Dark/Light Mode

Mengikuti Southeast Asia Maritime Media Visits Project (2)

Ada Jejak Indonesia Di Australian War Memorial Museum

Kamis, 6 November 2025 07:30 WIB
Upacara Last Post Ceremony di Australian War Memorial Museum, Canberra berlangsung khidmat. (Foto: Firsty Hestyarini/Rakyat Merdeka/RM.id)
Upacara Last Post Ceremony di Australian War Memorial Museum, Canberra berlangsung khidmat. (Foto: Firsty Hestyarini/Rakyat Merdeka/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Jurnalis Rakyat Merdeka/RM.id, Firsty Hestyarini membagikan cerita kunjungannya ke Canberra, Australia, dalam Southeast Asia Maritime Media Visits Project (SEA MMVP) yang diselenggarakan Departemen Luar Negeri & Perdagangan Australia (DFAT) dan La Trobe University. Program yang digelar pada 26-31 Oktober 2025 ini, semakin membuka mata para peserta bahwa laut yang komposisinya mencakup 70 persen dari luasan bumi, tak hanya menjadi pusaran geopolitik. Tetapi juga tempat manusia menggantungkan kehidupannya. Berikut laporannya.

Tak lengkap rasanya saat berkunjung ke Ibu Kota Australia, Canberra, tanpa mampir ke Australian War Memorial Museum yang terletak di Fairbairn Avenue, Campbell, ACT 2612. Apalagi, di sini juga ada jejak Indonesia, sebagai salah satu medan tempur Australia. Antara lain, saat Australia menjadi tentara sekutu Amerika Serikat (AS) dan Inggris di masa perang kemerdekaan Indonesia pada tahun 1942 dan 1945, serta konfrontasi Indonesia-Malaysia pada 1962-1966. Juga pada saat menjalankan misi penjaga perdamaian di Timor Timur tahun 1999. 

Rakyat Merdeka bersama tiga media Indonesia lainnya: Kompas, Tempo, dan CNN Indonesia, berkesempatan mengunjungi Australian War Memorial Museum dalam rangkaian acara “Southeast Asia Maritime Media Visits Project” yang diikuti 12 jurnalis dari Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan Filipina pada Senin (27/10/2025) sekitar pukul 14.30 waktu setempat. Suhu udara saat itu sekitar 13 derajat Celcius, dengan cuaca sedikit gerimis. 

“Terima kasih sudah berkenan datang ke sini. Di tempat ini, Anda bisa memahami apa yang diperjuangkan oleh pemuda dan pemudi Australia untuk negara. Mereka rata-rata gugur dalam usia yang relatif muda, yaitu 23 tahun,” terang Direktur Australian War Memorial Museum, Matt Anderson, Senin (27/10/2025). 
 

Direktur Australian War Memorial Museum Matt Anderson saat memberikan penjelasan kepada para peserta Southeast Asia Maritime Media Project, didampingi Direktur Eksekutif AP4D Melissa Conley Tyler di Canberra. (Foto: Firsty Hestyarini/Rakyat Merdeka/RM.id)

Baca juga : Bangkitkan Semangat Kewirausahaan, BRI Hadirkan Pengusaha Muda BRILiaN 2025 Untuk Wujudkan UKM Naik Kelas


Anderson mengisahkan, konsep bangunan Australian War Memorial Museum dibuat pada tahun 1916, dan baru dibuka pada tahun 1941 atau dua pekan sebelum Jepang memasuki Perang Dunia II. 

Australian War Memorial Museum tak hanya menjadi monumen peringatan bagi 103 ribu warga Negeri Kanguru yang gugur di medan laga. Tetapi juga museum kelas dunia yang terdiri dari berbagai diorama perang, serta pusat arsip perang Australia. 

“Pendiri utama bangunan ini adalah seorang jurnalis, namanya Charles Bean. Dialah yang memutuskan Australian War Memorial Museum dibangun di Canberra dan harus terletak di sebuah bukit, menghadap Gedung Parlemen. Tujuannya, agar ketika pemerintah memutuskan mengirim warganya untuk berperang, yang akan mereka lihat untuk pertama kali adalah gedung ini,” papar Anderson, sambil menunjuk ke arah Gedung Parlemen Australia, yang berada pada satu garis lurus di seberangnya. 

Sontak, Rakyat Merdeka pun memandang ke arah yang ditunjuk Anderson. Dalam satu garis lurus yang kira-kira berjarak 1 km, memang tampak Gedung Parlemen Australia yang berdiri megah. Kedua bangunan ikonik itu berada di sepanjang Anzac Parade, jalan utama yang menghubungkan berbagai gedung atau monumen penting di Canberra. Setelah berbincang dengan Anderson, kami pun melangkahkan kaki, memasuki Australian War Memorial Museum. 
 

Para peserta Southeast Asia Maritime Media Visits Project foto bareng di area commemorative yard, jantung Australian War Memorial Museum, Canberra. (Foto: Firsty Hestyarini/Rakyat Merdeka/RM.id)

Baca juga : Brigjen (Purn) Jimmy Alexander Adirman: Kami Bekerja Tidak Ada Libur


Setelah menjalani pemeriksaan keamanan, Rakyat Merdeka langsung menyaksikan hamparan pemandangan indah nan sakral. Tampak pool of reflection berbentuk kolam panjang dengan api abadi di area commemorative yard (area peringatan), plus taman yang ditata asri di bagian kiri dan kanan. 

Wisata museum yang beroperasi mulai pukul 10 hingga 16.00 waktu setempat dan gratis ini, tampak ramai dikunjungi turis, baik lokal ataupun internasional. Ada rombongan keluarga asal Malaysia yang minta difoto di dekat kolam panjang. Ada pula kelompok study tour siswa lokal. 

Saat kami mengarahkan pandangan ke bagian dinding atas di area commemorative yard, terpatri nama-nama medan tempur tentara Australia. Ada nama wilayah Indonesia di situ: Java, Timor dan Ambon. Selain itu, juga ada New Britain, Pacific, Irak, Afghanistan, Solomon Islands, Singapore dan sebagainya. Di ujung kolam, terdapat delapan anak tangga yang mengantar pengunjung menuju Hall of Memory, tempat utama untuk mengenang prajurit tak dikenal yang gugur membela Australia. Dengan atap berbentuk kubah besar, bergaya Bizantium. 
 

Roll of Honour di Australian War Memorial Museum memuat jejak pertempuran tentara Australia di Indonesia. (Foto: Firsty Hestyarini/Rakyat Merdeka/RM.id)


Di area commemorative yard bagian atas, terdapat Roll of Honour yang terbuat dari panel perunggu membentang di sepanjang dinding. Panel itu mematri lebih dari 103 ribu nama anggota militer Australia yang gugur dalam tugas perang, dengan untaian bunga poppy warna merah. Roll of Honour ini mengabadikan nama 23 tentara Australia yang gugur dalam konfrontasi Indonesia-Malaysia di Indonesia. 

Baca juga : Tamsil Linrung: Bukti Keberpihakan Presiden Ke Daerah

Dalam konfrontasi itu, Australia merupakan sekutu Malaysia dan Inggris (1962-1966). Selain itu, ada juga nama sembilan tentara Australia yang gugur dalam musibah jatuhnya helikopter Sea King dari kapal HMAS Kanimbla, saat menjalankan misi kemanusiaan pasca gempa Nias, Sumatera Utara, pada 2 April 2005. 

Puas mengelilingi Roll of Honour, Rakyat Merdeka memasuki area museum yang memamerkan berbagai artefak, benda-benda bersejarah, dan diorama tentara Australia dalam berbagai medan perang. Antara lain, replika Anzac landing boat di Gallipoli, Turki, pada masa Perang Dunia I tahun 1915. 

Jelang pukul 16.30, Rakyat Merdeka bersiap ambil posisi untuk menyaksikan Last Post Ceremony atau upacara mengenang jasa-jasa pahlawan Negeri Koala yang telah gugur, dari lantai 2 Australian War Memorial Museum. Upacara yang juga dihadiri tentara Singapura dan Papua Nugini itu, diawali dengan kumandang Lagu Kebangsaan Australia, Advance Australian Fair, yang dilanjutkan dengan tiupan musik dari alat musik tiup khas Skotlandia: bagpipe dan pembacaan profil singkat pahlawan perang Australia. Baru setelah itu, dilakukan peletakan karangan bunga di hadapan foto para pejuang. 

Inilah bagian dari cara Australia mengenang jasa pahlawannya. Dan seperti pepatah yang sudah sering kita dengar, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. (Bersambung)

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.