Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Dubes Roderick Brazier Nikmati Festival Musik Bareng Alumni Australia
Senin, 29 September 2025 06:04 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kedutaan Besar Australia menyelenggarakan festival musik mini tahunan untuk mempererat hubungan para alumni lulusan institusi pendidikan di Australia, di Gig on the Green Jakarta, Sabtu (27/9/2025).
Acara ini dihadiri sekitar 1.000 tamu. Duta Besar (Dubes) Australia untuk Indonesia Roderick Brazier yang hadir dalam acara ini mengaku merasa bangga dengan prestasi para alumni dari berbagai institusi pendidikan di negerinya. Menurutnya, tujuan dari acara ini salah satunya mempererat ikatan dalam jaringan alumni kedua negara.
“Australia sangat bangga sekali karena lebih dari 200 ribu orang Indonesia telah lulus dari universitas di Australia. Pada saat ini ada 25 ribu lebih mahasiswa dari Indonesia sedang belajar di Australia,” kata Dubes Brazier.
Brazier mengatakan, alumni Indonesia dari Australia tersebar di berbagai bidang. Yang paling populer biasanya adalah bisnis dan sains, baik itu di jenjang S1, S2, maupun S3.
Australia merupakan negara yang sangat menghargai mahasiswa Indonesia untuk mendapatkan pengalaman belajar dan kehidupan yang berharga di sana. Dubes Brazier memastikan, tidak ada pelajar Indonesia yang mengalami Islamofobia maupun rasisme selama menempuh pendidikan.
Baca juga : Dubes RI Untuk Portugal Hibur Pengunjung Festival Dengan Tarian Tradisional
“Selama ini saya tidak pernah mendengar masalah terkait Islamofobia atau rasisme dari mahasiswa Indonesia di Australia. Mungkin di media sosial kadang ada isu yang dibesar-besarkan. Tapi dari pengalaman pribadi dan teman-teman Muslim saya, tidak ada masalah berarti,” ujarnya.
Dia berharap, para alumni bisa berkontribusi pada ekonomi dan kemakmuran Indonesia.
Saat sesi wawancara, hadir tiga alumni Australia Awards yang berbagi kisah dan harapannya. Mereka adalah Richard Kennedy, Maria Panggur dan Rafiqa Qurrota A’yun.
Richard Kennedy adalah penyandang disabilitas netra total dari Jawa Timur. Dia menempuh studi Master of Disability Practice and Leadership di Flinders University, Australia Selatan. Kini, Richard bekerja di bidang pengembangan internasional, memperkuat kemitraan Australia-Indonesia di sektor inklusi.
Baginya, Australia adalah destinasi studi ideal karena memiliki praktik inklusif terbaik. Richard melihat bahwa perbedaan paling mencolok antara pendidikan di Australia dan Indonesia terletak pada tingkat inklusivitas dan dukungan yang diberikan kepada penyandang disabilitas.
Baca juga : Pemain Asing Persib Antusias Lawan Klub Australia
“Saya berharap inklusi tidak sekadar menjadi jargon, tetapi benar-benar menjadi pengalaman hidup sehari-hari yang diperjuangkan bersama oleh Pemerintah dan masyarakat,” harapnya.
Maria Panggur adalah seorang park ranger dari Taman Nasional Komodo yang menempuh Master of Conservation Science di University of Queensland. Dia merasa praktik konservasi di Australia sangat relevan dengan pekerjaannya.
Menurut Maria, pendidikan di Australia tidak hanya membentuk kemampuan teknis, tetapi juga membangun cara berpikir kritis dan kesadaran sosial.
“Apa pun yang kita pelajari, harus punya dampak. Itu membuat saya lebih sadar akan tanggung jawab saya terhadap masyarakat dan alam,” kata Maria.
Sementara, Rafiqa Qurrota A’yun adalah dosen Fakultas Hukum di Universitas Indonesia. Dia merupakan alumni PhD Australia Awards Scholarship tahun 2018 di Melbourne Law School, University of Melbourne, Australia.
Baca juga : Dubes Rod Brazier Launching Australia Awards Short Course Bareng Menpora
Dia menyoroti bagaimana sistem akademik di Australia sangat egaliter, terbuka, dan mendukung pengembangan riset. Dia tertarik studi di Melbourne karena adanya SILIS (Centre for Indonesian Law, Islam and Society), pusat riset yang secara khusus mempelajari hukum Indonesia.
“Ekosistem riset di sana sangat kuat. Akses ke sumbersumber pengetahuan terbuka luas, dan suasana akademik sangat suportif,” kata Rafiqa.
Gig On The Green menghadirkan deretan musisi menarik, termasuk penyanyi Australia Neptune, alumni Australia Mutiara Azka, dan artis Indonesia Kunto Aji. Acara ini dipandu pembawa acara yang juga seorang alumni Australia Asmi Nurais, bersama Aldi Tama.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya