Dark/Light Mode

Nonton Bareng The Last Accord

Perdamaian Tak Lahir Dari Keajaiban, Tapi Dari Keberanian Untuk Berdialog

Sabtu, 20 Desember 2025 07:06 WIB
Serahkan Donasi: Founder FPCI Dino Patti Djalal (kedua kiri) 
didampingi sang ibu, Zurni Hasyim Djalal (kiri) menyerahkan donasi 
kepada Ketua Bidang Lingkungan Hidup dan Adaptasi Iklim PMI Pusat 
Ninik Kun Naryatie (kedua kanan) dan Anggota Pengurus Pusat PMI 
Marsda TNI Purn. Tribowo Budi Santoso di acara pemutaran film soal 
perdamaian di Aceh, di Plaza Senayan, Jakarta, Kamis (18/12/2025). (Foto Larasati Dyah Utami/Rakyat Merdeka/RM.id)
Serahkan Donasi: Founder FPCI Dino Patti Djalal (kedua kiri) didampingi sang ibu, Zurni Hasyim Djalal (kiri) menyerahkan donasi kepada Ketua Bidang Lingkungan Hidup dan Adaptasi Iklim PMI Pusat Ninik Kun Naryatie (kedua kanan) dan Anggota Pengurus Pusat PMI Marsda TNI Purn. Tribowo Budi Santoso di acara pemutaran film soal perdamaian di Aceh, di Plaza Senayan, Jakarta, Kamis (18/12/2025). (Foto Larasati Dyah Utami/Rakyat Merdeka/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Lampu bioskop perlahan meredup di Plaza Senayan, Jakarta, Kamis (18/12/2025). Di dalam ruangan, para diplomat, akademisi, pegiat kemanusiaan, hingga generasi muda menyaksikan sebuah kisah tentang konflik, bencana dan harapan.

Film dokumenter The Last Accord: War, Apocalypse, and Peace in Aceh bukan sekadar tontonan, melainkan perjalanan emosional menelusuri salah satu bab penting dalam sejarah Indonesia.

Film tersebut merupakan produksi perdana Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Pictures, unit kreatif dari FPCI. Merekam perjalanan Aceh dari konflik bersenjata, bencana kemanusiaan, hingga membuka jalan menuju Perjanjian Damai Helsinki, termasuk peran komunitas internasional.

Baca juga : Ramon Tanque Belum Tajam, Tapi Janjikan Kebangkitan untuk Persib

Acara pemutaran ini dibuka dengan sambutan dari Ketua sekaligus Founder FPCI Dino Patti Djalal. “Saya selalu merasa sedih setiap selesai menonton film ini. Ketika melihat konflik Israel Palestina, perang Rusia dan berbagai konflik di belahan dunia lain, saya berharap mereka bisa terinspirasi oleh pesan utama film ini, bahwa tidak ada konflik yang berlangsung selamanya,” ujar Dino.

Disutradarai Arfan Sabran, sineas peraih berbagai penghargaan internasional, The Last Accord digarap selama dua tahun dengan riset mendalam. Dino, yang bertindak sebagai produser eksekutif, mengaku tantangan terbesar dalam pembuatan film ini adalah menyusun narasi yang berimbang dan akurat secara historis.

“Kami mewawancarai banyak pihak, bahkan hingga ke Finlandia dan Swedia, selain tentu saja ke Aceh. Tujuannya mencari cerita yang paling mendekati kebenaran sejarah,” katanya.

Baca juga : Makna Baru Gelar Pahlawan Nasional: Stabilitas, Kebebasan, dan Keberanian

Dino mengakui, pada awalnya banyak pihak—termasuk dirinya,—meyakini konflik bersenjata antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Indonesia tidak akan pernah berakhir. Namun sejarah berkata lain.

Tsunami dahsyat yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004 menjadi titik balik. Di tengah kehancuran dan duka mendalam, terbuka ruang bagi kemanusiaan, empati dan kepemimpinan baru. Perubahan politik, tekanan internasional, serta kelelahan kolektif akibat konflik panjang akhirnya berpadu, melahirkan momentum menuju Perjanjian Damai Helsinki 2005.

Film ini menghadirkan sejumlah tokoh kunci yang menjadi pelaku sejarah, antara lain mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, serta Ketua Juru Runding GAM Malik Mahmud Al-Haytar. Penonton diajak menyelami proses negosiasi yang panjang dan melelahkan, penuh ketegangan diplomatik serta perdebatan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.