Dark/Light Mode

Dubes Jepang untuk ASEAN Yonetani Koji

Promosikan Budaya Lewat Matcha

Kamis, 11 Desember 2025 06:29 WIB
(Dari kanan) Dubes Yonetani Koji mengikuti upacara minum teh bersama Dubes Singapura untuk 
ASEAN Gerard Ho Wei Hong, Dubes Filipina untuk ASEAN Evangeline T. Ong, Dubes Malaysia 
untuk ASEAN Sarah Al Bakri Devadason, dan Wakil Sekretaris Jenderal ASEAN untuk bidang sosial 
budaya San Lwin di Sekretariat Jenderal ASEAN, Selasa (9/12/2025). (Foto Diananda Rahmasari/Rakyat Merdeka/RM.id)
(Dari kanan) Dubes Yonetani Koji mengikuti upacara minum teh bersama Dubes Singapura untuk ASEAN Gerard Ho Wei Hong, Dubes Filipina untuk ASEAN Evangeline T. Ong, Dubes Malaysia untuk ASEAN Sarah Al Bakri Devadason, dan Wakil Sekretaris Jenderal ASEAN untuk bidang sosial budaya San Lwin di Sekretariat Jenderal ASEAN, Selasa (9/12/2025). (Foto Diananda Rahmasari/Rakyat Merdeka/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perwakilan Jepang untuk Perhimpunan Negara Asia Tenggara (ASEAN) mempromosikan kuliner dan budaya bertema matcha pada Selasa (9/12/2025). Acara berlangsung di Sekretariat ASEAN, Jakarta, dan menampilkan sejarah serta berbagai hidangan dan minuman berbahan dasar matcha.

Matcha mulai populer secara global pada akhir 2010-an hingga awal 2020-an. Terutama karena dianggap memiliki manfaat kesehatan. Duta Besar Jepang untuk ASEAN Yonetani Koji mengatakan, tren tersebut sebagai bentuk soft diplomacy Negeri Matahari Terbit.

“Ini cara Jepang semakin dikenal dan dekat dengan banyak orang lewat indera pengecap,” ujarnya dalam acara bertajuk Experience Japanese Food Culture.

Dubes Yonetani menjelaskan, matcha pertama kali masuk ke Jepang pada era Dinasti Tang di China, dibawa para biksu Zen. Sejak itu, matcha menjadi bagian dari tradisi upacara minum teh Jepang yang sakral. Dahulu, matcha hanya dikonsumsi oleh kalangan bangsawan serta samurai untuk meningkatkan fokus.

Baca juga : MUI Serahkan Langsung Donasi Korban Bencana Sumatera

Dia menekankan, matcha berbeda dari teh hijau biasa (green tea). “Meski berasal dari tanaman yang sama, proses pembuatan dan bentuk produknya berbeda,” jelasnya.

Untuk penjelasan lebih rinci, Dubes Yonetani didampingi influencer matcha, Kuniyoshi Mueno. Kuniyoshi menuturkan bahwa perbedaan matcha dan green tea terlihat dari proses penanaman, pengolahan, rasa, hingga kandungan nutrisinya.

“Mudahnya, matcha berbentuk bubuk. Sedangkan green tea masih berupa lembaran daun,” ujarnya.

Matcha biasanya diolah menjadi matcha latte, cheesecake matcha, aneka kue kering, hingga cokelat matcha. Sementara green tea umumnya hanya diseduh dan diminum.

Baca juga : Gubernur Pramono Tunjuk Yuli Hartono Jadi Plt Wali Kota Jakarta Barat

Dalam acara tersebut, ditampilkan pula proses pembuatan matcha dan upacara minum teh oleh Chodo Urasenke Tankokai Indonesia Association.

Popularitas matcha yang terus menanjak turut menyebabkan meningkatnya permintaan matcha dan green tea, hingga pasokannya menipis di Jepang. Dubes Singapura untuk ASEAN Gerard Ho Wei Hong membenarkan fenomena tersebut.

“Di Singapura, semua yang berbau matcha pasti laku keras,” katanya.

Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn menilai, kuliner merupakan jembatan budaya yang efektif dalam mendekatkan masyarakat.

Baca juga : Dubes Al Busyra Ajak Mahasiswa Aktif Promosikan Wisata Indonesia

“Matcha bisa dinikmati semua kalangan dan usia. ASEAN juga terkena demam matcha,” ujarnya.

Acara ini dihadiri perwakilan negara sahabat untuk ASEAN, staf Sekretariat ASEAN, influencer kuliner, hingga jurnalis. Para tamu juga diajak mencoba upacara minum teh, membuat wagashi (kudapan manis pendamping teh), serta mencicipi berbagai makanan berbahan matcha seperti matcha choux, ichigo Daifuku dan matcha cheesecake.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.