Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Menlu ASEAN Bakal Gelar Pertemuan Khusus Di Malaysia Terkait Thailand-Kamboja
Minggu, 21 Desember 2025 16:19 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Association of Southeast Asian Nation (ASEAN) akan menyelenggarakan pertemuan khusus para Menteri Luar Negeri (Menlu) di Kuala Lumpur (KL), Malaysia, Senin (22/12/2025). Pertemuan ini akan membahas konflik perbatasan antara Thailand dan Kamboja.
Sejumlah Menlu ASEAN telah dikonfirmasi hadir pada pertemuan yang disebut Special Meeting ini. Menlu Thailand Sihasak Phuangketkeow disebut akan memimpin delegasi Thailand. Pemerintah Kamboja juga telah menyetujui untuk hadir di KL.
Juru Bicara 1 Kementerian Luar Negeri RI Yvonne Mewengkang juga memastikan kehadiran Menlu RI Sugiono. Ia juga menyebut, semua para Menlu ASEAN kemungkinan besar akan hadir langsung untuk membahas konflik Thailand-Kamboja.
"Menteri Luar Negeri Sugiono akan ke Kuala Lumpur untuk menghadiri ASEAN Ministerial Special Meeting terkait Thailand-Kamboja. Jadi, Menlu-Menlu ASEAN akan berkumpul di Kuala Lumpur pada tanggal 22 Desember di bawah Keketuaan Malaysia," kata Yvonne kepada Rakyat Merdeka, Minggu (21/12/2025).
Konflik Thailand dan Kamboja telah berlangsung sejak 7 Desember 2025. Konflik telah menewaskan sedikitnya 55 orang dari kedua belah pihak. Kamboja mencatat, 18 warga sipil tewas dan 79 lainnya terluka akibat konflik ini. Menurut pihak berwenang Thailand, 21 tentara dan 16 warga sipil tewas.
Baca juga : Thailand-Kamboja Kembali Mendidih
Yvonne menekankan, Indonesia secara konsisten menjalankan peran sebagai bridge builder, penengah konflik kedua negara. Dalam konteks ASEAN, Indonesia berkomitmen untuk mendorong solusi damai. Namun, tetap terus berkoordinasi dengan negara-negara terkait, termasuk melalui ASEAN Ministerial Special Meeting.
"Thailand dan Kamboja ini adalah saudara kita. Jadi kita akan semaksimal mungkin mencarikan solusi-solusi damai untuk menurunkan tensi eskalasi dari konflik ini, di bawah keketuaan Malaysia," ujarnya.
Hingga saat ini, belum ada informasi resmi terkait draft dokumen. Hasil pertemuan sangat bergantung pada pembahasan para Menteri Luar Negeri ASEAN dalam pertemuan tersebut.
Sementara Thailand menegaskan, tidak ingin ditekan pada pertemuan di Kuala Lumpur, Malaysia. Jubir Kemlu Thailand Maratee Nalita Andamo mengakui ada perhatian dan komentar dari negara-negara besar, seperti AS dan China Tetapi Thailand tidak mau berada di bawah tekanan internasional. Pihaknya juga tidak ingin dirugikan dalam forum ASEAN dan merasa posisinya cukup kuat dan mandiri dalam diplomasi kawasan.
"Sikap Thailand tetap jelas. Negara ini menginginkan perdamaian dan tidak menimbulkan ancaman maupun melanggar kedaulatan negara lain. Thailand secara konsisten menyatakan keinginannya untuk perdamaian yang berkelanjutan, dan Kamboja harus menunjukkan ketulusan dalam hal ini," kata Maratee sebagaimana dikutip The Nation Thailand, Sabtu (20/12/2025).
Baca juga : Gelar Raker 2025, APJAPI Gelar Perkuat Peran Strategis Industri Jasa Penagihan
Di Kamboja, lebih dari 300.000 warga Kamboja turun ke jalan untuk turut serta dalam aksi damai yang diselenggarakan oleh Union of Youth Federations of Cambodia (UYFC), Kamis (18/12/2025). Pawai ini mengangkat tema “March for Peace: Together for Peace” dan dipimpin langsung Wakil Perdana Menteri Kamboja dan Presiden UYFC Hun Many.
Hun Many adalah adik dari Perdana Menteri (PM) Kamboja Hun Manet dan putra dari mantan PM Hun Sen. Many menyerukan bahwa Kamboja tidak menginginkan konflik, melainkan mencari perdamaian dan rekonsiliasi.
Perang kedua negara tidak hanya menyebabkan korban tewas dan luka-luka. Hun Many mencatat sekitar 470.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka menuju tempat yang lebih aman. Lebih dari 1.000 sekolah ditutup, dan sejumlah infrastruktur penting rusak.
"Kita semua menyaksikan konsekuensi perang. Ini adalah bentrokan perbatasan kedua dalam konflik yang telah berlangsung tujuh bulan, dan rakyat Kamboja sepenuhnya menyadari bahaya perang,” kata Ketua UYFC Hun Many, sebagaimana dikutip Agence Kampuchea Presse.
Pawai dimulai dari kawasan Night Market menuju bundaran Samdech Chuon Nath dan berakhir di taman dekat Monumen Kemerdekaan, Phnom Penh, Kamboja. Phnom Penh mendesak penghormatan terhadap gencatan senjata dan perjanjian damai antara Kamboja dan Thailand.
Baca juga : SEA Games, Tim Bulutangkis Indonesia Terbang ke Thailand
Secara terpisah, Kepala Hak Asasi Manusia PBB Volker Turk khawatir karena laporan menyebutkan bahwa wilayah sekitar desa dan situs budaya diserang oleh jet tempur, drone, dan artileri. Ia menegaskan bahwa hukum humaniter internasional menekankan perlindungan warga sipil dan infrastruktur sipil.
"Kami mendesak kedua belah pihak untuk menghentikan tembakan segera dan kembali ke dialog," kata Volker Turk, sebagaimana dikutip Anadolu Ajansi, Jumat (19/12/2025).
Malaysia menyatakan siap menyelenggarakan pertemuan khusus para Menteri Luar Negeri ASEAN di Kuala Lumpur pada tanggal 22 Desember 2025 terkait Thailand dan Kamboja. Kemlu Malaysia dalam pernyataannya menegaskan, kedua negara dapat berdialog secara terbuka, menyelesaikan perbedaan secara damai untuk menuju solusi yang adil serta berkelanjutan.
"Pertemuan akan menjadi sarana bagi para Menlu ASEAN untuk bertukar pandangan mengenai upaya de‑eskalasi dan penghentian permusuhan," ungkap pernyataan resmi mereka.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya