Dark/Light Mode

Iran Membara, 2.500 Demonstran Tewas

Kamis, 15 Januari 2026 08:23 WIB
Massa pendukung Pemerintah Iran menghadiri unjuk rasa di Taheran, Iran, Senin (12/1/2026). (Foto: REUTERS)
Massa pendukung Pemerintah Iran menghadiri unjuk rasa di Taheran, Iran, Senin (12/1/2026). (Foto: REUTERS)

RM.id  Rakyat Merdeka - Mata dunia saat ini tertuju ke Iran akibat ribuan demonstran tewas dalam serangkaian aksi protes melawan Pemerintah di negeri Mullah tersebut.

Lebih dari setengah bulan, Iran dilanda gelombang unjuk rasa. Awalnya, 28 Desember 2025, unjuk rasa digelar di area Grand Bazaar, Teheran. Saat itu, sebagian besar pedagang dan pemilik toko memprotes memburuknya kondisi ekonomi.

Dari sana, unjuk rasa berubah menjadi gerakan lebih luas dan menentang Pemerintah. Aksi diwarnai kerusuhan dan rentetan kekerasan. Korban pun berjatuhan.

Data versi kelompok HAM yang berbasis di AS, Human Rights Activists News Agency (HRANA), menyebutkan bahwa 2.571 orang tewas selama gelombang unjuk rasa. Jumlah tersebut mencakup 2.403 demonstran, 147 individu yang berafiliasi dengan Pemerintah Iran, 12 anak berusia di bawah 18 tahun, dan 9 warga sipil non-demonstran. Lebih dari 1.000 orang lainnya luka-luka. HRANA melaporkan lebih dari 10.700 orang ditahan selama unjuk rasa berlangsung.

Pemerintah Iran mengakui ada korban dalam unjuk rasa itu. Namun, dalam siaran resmi televisi Pemerintah, Selasa (13/1/2026), tidak disebutkan secara pasti angka korban yang meninggal.

Baca juga : Prabowo Siapkan IKN Ibu Kota Politik 2028

Gelombang aksi yang mendukung Pemerintah Iran juga tak kalah besar. Massa yang berisi puluhan ribu orang berkumpul di jalanan dan memenuhi Lapangan Enqelab, Teheran, Senin (12/1/2026).

Seperti dilaporkan The Guardian, televisi Pemerintah menayangkan aksi itu sebagai dukungan ke Pemerintah Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Zionis. Massa aksi mendengarkan pidato Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, yang mengecam intervensi Barat atas negaranya.

Ghalibaf mengatakan, Iran sedang berperang di banyak front, yaitu perang ekonomi dan psikologis, perang militer melawan AS dan Israel, dan perang melawan terorisme. Dengan latar spanduk slogan “Matilah Israel, Matilah Amerika" dalam bahasa Persia, Ghalibaf bersumpah bahwa militer Iran akan memberi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pelajaran yang tak terlupakan jika Iran diserang.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian ikut turun langsung ke jalanan bergabung dengan para demonstran pro-Pemerintah yang memadati ibu kota. Di depan massa aksi, Presiden Pezeshkian menyatakan komitmennya segera memperbaiki kondisi perekonomian Iran yang saat ini terpuruk. 

Sementara, pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan, demonstrasi pro-Pemerintah adalah peringatan kepada para politisi AS menyusul ancaman dari Trump, untuk melakukan intervensi militer di Iran. "Aksi unjuk rasa besar-besaran ini penuh tekad, telah menggagalkan rencana musuh asing yang seharusnya dilakukan oleh tentara bayaran dalam negeri," tegasnya, dilansir televisi Pemerintah Iran.

Baca juga : Kunjungi Papua, Gibran Cek Sekolah Hingga Borong Ikan

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, sejak Senin (12/1/2025), situasi telah terkendali. "Kabar demonstrasi berubah menjadi kekerasan dan berdarah untuk memberi alasan kepada Presiden Amerika untuk campur tangan," kata Araghchi, seperti dikutip Al Jazeera.

Unjuk rasa ini dipicu krisis ekonomi Iran, ditandai jatuhnya nilai tukar rial Iran hingga 2.280,98 persen. Saat ini, nilai tukarnya mencapai 1.000.010 rial per 1 dolar AS. Padahal, pada Oktober tahun lalu, nilai tukarnya masih di angka 42.000 rial per dolar AS.

Pelemahan mata uang ini menyebabkan harga barang impor meroket dan memicu inflasi tajam yang mencapai 52,6 persen sejak Oktober 2024. Presiden Pezeshkian mengakui, kondisi ini sangat memberatkan rakyat dan berjanji akan bekerja sama dengan jajaran menteri untuk mengendalikan mata uang dan inflasi.

Kedutaan Besar (Kedubes) Republik Islam Iran di Jakarta dalam pernyataan terbarunya menjelaskan, demo sejak 28 Desember 2025 dipicu masalah ekonomi. Demonstrasi awalnya dilakukan kelompok pelaku usaha di Iran yang menuntut stabilitas pasar dan menerapkan langkah ekonomi yang efektif.

"Unjuk rasa bermotif mata pencaharian dan sebagai reaksi dampak negatif fluktuasi mata uang terhadap kegiatan bisnis dan daya beli," tulis Kedubes Iran di Jakarta, dalam siaran pers yang diterima, Rabu (14/1/2026).

Baca juga : Pemulihan Pasca-Bencana, Sumbar Paling Duluan Normal

Kedubes Iran menegaskan, unjuk rasa di periode Desember 2025 masih kondusif dan terkendali. Namun, belakangan diwarnai para penyusup yang memicu kericuhan. Iran menuding ada kelompok yang memanfaatkan situasi politik di Iran untuk memancing warga Iran melakukan kerusuhan.

"Sayangnya, menurut dokumentasi yang ada, dalam beberapa kasus, unjuk rasa damai disalahgunakan sengaja oleh sejumlah kecil elemen kekerasan yang berafiliasi terhadap gerakan yang disetir dari luar. Sehingga menyebabkan perusakan properti publik, penyerangan terhadap lembaga penegak hukum, dan penggunaan alat pembakar dan bahkan senjata api," tulis Kedubes Iran.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan dukungan kepada para demonstran dan mengancam akan melakukan intervensi militer ke Iran. Dalam pernyataan terbaru, Selasa (13/1/2026), Trump menyerukan warga Iran untuk terus berunjuk rasa. Dia pun menjanjikan bantuan akan segera datang.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.