Dark/Light Mode

Perang Global Dari Indonesia, ASEAN Hingga PBB

Jurnalisme Untuk Kebenaran Publik

Jumat, 10 Oktober 2025 09:49 WIB
Ilustrasi: AI
Ilustrasi: AI

RM.id  Rakyat Merdeka - Masalah misinformasi dan disinformasi mesti dilawan oleh semua pihak. Termasuk oleh jurnalis, yang mesti berpihak pada kebenaran publik, atau kepentingan masyarakat banyak.

Untuk kasus Indonesia, upaya ini juga sudah jelas. Pengelola platform media sosial bahkan juga diminta ikut melindungi masyarakat dari informasi-informasi yang tidak benar, termasuk disinformasi, fitnah, dan kebencian (DFK), karena hanya akan merusak sendi-sendi demokrasi.

Ini disampaikan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi), Angga Raka Prabowo, saat berdiskusi bersama Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan/Presidential Communication Office (PCO), Hasan Nasbi di Kantor PCO, Jakarta, Selasa, 26 Agustus 2025.

“Ini merusak sendi-sendi demokrasi. Misalnya, kita mau menyampaikan satu aspirasi, menyampaikan satu pendapat, tetapi tiba-tiba di sosial media dibumbui atau ditambahkan dengan informasi-informasi yang tidak sesuai. Itu kan merusak semangat kita untuk menyampaikan aspirasi-aspirasi kita,” kata Angga.

Namun dia memastikan, negara hadir. “Kami mengajak, ayo bareng-bareng kita melindungi semua masyarakat, generasi muda kita. Saya sebagai orang tua, juga mau melindungi anak-anak, keluarga saya dari informasi-informasi yang salah,” ujarnya.

Baca juga : Yusril: Indonesia Tidak Akan Terbitkan Visa Untuk Atlet Senam Artistik Israel

Ingatan saya tiba-tiba mundur ke peristiwa lebih dari dua dekade silam. Tepatnya, pada Desember 2003. Saya merasa beruntung karena saat itu, bisa duduk bareng dan berdiskusi bersama Bill Kovach, seorang wartawan Amerika Serikat, editor, juga kurator pada Nieman Foundation for Journalism, Universitas Harvard.

Dia dikenal sebagai salah satu penggagas prinsip-prinsip jurnalisme dalam penulisan berita. Tema inilah yang dia tuangkan dalam salah satu karyanya yang terkenal di kalangan jurnalis, The Elements of Journalism, yang dia tulis bersama Tom Rosenstiel.

Meski sudah lebih dari 22 tahun silam, namun karyanya masih menggema hingga kini, mengingat masih parahnya beberapa hal yang dia bahas di buku itu, termasuk masalah misinformasi dan disinformasi.

Saat itu, saya diundang makan malam oleh Kepala Biro The New York Times untuk Asia Tenggara, Jane Perlez, ke kantor sekaligus tempat tinggalnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

“Saya mau menjamu teman lama, Bill Kovach. Ikutan ya!” ajak Jane. Saya langsung mengiyakan. Ternyata, makan malam itu juga dihadiri Sidney Jones, pakar dan peneliti terorisme Asia Tenggara. Dari 2002 hingga 2013, Jones adalah Direktur Asia Tenggara, International Crisis Group (Crisis Group) di Jakarta.

Baca juga : PameranĀ ALLPrint Indonesia 2025, Resmi dibuka di Jiexpo Kemayoran Jakarta

Selain Jones, juga ada Andreas Harsono, salah satu pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan alumni Nieman Fellowship, Universitas Harvard. Dialah yang mendampingi Bill --begitu Bill Kovach biasa disapa-- ke beberapa kota Indonesia; Medan, Jakarta, Jogjakarta, Surabaya dan Bali, mempromosikan buku The Elements of Journalism.

Sementara sang tuan rumah, Jane Perlez, adalah jurnalis senior surat kabar legendaris Amerika, The New York Times yang berdiri sejak 1851, dan terkenal karena jurnalisme investigasinya yang berkualitas tinggi.

Dikenal sebagai surat kabar terkemuka, The New Times berfungsi sebagai sumber utama berita komprehensif dan merupakan pemimpin dalam konsumsi berita digital, dengan jutaan pelanggan, bahkan hingga hari ini.

Pada 2009, Jane Perlez menjadi bagian tim liputan The New York Times yang memenangkan Pulitzer Prizes, untuk liputan internasional tentang perang melawan Taliban dan Al-Qaeda di Afghanistan dan Pakistan.

Pulitzer Prizes adalah penghargaan bergengsi Amerika Serikat, yang mengakui pencapaian luar biasa dalam jurnalisme, sastra, dan komposisi musik. Penghargaan ini didirikan oleh Joseph Pulitzer dan pertama kali dianugerahkan pada 1917, dengan pengumuman pemenang dilakukan setiap April oleh Columbia University.

Baca juga : Hari Ini, 133 Ribu Tentara Unjuk Kebolehan Di Monas

Pro Kebenaran Publik

Kembali ke karya Bill Kovach, The Elements of Journalism, buku ini dinilai penting, bahkan, sering dianggap sebagai “kitab suci”-nya jurnalisme, dalam arti, landasan etika dan filosofi paling dihormati. Isinya, merumuskan 10 prinsip dasar jurnalisme, yang di antaranya seperti kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran, loyalitas utama jurnalis adalah kepada warga, juga disiplin dalam verifikasi.

Termasuk, memberikan kerangka kerja berharga bagi jurnalis untuk menjunjung tinggi kepercayaan publik dan menjalankan profesi secara etis di era misinformasi dan jurnalisme yang digerakkan pasar.

Kini, lebih dari dua dekade kemudian, masalah yang dicoba diberikan solusinya di buku Bill itu, ternyata belum juga selesai, bahkan kian menjadi-jadi, yaitu misinformasi dan disinformasi. Termasuk jurnalisme yang kian terseret, hingga tak lagi didedikasikan untuk kebenaran publik.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.