Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Terbang ke Beijing, PM Inggris Keir Starmer Ogah Abaikan Peluang Dagang China
Selasa, 27 Januari 2026 19:58 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Ketika Amerika Serikat (AS) makin agresif menekan mitra dagangnya, Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer menjajaki kerja sama dengan China. Starmer menegaskan, London tak bisa menutup mata terhadap peluang ekonomi yang ditawarkan Beijing.
Pernyataan itu disampaikan Starmer Senin (26/1/2026), dalam wawancara dengan Bloomberg News, menjelang kunjungannya ke China, 28-31 Januari ini. Perjalanan tersebut akan menjadikannya PM Inggris pertama dalam delapan tahun terakhir yang menginjakkan kaki di Negeri Tirai Bambu.
Starmer menyebut lawatan ini bakal membuka peluang besar bagi perusahaan-perusahaan Inggris. Namun dia menegaskan, Inggris tidak mau dipaksa memilih antara China atau AS, saat memanasnya tensi dagang dua kekuatan dunia tersebut.
“Kami tetap menjaga hubungan erat dengan AS, baik di bidang bisnis, keamanan, maupun pertahanan,” kata Starmer, seraya mengingatkan, bersikap seolah China tak ada justru langkah yang tak masuk akal.
“Menyembunyikan kepala di pasir dan mengabaikan China bukan pilihan yang bijak,” tegasnya, dilansir BBC.
Puluhan pemimpin bisnis Inggris dijadwalkan ikut serta dalam kunjungan ini. Terakhir kali pemimpin Inggris menyambangi China adalah pada 2018, saat Theresa menduduki Downing Street. Agenda Starmer mencakup pertemuan di Beijing dan Shanghai.
Baca juga : Prabowo Kantongi Komitmen Inggris Pulihkan 57 Taman Nasional
Kunjungan ini berlangsung di tengah hubungan yang sedang panas antara AS dan para sekutunya. Presiden AS Donald Trump belakangan memicu kegaduhan dengan ancaman tarif terhadap negara-negara sekutu, karena penolakan atas idenya menguasai Greenland.
Trump juga menuai kecaman di Inggris setelah menyebut pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) “kurang maju” di garis depan Afghanistan. Padahal sekitar 3.500 tentara sekutu tewas dalam konflik tersebut. Di antaranya 2.456 dari pihak AS, 457 adalah Britania Raya. Denmark, yang memiliki populasi sekitar 5 juta saat invasi dimulai, kehilangan lebih dari 40 tentara.
Tak hanya itu, Trump bahkan mengancam sekutunya, Kanada dengan tarif 100 persen jika Ottawa nekat meneken perjanjian dagang dengan China.
"Di saat Trump yang semakin merusak tatanan global, China mungkin bukan sekutu, tetapi juga bukan musuh," ujar Direktur Lau China Institute di King's College London Kerry Brown, kepada AFP, Senin (26/1/2026). D
Mantan Menlu Inggris Jeremy Hunt mendukung kunjungan tersebut, namun mengingatkan risikonya. Menurut Hunt, China memiliki kepentingan strategis untuk merenggangkan hubungan Inggris dan AS.
“Ini benar-benar tali diplomasi yang tipis yang harus dilalui Keir Starmer,” kata Hunt kepada BBC Radio 4.
Baca juga : Prabowo Dan PM Inggris Perkuat Kemitraan Maritim Hingga Pendidikan
“Ada keuntungan dari perdagangan dengan China, tapi risikonya juga sangat besar," imbuhnya.
Lawatan Starmer juga berdekatan dengan keputusan Pemerintah Inggris yang menyetujui pembangunan kompleks Kedutaan Besar China di pusat Kota London.
Kebijakan ini awalnya menuai kritik dari partai oposisi dan warga setempat. Namun di sisi lain, Inggris menunggu restu proyek renovasi Kedutaan Besar Inggris di China senilai 100 juta poundsterling.
Era Keemasan China-Inggris
London dan Beijing menikmati apa yang mereka sebut sebagai "Era Keemasan" satu dekade lalu. Saat itu, PM David Cameron dan Presiden China Xi Jinping terlihat menikmati bir bersama di sebuah pub Inggris.
Namun hubungan kedua negara memburuk sejak 2020, ketika Beijing memberlakukan Undang-Undang Keamanan Nasional di Hong Kong dan menindak aktivis pro-demokrasi di bekas koloni Inggris tersebut.
Pelanggaran hak asasi manusia, dugaan spionase dan serangan siber, serta dukungan China terhadap perang Rusia di Ukraina juga memicu merenggangnya hubungan Inggris dan China.
Baca juga : Perkuat Lini Belakang, Persis Datangkan 2 Pemain Asal Serbia
Meski demikian, China tetap menjadi mitra dagang terbesar ketiga Inggris, saat ekspor Inggris ke salah satu negara Asia Timur terus anjlok dari tahun ke tahun hingga 52,6 persen pada 2025.
Hubungan Beijing dan London mulai mencair setelah Starmer mengambil alih kepemimpinan pada 2024 menyusul pertemuan tertutup dengan Xi di Brazil.
Starmer dan Xi sepakat berupaya bekerja sama dalam isu-isu seperti perubahan iklim. Namun, perselisihan berkepanjangan mengenai rencana China untuk membangun kedutaan besar baru yang besar di London mempersulit rencana kunjungan Starmer.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya