Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
WNI Mantab, Jurus Siap Siaga Bencana bagi WNI di Uzbekistan
Selasa, 2 September 2025 22:48 WIB
KBRI Tashkent dan Markas PMI Pusat berkolaborasi menggelar sosialisasi tanggap bencana bagi WNI di Uzbekistan, Minggau (31/8/2025). Acara digelar di KBRI Tashkent. Kegiatan dihadiri 57 WNI yang berdiam di Uzbekistan, khususnya di Kota Tashkent.
“Memberdayakan WNI menjadi Masyarakat Aman dan Tangguh Bencana (Mantab), merupakan cara efektif bagi WNI di Uzbekistan dalam menghadapi risiko bencana alam,” tutur Kepala Markas Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat, Arifin Muh. Hadi, dalam pemaparannya pada kegiatan sosialisasi tersebut.
Uzbekistan tergolong rawan bencana alam, khususnya gempa bumi dan risiko gelombang panas. Kondisi ini terjadi terutama dengan keberadaan sesar Talas-Fergana Fault yang berpengaruh aktivitas seismik di Asia Tengah. Pada abad ke-20 dan 21, tercatat telah terjadi 3 gempa berskala besar yakni gempa berskala 6,4 Skala Richter (SR) di Andijan tahun 1902, gempa bermagnitudo 5,2 SR di Tashkent tahun 1966 dan gempa di lembah Fergana tahun 2011 berkekuatan 6,1 SR.
Sosialisasi dibuka Dubes RI untuk Uzbekistan dengan pemateri Kepala Markas PMI Pusat (Foto: KBRI Tashkent)
Potensi bencana alam lain yang perlu diwaspadai WNI di Uzbekistan ialah tren gelombang panas (heat wave). Sejak awal tahun 1990-an, terjadi peningkatan suhu rata-rata di Uzbekistan sebesar 0,25 derajat Celsius di wilayah barat laut Uzbekistan hingga 0,52 derajat Celsius di Uzbekistan bagian tengah. Pada Mei 2025 terjadi fenomena langka thermal depression yang baru pertama kali terjadi selama 65 tahun terakhir, dimana suhu mencapai 45 derajat Celsius.
Untuk menyikapi resiko bencana tersebut, Arifin menegaskan pentingnya upaya untuk membangun kesiapsiagaan segenap WNI. “Bencana tidak mematikan. Yang mematikan adalah ketidaksiapan kita menghadapi bencana tersebut,” lanjut pria yang sempat mendapatkan amanat sebagai Kepala Operasi Respons Pengungsi di Jalur Gaza.
Baca juga : Juventus Mantap Di Laga Perdana, Como Bikin Kejutan
Paparan Kepala Markas PMI Pusat (Foto: KBRI Tashkent)
Arifin berbagi tips praktis untuk mengurangi risiko bencana gempa. “Saat terjadi gempa kita terapkan 4B, Berlutut, Berlindung, Bertahan dan jangan lupa berdoa,” ungkap pria yang terlibat dalam sejumlah operasi tanggap bencana internasional, seperti di Afghanistan, Syria, Haiti, Myanmar, Pakistan dan Nepal.
Ia pun mengingatkan perlunya memperhatikan penataan rumah, dengan mempertimbangkan risiko gempa. Antara lain menempatkan lemari sejajar dengan tempat tidur maupun pintu kamar, untuk mengurangi risiko jatuhnya lemari saat gempa yang dapat membahayakan diri ataupun menutup akses keluar masuk ruangan.
WNI diimbau untuk tidak menaruh barang besar dan berat di posisi yang tinggi. Selain itu disarankan untuk menyiapkan meja berkonstruksi kuat, sebagai tempat berlindung di saat terjadi gempa. Para WNI pun dianjurkan untuk mencari informasi terkait tingkat ketahanan gempa bangunan tempat tinggalnya.
“Jika memungkinkan, mintakan kepada pemilik rumah atau apartemen untuk melakukan penguatan bangunan atau retrofitting,” ungkap Kepala Markas Pusat PMI ini.
Baca juga : Piala Kemerdekaan, Garuda U-17 Siap Hadapi Tajikistan
Sementara, untuk menyiasati ancaman gelombang panas, WNI di Uzbekistan diminta untuk tetap terhidrasi secara optimal. Selain itu perlu dihindari paparan matahari langsung dan menjaga kesejukan di tempat tinggal.
Suasana Sosialisasi Tanggap Bencana di KBRI Tashkent Sumber: KBRI Tashkent
Arifin mengingatkan bahwa sebagai bentuk kesiapsiagaan bencana, WNI perlu menyimpan nomor kontak darurat, mengamankan dokumen dan barang berharga, maupun kotak emergensi dan persediaan makanan minuman, jika sewaktu-waktu perlu melakukan evakuasi. Hal vital lain ialah menjaga hubungan baik dan mengenal tetangga serta pemukiman sekitar, termasuk dengan sesama WNI.
Berkaca pada hasil survei di Jepang pasca gempa Great Hansin tahun 1995, faktor utama selamatnya korban bencana adalah kesiapsiagaan diri sendiri (35 persen), dukungan keluarga (31,9 persen) dan dukungan teman atau tetangga (28,1 persen). “Oleh karena itu WNI di Uzbekistan wajib mengenal lebih dekat antar satu sama lain,” imbuhnya. Hal ini antara lain dengan menciptakan budaya “check-in” komunitas melalui grup WhatsApp atau platform lainnya.
Duta Besar RI untuk Uzbekistan berfoto bersama dengan staf KBRI dan WNI yang hadir. (Foto: KBRI Tashkent)
Baca juga : DePA-RI: Harus Ada Solusi Male Order Bride WNI di China
Sosialisasi ini merupakan salah satu bentuk upaya pelindungan WNI yang bersifat preventif, yang dilaksanakan oleh KBRI Tashkent. “Pelindungan WNI merupakan amanat konstitusi,” tegas Duta Besar Indonesia untuk Uzbekistan, Siti Ruhaini Dzuhayatin.
Pelindungan WNI yang dilakukan juga mencakup pelindungan di kondisi darurat, termasuk bencana alam. Di sisi lain KBRI Tashkent juga melihat perlunya kampanye penyadaran publik terhadap potensi bencana, untuk dapat meningkatkan kesiapsiagaan seluruh WNI di Uzbekistan.
Bharata
Staf KBRI Tashkent
Staf KBRI Tashkent
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya