Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Target evaluasi program Makan Bergizi Gratis jangan sekadar “tidak ada ada lagi murid yang keracunan”.
Program ini harus bisa menertibkan semua masalahnya. Dari hulu sampai ke hilir. Selain itu, program mulia ini, diharapkan bisa memperkuat nilai-nilai tanggung jawab, kedisiplinan dan kebersihan. Sampai regenerasi petani.
Misalnya: siswa lebih dilibatkan dalam proses makannya. Mengambil sendiri makanan atau tempat makannya. Harus tertib. Tidak berdesak-desakan seperti di pasar malam.
Saat memulai makan, diajarkan tata caranya. Berdoa dan sebagainya. Selesai makan, secara mandiri mereka bisa membersihkan tempat makan dan mengembalikannya ke tempat yang semestinya. Tidak ada lagi nasi yang tercecer di meja. Tidak ada lagi sendok yang tergeletak sembarangan.
Baca juga : “Kecil Dan Mengguncang”
Ini hanya salah satu contoh, dan mungkin sudah berjalan. Tapi, sebaiknya dijadikan prosedur tetap. Bahwa, program MBG bukan hanya soal “perut” tapi juga bisa mengajarkan nilai-nilai. Membangun karakter. Membangkitkan kesadaran pentingnya kebersihan, tata tertib serta tanggung jawab.
Lebih baik lagi kalau murid diajarkan tentang proses atau asal-usul makanan, pentingnya gizi seimbang, serta budaya makan sehat. Ini bisa jadi “mata pelajaran” tersendiri. Apalagi kalau bisa mendatangkan guru tamu, seorang ahli gizi.
Dengan mempelajari proses, anak-anak yang tidak terlalu mengenal sawah, bisa mengetahui bagaimana nasi bisa sampai ke piring mereka. Dari situ, mereka bisa menghargai profesi petani atau nelayan.
Ini penting, karena saat ini jumlah petani, turun drastis. Anak-anak muda enggan menjadi petani, sementara usia petani kian menua.
Baca juga : Indonesia Kembali!
Krisis regenerasi petani menjadi problem serius di Indonesia. Program MBG diharapkan membangkitkan minat generasi muda untuk menjadi petani.
Dari sini kita berharap, lahir produsen yang cerdas: generasi petani modern yang menggunakan aplikasi pertanian yang canggih. Bukan sekadar konsumen MBG. Tapi produsen.
Berdasarkan Sensus Pertanian 2023 dari Badan Pusat Statistik (BPS), dalam sepuluh tahun terakhir, jumlah petani di Indonesia mengalami penurunan. Dari 31,7 juta menjadi 29,3 juta. Regenerasinya sangat mengkhawatirkan.
Yang juga perlu disadari, saat ini, tantangannya bukan hanya “mengentaskan” masalah gizi anak-anak di sekolah, tapi juga mengentaskan kemiskinan di banyak rumah tangga di Indonesia. Rumah tempat anak-anak tumbuh dan berkembang.
Baca juga : Kepercayaan Yang Ternoda
Saat ini, 23 juta orang Indonesia masih dililit kemiskinan. Bahkan kemiskinan ekstrem. Itu data BPS. Data Bank Dunia lebih memprihatinkan lagi: mencapai 194 juta orang.
Karena itu, kita berharap, evaluasi program MBG bukan sekadar “menghindari keracunan”. Tapi, ada target-target lain yang lebih komprehensif.
Salah satunya, tentu saja: bagaimana bangsa ini bisa Merayakan Kehidupan. Bukan mengerdilkan korban. Termasuk korban keracunan MBG.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Minggu, 28 September 2025 dengan judul "Dari Perut Ke Petani Modern"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.