Dark/Light Mode

Pengamat: Protes Dan Tekanan Global Dorong Iran Ke Fase Ketegangan Baru

Senin, 26 Januari 2026 15:42 WIB
Ilustrasi. (Pexels)
Ilustrasi. (Pexels)

RM.id  Rakyat Merdeka - Situasi keamanan dan politik di Iran kian memburuk seiring berlanjutnya gelombang protes massal yang telah berlangsung hampir satu bulan. Di tengah tekanan ekonomi berat dan meningkatnya tensi kawasan, Iran juga menuding adanya infiltrasi intelijen asing yang memperbesar risiko eskalasi konflik terbuka dengan Amerika Serikat dan Israel.

Pengamat geopolitik Kolonel Dedy Yulianto menilai gelombang protes di Iran berpotensi bertahan dalam hitungan minggu hingga bulan ke depan, sebelum kemungkinan ditekan secara represif oleh aparat keamanan. Namun, menurutnya, kondisi tersebut justru membuka ruang bagi operasi militer terbatas atau misi rahasia yang mengancam kepemimpinan senior Iran.

“Situasi dalam negeri yang tidak stabil kerap dimanfaatkan oleh aktor eksternal untuk melemahkan struktur kekuasaan,” kata Dedy, dalam keterangannya, Senin (26/1/2026).

Berdasarkan laporan Human Rights Activists News Agency (HRANA), sedikitnya 5.002 orang dilaporkan tewas dan hampir 27.000 orang ditangkap sejak protes pecah 25 hari lalu. Angka tersebut menjadikan krisis saat ini sebagai salah satu yang terburuk dalam sejarah modern Iran dari sisi kemanusiaan.

Baca juga : Indonesia Dorong Aksi Konkret Pasca COP30

Berbeda dengan gelombang protes 2022 yang dipicu kasus Mahsa Amini, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei secara terbuka menuding keterlibatan agen intelijen asing. Otoritas Iran mengklaim telah menangkap 297 orang yang diduga terkait dengan badan intelijen Israel, Mossad.

Pemerintah Iran juga ditengarai menerapkan strategi yang disebut sebagai “jebakan digital”, dengan mengaktifkan layanan internet satelit Starlink saat jaringan nasional dimatikan. Langkah tersebut diduga digunakan untuk melacak dan memetakan aktivitas agen asing di dalam negeri. Dugaan ini menguat setelah pernyataan kontroversial Menteri Warisan Budaya Israel, Amichai Eliyahu, yang menyebut dukungan teknologi komunikasi bagi kelompok oposisi Iran.

Dedy menyebut aktivitas intelijen asing di Iran tidak hanya sebatas pengumpulan informasi. “Ada indikasi sabotase obyek vital, penargetan ilmuwan nuklir dan pimpinan militer, hingga peluncuran drone dari dalam wilayah Iran,” nilai Analis Madya Humas Biro Humas dan Infohan Setjen Kementerian Pertahanan itu.

Meski demikian, ia menegaskan tekanan eksternal justru kerap memperkuat nasionalisme Iran. “Iran bukan Venezuela atau Greenland. Tekanan keras sering membuat elite dan sebagian rakyatnya semakin solid,” ujarnya.

Baca juga : Perkuat Kualitas Layanan, IFG Life Dorong Kemudahan Proses Klaim

Di tingkat kawasan, risiko konflik dinilai meningkat setelah Amerika Serikat mengerahkan gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln ke Samudra Hindia, didampingi tiga kapal perusak. Washington juga menambah kehadiran militernya di Timur Tengah, termasuk tiga kapal tempur di Bahrain dan sekitar 5.700 personel tambahan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi mobilisasi tersebut pada 22 Januari 2026.

Eskalasi ini berdampak langsung pada pasar energi global. Harga minyak mentah Brent tercatat naik ke level 65,20 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) mencapai 60,44 dolar AS per barel. Sebagai anggota OPEC dengan produksi lebih dari 3 juta barel per hari, instabilitas Iran dinilai mengancam pasokan minyak dunia.

Ancaman penutupan Selat Hormuz kembali mencuat sebagai kartu tekanan Teheran. Namun, Dedy menilai langkah tersebut berisiko tinggi. “Taktik lama ini bisa digunakan, tetapi berpotensi merugikan Iran sendiri,” ujarnya.

Saat ini, China disebut menjadi penopang utama ekonomi Iran dengan menyerap sekitar 90 persen ekspor minyak negara tersebut. Dari sisi domestik, tekanan ekonomi Iran semakin berat. Nilai tukar Rial dilaporkan anjlok drastis dari sekitar 70 Rial per dolar AS pada 1979 menjadi 1,47 juta Rial per dolar AS saat ini. Inflasi pangan yang menembus 70 persen memperluas krisis ke seluruh lapisan masyarakat.

Baca juga : Komite III DPD Dan BPKH Bahas Penguatan Tata Kelola Keuangan Haji

"Keruntuhan mata uang ini bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan cerminan keputusasaan nasional,” kata Dedy.

Di tengah eskalasi tersebut, Indonesia dinilai menghadapi tantangan diplomatik yang kompleks. Ketegangan Iran berpotensi berdampak pada harga energi domestik dan keamanan jalur pelayaran internasional yang vital bagi Indonesia.

Menurut Dedy, Indonesia kemungkinan akan terus mendorong de-eskalasi dan solusi non-militer, sambil menjaga hubungan historis dengan Iran serta kemitraan strategis pertahanan dengan Amerika Serikat.

“Diplomasi jalan tengah menjadi kunci agar Indonesia tidak terseret dalam polarisasi tajam akibat kebijakan tekanan maksimum Washington,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.