Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
WMO: Rekor Pemanasan Global Dalam 11 Tahun Terakhir Berlanjut
Kamis, 15 Januari 2026 07:35 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Badan Cuaca PBB (World Meteorology Organization/WMO ) mengkonfirmasi bahwa tahun 2025, yang merupakan salah satu dari tiga tahun terpanas, melanjutkan tren suhu global yang luar biasa. WMO yang menganalisis delapan kumpulan data internasional mengungkap, suhu permukaan rata-rata global tahun 2025 tercatat 1,44°C lebih tinggi dari rata-rata tahun 1850 hingga 1900.
Dua dari kumpulan data ini menempatkan tahun 2025 sebagai tahun terpanas kedua dalam 176 tahun terakhir, dan enam lainnya menempatkannya sebagai tahun terpanas ketiga.
2025 Lebih Dingin Karena Ada La Nina
Baca juga : 11 Daerah Terdampak Bencana Normal Lagi
Fenomena La Nina yang dikaitkan dengan cuaca lebih dingin menjelaskan, tahun 2025 terasa sedikit hangat dibanding rata-rata tiga tahun dari tahun 2023. Namun WMO menegaskan, pendinginan sementara akibat La Nina tidak membalikkan tren jangka panjang peningkatan suhu.
“Tahun 2025 dimulai dan berakhir dengan La Nina yang mendingin, namun tetap menjadi salah satu tahun terpanas yang pernah tercatat secara global karena akumulasi gas rumah kaca yang menjebak panas di atmosfer kita,” kata Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo dalam keterangannya, Rabu (14/1/12026).
Baca juga : MDMC Perkuat Pemulihan Mental 600 Guru dan Siswa Terdampak Bencana
WMO menambahkan, suhu tinggi di darat dan laut pada tahun 2025 turut memicu cuaca ekstrem, termasuk gelombang panas, curah hujan lebat, dan siklon tropis yang mematikan, yang menggarisbawahi perlunya sistem peringatan dini.
Mengutip studi terpisah, WMO menyoroti bahwa suhu laut juga termasuk yang tertinggi dalam catatan tahun lalu. Ini mencerminkan akumulasi panas jangka panjang dalam sistem iklim.
Baca juga : Roma Panaskan Klasemen Serie A
Secara regional, sekitar 33 persen dari wilayah laut global termasuk dalam tiga kondisi terpanas dalam sejarahnya (1958–2025). Sekitar 57 persen termasuk dalam kelompok lima teratas, termasuk Samudera Atlantik tropis dan Selatan, Laut Mediterania, Samudera Hindia Utara, dan Samudera Selatan yang menggarisbawahi pemanasan laut yang luas di berbagai cekungan.
Rincian lengkap tentang indikator perubahan iklim utama, termasuk gas rumah kaca, suhu permukaan, panas laut, dan tren lainnya akan disampaikan WMO dalam laporan State of the Global Climate 2025 yang akan diterbitkan pada Maret 2026.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya