Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Redam Konflik Thailand-Kamboja
Trump Siap Turun Tangan, Pakai Strategi Tarif Lagi?
Jumat, 12 Desember 2025 04:07 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump siap kembali turun tangan mendamaikan Thailand dan Kamboja. Bentrokan di perbatasan kedua negara itu dianggap sudah berlarut-larut.
Pada Rabu (10/12/2025), kontak senjata terjadi di lebih dari 12 titik di sepanjang perbatasan Thailand–Kamboja yang membentang sepanjang 817 kilometer (km). Insiden tersebut menjadi salah satu pertempuran paling intens sejak konflik lima hari pada Juli lalu, yang disebut sebagai salah satu yang terburuk dalam sejarah terbaru kedua negara.
Untuk kasus terbaru, Trump berencana kembali melakukan pembicaraan dengan para pemimpin Thailand dan Kamboja. “Saya pikir saya bisa menghentikan pertempuran mereka. Saya dijadwalkan berbicara dengan mereka besok (Kamis),” ujar Trump kepada wartawan, Rabu (10/12/2025).
Namun, Thailand kali ini menunjukkan sikap yang lebih berhati-hati terhadap upaya mediasi Trump maupun Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim, yang sebelumnya turut membantu tercapainya kesepakat an pada Juli lalu, dan berujung pada gencatan senjata yang diperpanjang pada 26 Oktober 2025.
Baca juga : Gema Bangsa Jabar Siapkan Langkah Strategis Jelang Rapimnas 2026
Pada Juli lalu, Trump berhasil menghentikan pertempuran lima hari Thailand-Kamboja melalui komunikasi langsung dengan para pemimpin kedua negara. Strategi Trump disertai ancaman penghentian pembicaraan dagang apabila konflik tidak segera diakhiri.
Pekan ini, bentrokan perbatasan kembali meletus, mengakhiri gencatan senjata yang didukung Trump. Namun, Thailand menegaskan persoalan tersebut seharusnya diselesaikan langsung oleh kedua negara. Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow telah menekankan bahwa penyelesaian konflik perbatasan harus tetap dipisahkan dari negosiasi perdagangan yang sedang berlangsung.
Pada Oktober, AS dan Thailand mengumumkan kerangka kerja perdagangan timbal balik yang mempertahankan tarif 19 persen untuk produk Thailand, sambil mengidentifikasi bidangbidang yang berpotensi untuk pemotongan tarif.
“Kami merasa tidak adil harus dikenakan tarif sepihak sebesar 19 persen. Mungkin mereka ingin memberlakukan tarif lebih tinggi lagi jika mereka tidak puas,” tegas Sihasak dalam wawancara pada Selasa (9/12/2025).
Baca juga : Gelar Dikpol Berbasis Data, Golkar Jabar Siapkan Strategi Pemenangan
Trump, dalam upayanya meraih Hadiah Nobel Perdamaian, telah berusaha menjadi mediator dalam sejumlah konflik dalam beberapa bulan terakhir. Kenyataannya, beberapa negara merasa tersinggung dalam prosesnya.
Upaya Trump menghentikan pertempuran antara India dan Pakistan Mei lalu, dengan menggunakan tarif tinggi sebagai alat tawar-menawar, telah memperburuk hubungan antara New Delhi dan Washington. Ini mengancam kemitraan strategis.
“Perlawanan Bangkok menjadi ujian bagi kebijakan tarif Trump. Tarif selalu menjadi alat penekan yang kasar,” kata Pengamat ilmu politik di Universitas Nasional Singapura Chong Ja Ian.
Saling Tuding
Di lapangan, situasi semakin panas. Kementerian Pertahanan (Kemhan) Kamboja menuduh militer Thailand melancarkan serangan baru di Wilayah Militer 4. Termasuk penembakan dan pemboman di sekitar kuil Tamone Thom, Ta Krabey, Thmar Daun dan Khnar.
Baca juga : Ke Malaysia, Thailand, Kamboja, Trump Kasih Tarif Impor Nol Persen
“Pasukan infanteri Thailand yang didukung tank bergerak ke Boeung Trakuon dan Prey Chan, menembaki pagoda Prey Chan,” terang Juru Bicara Kemhan Kamboja Letnan Jenderal Maly Socheata.
Kamboja juga mengklaim, jet tempur F-16 Thailand menjatuhkan dua bom di desa Slor Kram, Provinsi Banteay Meanchey. Thailand belum memberikan komentar atas tuduhan itu. Namun pihak militer Negeri Gajah Putih menuding, Kamboja menembakkan roket pada Rabu pagi yang jatuh dekat RS Phanom Dong Rak, yang memaksa evakuasi pasien ke bunker.
Sejak pecah lagi pada Senin (8/12/2025), bentrokan perbatasan itu telah menewaskan 11 orang. Yakni, tujuh warga Kaempat tentara Thailanditu telah menewaskan 11 orang. Yakni, tujuh warga Kamboja dan empat tentara Thailand.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya