Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
14 Ribu Penerbangan Dibatalkan, Listrik Mati
Amerika Serikat Dilanda Badai Dingin Dahsyat
Senin, 26 Januari 2026 07:50 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Amerika Serikat dilanda badai dingin dahsyat. Sekitar 14 ribu penerbangan dibatalkan dan ratusan ribu warga kehilangan aliran listrik akibat cuaca ekstrem yang menyapu berbagai wilayah negeri Paman Sam.
Badai musim dingin ini terus bergerak ke wilayah timur laut dan diperkirakan berdampak pada hingga 240 juta penduduk. Gangguan meluas terjadi di sektor transportasi, kelistrikan, hingga aktivitas ekonomi harian warga. Massa udara dingin ekstrem yang menetap membawa hujan salju tebal dan hujan beku di banyak negara bagian.
Data pelacak penerbangan Flight-Aware mencatat, sekitar 14.000 penerbangan masuk dan keluar Amerika Serikat terpaksa dibatalkan sepanjang akhir pekan. Ribuan penerbangan lainnya mengalami penundaan akibat landasan tertutup salju dan kondisi cuaca yang membahayakan keselamatan penerbangan.
Badan Layanan Cuaca Nasional Amerika Serikat (National Weather Service/NWS) memperingatkan dampak badai belum akan mereda dalam waktu dekat. Salju dan hujan es diperkirakan masih berlangsung hingga pekan depan, disertai pembekuan ulang yang membuat jalan raya tetap licin dan berbahaya.
Baca juga : Status TSK Mantan Sekjen DPR, KPK Pegang Alat Bukti Kuat
“Dampak salju dan hujan es akan bertahan hingga minggu depan dengan beberapa kali pembekuan ulang yang membuat permukaan tetap licin dan berbahaya,” kata NWS, Minggu (25/ 1/2026).
Selain melumpuhkan transportasi udara, badai dingin ini juga memicu pemadaman listrik di berbagai wilayah. Hingga Minggu pagi, lebih dari 180 ribu pelanggan dilaporkan kehilangan pasokan listrik. Texas menjadi salah satu wilayah terparah dengan sekitar 45 ribu pelanggan terdampak, disusul Louisiana dengan 67 ribu pelanggan, berdasarkan data situs pemantau poweroutage.us.
Hujan salju lebat tercatat di wilayah tengah Amerika Serikat seperti Kansas, Oklahoma, dan Missouri. Ketebalan salju di sejumlah titik mencapai delapan inci atau sekitar 20 sentimeter. Sementara di Dallas, Texas, hujan es mengguyur kota yang biasanya relatif hangat pada Januari. Suhu anjlok hingga 21 derajat Fahrenheit atau minus 6 derajat Celsius.
Pemerintah federal dan negara bagian meningkatkan kewaspadaan nasional. Sedikitnya 20 negara bagian, termasuk ibu kota Washington, D.C., menetapkan status keadaan darurat. Aparat keamanan, petugas darurat, hingga Garda Nasional dikerahkan untuk membantu evakuasi warga, membersihkan jalan, dan menjaga infrastruktur vital.
Baca juga : PKB Janji Perjuangkan Gaji Guru Honorer 5 Juta Per Bulan
Kepala Departemen Keamanan Dalam Negeri AS Kristi Noem, mengimbau warga untuk membatasi aktivitas luar ruangan.
“Bersikaplah bijak, tetap di rumah jika memungkinkan,” serunya.
Menteri Transportasi AS Sean Duffy menyatakan, badai ini berpotensi memengaruhi hingga 240 juta warga. Pemerintah pusat terus berkoordinasi dengan negara bagian untuk meminimalkan risiko korban jiwa dan gangguan lanjutan.
Presiden AS Donald Trump juga menyatakan terus memantau perkembangan badai di seluruh wilayah. “Kami akan terus memantau dan tetap berhubungan dengan semua negara bagian yang berada di jalur badai ini. Tetap aman dan tetap hangat,” tulis Trump melalui akun Truth Social.
Baca juga : Transformasi Berbuah Manis, Saham Telkom Melesat
Di New York, Gubernur Kathy Hochul menyebut seluruh wilayah negara bagiannya berada dalam ancaman badai musim dingin. Pemerintah negara bagian menyiapkan lebih dari 1.600 alat pembersih salju serta 114 ribu ton garam untuk menjaga jalan tetap dapat dilalui.
Sementara itu, Wali Kota New York City Zohran Mamdani memastikan ribuan petugas sanitasi dan ratusan kendaraan pembersih salju disiagakan. Meski transportasi umum masih beoperasi, warga diimbau membatasi mobilitas dan hanya bepergian untuk keperluan mendesak.
Pemerintah Amerika memperingatkan, badai musim dingin kali ini berpotensi menjadi salah satu yang paling luas dampaknya dalam beberapa tahun terakhir.
Selain menguji kesiapan infrastruktur, cuaca ekstrem ini kembali menegaskan rapuhnya sistem transportasi dan energi menghadapi perubahan iklim global. [UMM]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya