Dark/Light Mode

Di GTH 2025: Anwar Desak Hapus Standar Ganda, Dino Pentingkan Peran Rakyat

Sabtu, 15 November 2025 22:06 WIB
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim (kanan) dan Dino Patti Djalal. (Foto Instagram)
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim (kanan) dan Dino Patti Djalal. (Foto Instagram)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim menegaskan, tatanan dunia hanya dapat dipulihkan jika praktik unilateral dan standar ganda benar-benar ditinggalkan. Saat ini ketegangan global terus meningkat—mulai dari konflik antarnegara, perang yang tak kunjung usai, hingga merosotnya kepercayaan publik terhadap lembaga multilateral.

Pernyataan itu disampaikan saat membuka Global Town Hall (GTH) 2025 bertema “Anticipating the Next World Order: What Should Remain, What Should Be Fixed, What Should Be Replaced.”

Forum yang digelar secara virtual selama 12 jam nonstop, Sabtu 15 November 2025, menghadirkan pemimpin dan tokoh dari berbagai negara.

Baca juga : HKN 2025, Asabri Komit Jaga Kesehatan Dan Kesejahteraan Peserta

Anwar menyebut Malaysia sebagai Ketua ASEAN yang baru, melihat dialog sebagai kebutuhan mendesak di tengah kompetisi global.

"Kami percaya kerja sama lebih baik daripada kompetisi. Malaysia ingin menjadi pusat persatuan global," ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal. Dia menilai, lembaga multilateral kini kehilangan relevansi, termasuk Dewan Keamanan PBB yang dinilai tidak mampu mendorong kemajuan penyelesaian konflik. Baik di Ukraina maupun tragedi kemanusiaan di Jalur  Gaza.

Baca juga : Astra dan IPB Bawa Ubi Desa ke Pasar Global, Petani Senang Pendapatan Naik

Namun, di tengah berbagai krisis, perlombaan senjata kembali menguat, sementara pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) tertinggal jauh. Menurut Dia, hanya 17 persen target SDGs yang masih berada di jalurnya," ujarnya

Meski demikian, Dino menyebut harapan masa depan dunia tidak sepenuhnya hilang. Dia menekankan bahwa kekuatan masyarakat sipil kini menjadi pendorong utama perubahan dan perdamaian global.

"Masyarakat sipil adalah kekuatan tak tergantikan dalam memperjuangkan martabat manusia, persatuan, dan kerja sama lintas batas," katanya.

Baca juga : Ekonomi RI Lampaui China Dan Singapura, Ekonom: Kebijakan Pemerintah Efektif

Dia mencontohkan penyelenggaraan pertemuan masyarakat sipil terbesar di Asia Tenggara oleh FPCI, serta keberhasilan organisasi mitra mereka—Global Citizen—mengumpulkan pendanaan hingga 1 miliar dolar AS untuk melindungi hutan Amazon.

Menurut Dino, masa depan yang lebih baik sebenarnya tidak berada di luar jangkauan umat manusia. Karena itu, ia menilai Global Town Hall penting sebagai wadah independen yang mempertemukan masyarakat sipil dari empat penjuru dunia secara setara.

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.