Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Trump Umumkan Perdamaian Fase II
PBB Sibuk Galang Dana Untuk Membangun Gaza
Kamis, 16 Oktober 2025 04:42 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bergerak cepat (gercep) membereskan perang antara Hamas dan Israel di Jalur Gaza, Palestina. Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata fase II, Selasa (14/2025).
Keputusan itu diambil usai Hamas dan Israel berhasil melakukan pertukaran sandera pada Senin (13/10/2025). Barter sandera ini merupakan hasil ke¬sepakatan damai fase pertama yang ditengahi AS, Qatar, Mesir dan Turki.
Dalam akun Truth Socialnya, Selasa (14/10/2025), Trump senang seluruh warga Israel yang masih hidup bisa kembali ke keluarga masing-masing.
“Beban berat telah terangkat, tetapi pekerjaan belum selesai. Jenazah belum dikembalikan seperti yang dijanjikan! Tahap kedua dimulai sekarang juga!” tegas Trump, mengacu pada jenazah sandera yang masih belum dipulangkan Hamas ke Israel.
Hamas berjanji akan mengembalikan semua jenazah sandera jika Israel membuka semua jalur bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Pada Selasa (14/10/2025), Hamas mengembalikan empat jenazah sandera mereka ke Palang Merah Internasional. Masih ada sisa 24 jenazah sandera yang belum dipulangkan Hamas ke Israel.
Pada tahap kedua kesepakatan perdamaian dan gencatan senjata, AS meminta pembentukan mekanisme pemerintahan baru di Jalur Gaza, pembentukan pasukan multinasional dan pelucutan senjata Hamas.
Baca juga : Prabowo Saksikan Penandatanganan Perjanjian Damai & Penghentian Perang Gaza
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perdamaian Gaza yang berlangsung di Kota Sharm El Sheikh, Mesir, Minggu (12/10/2025), menghasilkan deklarasi menuju perdamaian yang langgeng di Gaza, serta pembangunan kembali wilayah kantong yang hancur lebur.
Di fase kedua ini, kemungkinan akan menghadapi rintangan. Terutama terkait pelucutan senjata Hamas. Kelompok perlawanan yang berkuasa di Gaza itu menolak menyerahkan senjata sampai tentara nasional Palestina dibentuk.
Selain itu, Hamas juga belum sepakat mengenai mekanisme pembentukan pemerintahan baru. Terutama soal keterlibatan pihak asing. Namun pada dasarnya, Hamas setuju Gaza dipimpin kalangan teknokratis yang independen.
Galang Dana
Sementara, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) tengah mengumpulkan donasi untuk pembangunan kembali Gaza.
Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat Tom Fletcher mengalokasikan dana bantuan tambahan sebesar 11 juta dolar AS (Rp 182 miliar) ke Jalur Gaza.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) yang dikepalai Fletcher mengatakan, jumlah tersebut merupakan tambahan untuk 9 juta dolar AS (Rp 149 miliar) yang telah dialokasikan pekan lalu dari Dana Tanggap Darurat Pusat (Central Emergency Response Fund/CERF) PBB untuk Gaza.
Berdasarkan laporan lapangan OCHA, rencana kemanusiaan untuk 60 hari pertama gencatan senjata, PBB dan para mitranya akan memberikan bantuan dan layanan penyelamat kepada orang-orang di seluruh wilayah yang membutuhkan bantuan.
Baca juga : Trump: Israel Dan Hamas Setujui Fase Pertama Perjanjian Damai Gaza
Bantuan tersebut akan mencakup makanan, air, layanan kesehatan, persediaan kebutuhan tempat tinggal, barang-barang kebersihan, dukungan perlindungan dan bantuan penting lainnya. Sayangnya, pada Rabu (15/10/2025), Israel hanya mengizinkan setengah dari jumlah truk bantuan yang disepakati masuk ke Gaza. Ini menjadi kemunduran bagi harapan bahwa makanan dan pasokan akan segera ditingkatkan untuk mengatasi kelaparan di wilayah kantung tersebut.
Badan militer Israel yang mengawasi aliran bantuan ke Gaza, COGAT, juga memberi tahu PBB bahwa tidak ada bahan bakar atau gas yang akan diizinkan masuk ke wilayah kantung tersebut. Kecuali untuk kebutuhan khusus terkait infrastruktur kemanusiaan.
COGAT menyalahkan Hamas atas lambatnya pembebasan jenazah sandera terkait keputusan untuk membatasi truk bantuan, hingga 300 truk per hari.
Israel mewajibkan bantuan diturunkan dari truk di sisi perbatasan Palestina, yang kemudian harus dikumpulkan PBB dan kelompok-kelompok bantuan yang sudah ada di Gaza.
Program Pangan Dunia PBB (World Food Programme/WFP) menyatakan, mereka telah mendatangkan 137 truk sejak akhir pekan. Badan-badan bantuan berupaya segera meningkatkan pasokan bagi masyarakat di Kota Gaza. Pasalnya, 400.000 orang belum menerima bantuan selama beberapa minggu.
Juru bicara UNICEF Tess Ingram mengatakan, mereka telah berhasil mendatangkan puluhan truk berisi perlengkapan penyelamat, seperti tenda keluarga, terpal plastik, pakaian musim dingin dan perlengkapan kebersihan.
Sepanjang perang, PBB telah mengeluhkan adanya hambatan dalam pengiriman dan pendistribusian bantuan di Gaza, menyalahkan Israel dan pelanggaran hukum atas hambatan tersebut.
Baca juga : Diskusi PSAD UII: RUU Perampasan Aset Penting Untuk Berantas Gurita Korupsi
Sekitar 50 kelompok bantuan internasional, termasuk Dewan Pengungsi Norwegia, CARE dan Oxfam, masih belum menerima izin masuk pasokan bantuan kemanusiaan, karena mereka menghadapi hambatan pendaftahran yang berkelanjutan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya