ukur yang teruji, demi terjaminnya stabilitas nasional secara berkelanjutan. Selain itu, perlu membangun TNI yang berkarakter “Aktif Bertahan Berbasis SDM Berkualitas dan Teknologi Modern”.
Selain itu, Indonesia juga perlu memperbanyak penggunaan peluru kendali untuk melindungi seluruh wilayah maritim. Selain itu, mampu mengoperasikan banyak pesawat tanpa awak yang mampu berkinerja 72 jam secara nonstop.
Baca juga : Demokrat Rancang Strategi Sejak Dini Hadapi Pemilu 2029
“Terakhir, menyelaraskan seluruh radar sipil dan radar militer hingga menjangkau wilayah ekonomi eksklusif Indonesia,” pungkasnya. [MEN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya