Dark/Light Mode

Puluhan Jadwal Penerbangan Terpaksa Dibatalkan

Hacker Lumpuhkan Bandara Top Eropa

Senin, 22 September 2025 05:30 WIB
Calon penumpang mengantre di Bandara Heathrow, London, 
Inggris, setelah penerbangan ditunda dan dibatalkan di bandara-bandara di Eropa menyusul serangan siber, 20 September 2025. (Foto Tangkapan Layar)
Calon penumpang mengantre di Bandara Heathrow, London, Inggris, setelah penerbangan ditunda dan dibatalkan di bandara-bandara di Eropa menyusul serangan siber, 20 September 2025. (Foto Tangkapan Layar)

RM.id  Rakyat Merdeka - Sejumlah bandara top di Eropa tengah mengalami masalah besar. Layanan mereka lumpuh akibat penopang operasional berbasis digital, sistem Collins Aerospace, terkena serangan hacker. Dampaknya, ribuan calon penumpang telantar, ratusan penerbangan molor, bahkan terpaksa dibatalkan.

Gangguan operasional besar melanda sejumlah bandara internasional tersibuk di Eropa sejak Jumat (19/9/2025) akibat serangan siber yang menargetkan sistem check-in dan pengelolaan bagasi. Bandara yang terdampak meliputi Heathrow London (Inggris), Berlin Brandenburg (Jerman), dan Brussels Airport (Belgia) serta sejumlah bandara di Irlandia.

Gangguan ini dikabarkan berasal dari serangan terhadap sistem perangkat lunak MUSE (Multi-User System Environment) yang dioperasikan Collins Aerospace, anak perusahaan dari RTX Corporation, perusahaan Amerika Serikat (AS). Sistem ini digunakan ratusan maskapai dan lebih dari 170 bandara global.

Pihak Collins Aerospace mengonfi rmasi kepada media bahwa telah terjadi gangguan siber, meskipun sifatnya terbatas pada sistem check-in elektronik dan manajemen bagasi.

“Kami tengah bekerja aktif untuk memulihkan fungsionalitas sistem dan meminimalisasi dampaknya,” kata juru bicara RTX kepada Newsweek, Sabtu (20/9/2025).

Brussels Airport mengakui bahwa semua proses check-in dilakukan secara manual, menyebabkan antrean panjang dan keterlambatan. Menurut data dari FlightAware, hingga Sabtu siang tercatat: 139 penerbangan tertunda, dan 7 penerbangan dibatalkan. Sementara itu, Berlin Brandenburg Airport menyebut, 101 penerbangan tertunda, 5 penerbangan dibatalkan.

Baca juga : Nuon dan Playup Luncurkan Gerakan Harmoni Nusantara di Yogyakarta

Otoritas pengatur penerbangan Eropa, Eurocontrol, bahkan menginstruksikan maskapai untuk membatalkan separuh penerbangan dari dan ke Brussels mulai Sabtu pukul 04.00 GMT hingga Senin pukul 02.00 GMT.

Heathrow Paling Terdampak

Sebagai bandara tersibuk di Eropa, Heathrow London paling terdampak. Melayani lebih dari 200.000 penumpang setiap hari, gangguan ini menciptakan penumpukan antrean hingga berjam-jam. FlightAware mencatat, Sabtu (20/9/2025), di Heathrow 201 penerbangan tertunda dan 10 penerbangan dibatalkan.

Pihak bandara meminta penumpang untuk datang tidak lebih awal dari tiga jam sebelum keberangkatan internasional, dan dua jam untuk penerbangan domestik, guna mencegah kepadatan di terminal. Meski demikian, maskapai seperti British Airways masih dapat beroperasi normal dengan menggunakan sistem cadangan.

Sejumlah penumpang menyuarakan frustrasi akibat kurangnya informasi dan lambatnya penanganan. Maria Casey, penumpang di Terminal 4 Heathrow, mengaku harus menunggu tiga jam hanya untuk menyerahkan bagasi.

“Label bagasi ditulis manual. Hanya dua konter yang buka. Kami benar-benar frustrasi,” katanya kepada Associated Press.

Keluhan serupa datang dari penumpang maskapai Air Algerie dan Saudia Airlines yang mengalami keterlambatan akibat antrean manual. Pakar keamanan dan penerbangan menyebut insiden ini sebagai contoh serangan siber lintas negara yang sangat terorganisir.

Baca juga : BPW Indonesia Dorong Peningkatan Keterwakilan Perempuan Dalam Politik

“Ini bukan gangguan biasa. Pelaku mampu menarget sistem inti yang digunakan di berbagai bandara dan maskapai,” kata Paul Charles, analis penerbangan internasional, kepada Sky News.

Sementara itu, Charlotte Wilson dari perusahaan keamanan siber Check Point, menduga serangan dilakukan lewat jalur satu rantai.

“Jika satu vendor seperti Collins Aerospace diretas, efeknya bisa langsung terasa di seluruh jaringan global,” analisanya.

Profesor James Davenport dari University of Bath menyatakan bahwa berdasarkan pola serangan, insiden ini lebih menyerupai vandalisme digital ke timbang upaya pemerasan.

“Belum terlihat tanda-tanda ransomware atau tuntutan finansial. Ini lebih seperti sabotase,” ujarnya.

Hingga Minggu (21/9/2025), belum ada kelompok atau individu yang mengklaim bertanggung jawab. Penyelidikan tengah dilakukan oleh otoritas keamanan Eropa dan pakar forensik digital.

Baca juga : Pertamina Patra Niaga Pastikan Seluruh SPBU di Jakarta Tetap Aktif Beroperasi

Paul Charles menambahkan bahwa insiden ini menandai kebangkitan ancaman digital terhadap sektor penerbangan, yang selama ini dianggap cukup aman dari serangan berskala besar.

“Kita harus mempertanyakan kembali keamanan sistem yang sangat vital ini,” pungkasnya.

Insiden serupa bukan pertama kali terjadi. Sebelumnya, pada Desember 2024, Japan Airlines dan American Airlines sempat mengalami gangguan sistem karena serangan siber. Pada Juli 2024, sistem kereta Prancis juga disabotase menjelang Olimpiade Paris.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.