Dark/Light Mode

Tim Bantuan Kemanusiaan Masuk Ke Zona Dekat Gaza

Kapal GSF Diserang & Diintimidasi Israel

Kamis, 2 Oktober 2025 05:49 WIB
Para aktivis GSF menuju Gaza untuk mematahkan blokade Israel di wilayah Palestina, menaiki perahu layar di pelabuhan utara Tunisia, Bizerte, pada 13 September 2025. (Foto via AFP)
Para aktivis GSF menuju Gaza untuk mematahkan blokade Israel di wilayah Palestina, menaiki perahu layar di pelabuhan utara Tunisia, Bizerte, pada 13 September 2025. (Foto via AFP)

RM.id  Rakyat Merdeka - Global Sumud (Global Sumud Flotilla/GSF) menyatakan, armada kapalnya telah memasuki zona berisiko tinggi, yaitu 278 kilometer dari Gaza. Di wilayah ini, armada sebelumnya diserang atau dihentikan pasukan Israel.

GSF adalah perkumpulan armada kapal dari berbagai negara, yang saat ini sedang menuju Gaza untuk menunjukkan solidaritas terhadap rakyat Palestina. Dilansir Al Jazeera, armada tersebut mencapai zona berisiko tinggi pada pukul 03.00 waktu setempat pada Rabu (1/10/2025). Kapal-kapal Angkatan Laut Israel dilaporkan mengitari Alma dan Sirius, dua kapal utama rombongan armada ini.

GSF menyatakan, zionis mencoba mengacaukan sistem komunikasi sebelum meninggalkan lokasi. “Sebuah kapal militer Israel baru saja mendekati kapal-kapal kami, mengintimidasi, merusak sistem komunikasi kami dan melakukan manuver berbahaya dengan mengitari kapal utama kami, Alma dan Sirius!” tulis Aktivis asal Brazil sekaligus anggota komite pengarah GSF, Thiago Avila di X.

Meski komunikasi terganggu dan perangkat elektronik rusak, dia memastikan tidak ada kru yang terluka dan armada tetap melanjutkan pelayaran. Anggota Parlemen Eropa Emma Fourreau merupakan salah satu dari beberapa politisi yang ikut dalam pelayaran tersebut. Dia menyatakan, sebuah kapal militer dilaporkan telah meninggalkan pelabuhan Ashdod di Israel untuk mencegat rombongan GSF.

“Serangan ini ilegal. Kami mengandalkan mobilisasi kalian untuk memastikan perjalanan kami ke Gaza!” tulis Fourreau di media sosial.

Stasiun penyiaran publik Israel, Kan, melaporkan bahwa Israel berencana mengambil kendali atas armada tersebut. Bahkan berencana menenggelamkan beberapa kapal di laut.

Baca juga : Kapal Bantuan Kemanusiaan Ke Gaza Diserang Drone Di Perairan Tunisia

Israel juga menuduh GSF terafiliasi dengan kelompok Hamas di Palestina. Namun hal itu di bantah tegas oleh juru bicara Flotilla Maria Elena Delia. “Dokumen-dokumen yang di tunjukkan oleh Israel tidak membuktikan adanya pendanaan atau pun kendali dari Hamas terhadap Global Sumud Flotilla,” ujarnya.

Kapal dari Angkatan Laut Spanyol dan Italia sempat ikut berlayar dan membayangi rombongan armada ini. Mereka ingin memastikan para aktivis berlayar dan melalui perairan internasional dengan aman. Namun, rencana berubah dan Pemerintah Italia menarik mundur armadanya saat mendekati zona bahaya.

GSF melihat hal itu upaya untuk menggagalkan misi mereka. Sebab, Angkatan Laut Italia turut menawarkan kepada para aktivis untuk meninggalkan kapal sebelum memasuki zona kritis di dekat Gaza.

“Mari kita perjelas, ini bukan perlindungan, ini sabotase,” tegas GSF dalam pernyataan lainnya.

Perdana Menteri (PM) Italia Giorgia Meloni menyatakan, serangan Israel terhadap Flotilla saat mendekati Gaza bisa menggagalkan rencana gencatan senjata Gaza yang diajukan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. “Banyak pihak akan senang melihat rencana itu gagal. Karena itu pula, saya percaya Flotilla ini harus berhenti sekarang, ” kata Meloni, beralasan.

Keputusan Italia dikecam pelapor khusus PBB untuk Palestina Francesca Albanese. “Saat armada bersiap memasuki perairan Gaza dengan misi kemanusiaan. Pemerintah Italia bersiap untuk meninggalkan mereka, membiarkan Israel bebas melakukan pelanggaran lebih lanjut, dan melanjutkan genosida tanpa gangguan,” ketua Albanese.

Baca juga : Kepala Daerah Diminta Ikut Atasi Kemiskinan Ekstrem

Sementara, drone dari Turki terlihat berputar di atas armada untuk memantau situasi dari udara dan memantau potensi serangan.

Armada ini membawa hampir 500 orang dari berbagai negara. Termasuk aktivis terkenal seperti Greta Thunberg, anggota parlemen dari beberapa negara, serta cucu dari Nelson Mandela dan Nkosi Zwelivelile Mandela.

Selain misi kemanusiaan, keberadaan mereka juga bersifat simbolis. Tujuannya, menentang blokade terhadap Gaza dan menyerukan solidaritas global.

Meski dihadapkan pada tekanan militer dan ancaman nyata, armada ini tetap berkomitmen untuk mencapai tujuan mereka. Misi GSF mendapat dukungan dari beberapa pemimpin dunia.

PM Malaysia Anwar Ibrahim misalnya. Dia mengadakan konferensi pers pada Selasa di Pusat Komando Sumud Nusantara di Putrajaya, Malaysia, untuk menyatakan dukungannya terhadap armada tersebut.

Dalam acara itu, dia berbicara melalui video dengan para aktivis yang ikut serta dalam upaya pengiriman bantuan makanan ke Gaza. Anwar juga berbicara langsung kepada 34 warga negara Malaysia yang ikut dalam Global Sumud Flotilla.

Baca juga : Aliansi Kemanusiaan Minta Perlindungan Warga Sipil Diprioritaskan

Presiden Kolombia Gustavo Petro menulis pernyataan di media sosial. Dia menuntut penghormatan mutlak terhadap nyawa dan keselamatan ratusan kru yang berada di kapal-kapal Sumud Flotilla.

Ada dua warga Kolombia yang ikut serta dalam armada tersebut, yaitu Manuela Bedoya dan Luna Barreto. Semua kru saat ini mengenakan pelampung sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan penyergapan oleh Israel.

“Serangan terhadap misi sipil, kemanusiaan dan non-kekerasan ini akan menjadi pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional dan merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan,” tulis Petro di X.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.