Dark/Light Mode

Dari Wakil Presiden Ke Presiden Sementara, Ini Profil Delcy Rodriguez

Selasa, 6 Januari 2026 13:12 WIB
Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez, dilantik sebagai Presiden Sementara di hadapan Majelis Nasional pada Senin (5/1/2026) waktu setempat. (Foto Instagram @delcyrodriguezv)
Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez, dilantik sebagai Presiden Sementara di hadapan Majelis Nasional pada Senin (5/1/2026) waktu setempat. (Foto Instagram @delcyrodriguezv)

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez (56) resmi dilantik sebagai Presiden Sementara dalam sidang Majelis Nasional, Senin (5/1/2026) waktu setempat. Pelantikan dilakukan menyusul penangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat (AS) dalam operasi militer pada Sabtu (3/1/2026).

Berbicara di depan lembaga legislatif yang mayoritas anggotanya merupakan pendukung Pemerintah, Rodriguez kembali menegaskan penolakannya terhadap serangan militer yang berujung pada penangkapan dan pemindahan Presiden Nicolas Maduro serta Ibu Negara, Cilia Flores.

“Saya datang dengan rasa duka atas penculikan dua pahlawan yang kini disandera, Presiden Nicolas Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores,” ujar Rodriguez (56) di hadapan Majelis Nasional.

“Saya bersumpah akan bekerja tanpa lelah untuk menjamin perdamaian serta ketenangan spiritual, ekonomi, dan sosial rakyat kami,” tambahnya.

Rodriguez, yang sebelumnya berprofesi sebagai pengacara ketenagakerjaan, telah menjalankan tugas sebagai presiden sementara sejak serangan dini hari yang menyebabkan penangkapan tersebut.

Upacara pelantikan pada Senin itu dipimpin saudara Rodriguez, Jorge Rodriguez, selaku Ketua Majelis Nasional, serta putra Nicolas Maduro, Nicolas Maduro Guerra, yang memegang salinan Konstitusi Venezuela.

Baca juga : Persib Wajib Konsisten Saat Bertandang ke Markas Persik Kediri

Sejumlah tokoh penting dalam lingkaran pemerintahan Maduro turut hadir dalam acara tersebut. Di antaranya Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello dan Menteri Pertahanan Vladimir Padrino.

Dalam kesempatan yang sama, 283 anggota parlemen terpilih hasil pemilu Mei lalu turut dilantik.

Sementara itu, Pemerintahan Presiden AS Donald Trump memberi sinyal siap bekerja sama dengan Rodriguez, namun disertai peringatan keras. “Jika dia tidak melakukan hal yang benar, dia akan membayar harga yang sangat besar, mungkin lebih besar daripada Maduro,” ujar Trump dalam wawancara dengan majalah The Atlantic, Minggu (4/1) waktu setempat.

Sehari sebelumnya, dalam pidato yang disiarkan di televisi saat mengumumkan serangan tersebut, Trump mengatakan bahwa pemerintahannya berencana untuk mengelola negara kaya minyak itu. "Hingga saat kita dapat melakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana," ungkapnya.

Di atas pesawat Air Force One pada Minggu, saat terbang kembali ke Washington DC, Trump mempertegas pernyataan tersebut.

“Jangan tanya saya siapa yang memimpin, karena jawaban saya akan sangat kontroversial. Kami yang memimpin,” katanya kepada para wartawan.

Baca juga : Bos Danantara Menghadap Presiden Prabowo Di Kertanegara, Ini Yang Dilaporkan

Presiden ke-47 AS itu menambahkan, Rodriguez bersedia bekerja sama.  Meskipun begitu, Trump secara pribadi belum berbicara dengan Rodriguez.

“Kami sedang berurusan dengan orang-orang yang baru saja dilantik," tegasnya.

Sebelumnya, dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah VTV (Venezolana de Televisión), Rodriguez menyebut operasi militer AS sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan kedaulatan Venezuela.

 Putri Pejuang Gerilya

Rodriguez, lahir di Caracas pada 18 Mei 1969, merupakan putri Jorge Antonio Rodriguez, pejuang gerilyawan kiri sekaligus pendiri partai revolusioner Liga Sosialis pada era 1970-an. Rodriguez menempuh pendidikan hukum di Central University of Venezuela, salah satu universitas terbaik di Amerika Latin, dan lulus pada 1993.

Semasa kuliah, ia aktif dalam organisasi mahasiswa dan sempat mengikuti program spesialisasi hukum ketenagakerjaan di Paris. Karier awalnya banyak berkutat di bidang hukum dan akademik. Ia pernah mengajar hukum di almamaternya serta menjabat presiden serikat dalam Asosiasi Pengacara Ketenagakerjaan Venezuela.

Karier politik Rodriguez lekat dengan chavismo, gerakan yang dirintis Presiden Hugo Chavez dan dilanjutkan Nicolas Maduro. Bersama saudaranya, Jorge Rodriguez, ia menjadi figur kunci sejak akhir pemerintahan Chavez hingga periode pascakematian Chavez pada 2013.

Baca juga : Bank Mandiri Bakal Tebar Dividen Interim Sebesar Rp 9,3 Triliun

Rodriguez memulai kiprah di kabinet sebagai Menteri Komunikasi dan Informasi pada 2013–2014. Setahun kemudian, ia diangkat menjadi Menteri Luar Negeri hingga 2017, mewakili Venezuela di berbagai forum internasional termasuk PBB.

Pada 2017, ia dipercaya memimpin Majelis Konstitusi Nasional, badan yang dibentuk setelah oposisi menguasai Majelis Nasional. Setahun kemudian, Maduro menunjuknya sebagai wakil presiden, posisi yang ia pertahankan hingga masa jabatan ketiga Maduro pada 2025.

Selain itu, Rodriguez juga merangkap jabatan strategis sebagai Menteri Ekonomi, Keuangan, dan Perminyakan.

Maduro Di Pengadilan AS

Pelantikan Rodriguez berlangsung saat Nicolas Maduro menghadapi sidang dakwaan di Pengadilan New York, Amerika Serikat. Jaksa Federal AS mendakwa Maduro dengan empat tuduhan, termasuk konspirasi terorisme narkoba, konspirasi impor kokaina, kepemilikan ilegal senjata mesin, serta konspirasi kepemilikan perangkat perusak.

Maduro membantah seluruh dakwaan tersebut, termasuk tudingan penyalahgunaan kekuasaan negara untuk mengekspor ribuan ton kokaina ke Amerika Utara. Di hadapan pengadilan, Maduro menegaskan dirinya masih menjabat sebagai pemimpin sah Venezuela.

“Saya masih presiden,” pungkas Maduro.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.