Dark/Light Mode

6.000 Demonstran Dilaporkan Tewas Di Iran

Kapal Induk AS Merapat, Timur Tengah Panas Dingin

Rabu, 28 Januari 2026 04:01 WIB
Kapal USS Abraham Lincoln berlayar di Samudra Pasifik. (Foto U.S. Navy by Mass Communication Specialist Seaman Apprentice Daniel Kimmelman)
Kapal USS Abraham Lincoln berlayar di Samudra Pasifik. (Foto U.S. Navy by Mass Communication Specialist Seaman Apprentice Daniel Kimmelman)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketegangan di Timur Tengah meningkat tajam, menyusul kehadiran kapal induk Amerika Serikat (AS), USS Abraham Lincoln, di kawasan itu. Gugus tempur kapal induk AS itu dalam posisi siap menyerang Teheran di tengah protes massal yang melanda negeri itu sejak akhir tahun lalu.

Militer AS menyatakan, gugus tempur USS Abraham Lincoln beserta kapal-kapal pengawalnya telah dikerahkan ke kawasan Timur Tengah untuk memperkuat postur militer Washington. Pengerahan ini dilakukan saat Iran meningkatkan penindakan terhadap demonstrasi besar-besaran yang menentang pemerintahan Republik Islam.

Komando Pusat Amerika Serikat (U.S. Central Command/Centcom) menyatakan dalam akun X, Senin (26/1/2026), “Kapal itu ditempatkan di Timur Tengah untuk mempromosikan keamanan dan stabilitas regional.”

Dikutip Associated Press (AP), Centcom juga menegaskan bahwa gugus tempur kapal induk tersebut berada di Samudra Hindia, wilayah tanggung jawab Centcom, yang meliputi operasi militer di Timur Tengah. Bukan di Laut Arab yang berbatasan langsung dengan Iran.

Kehadiran armada ini akan membawa ribuan personel militer tambahan ke kawasan tersebut.

Sebagai informasi, wilayah Timur Tengah belum menampung kapal induk AS sejak USS Gerald R. Ford diperintahkan pada Oktober lalu berlayar ke Karibia sebagai bagian dari kampanye tekanan terhadap Presiden Venezuela saat itu, Nicolas Maduro.

Meski Presiden AS Donald Trump belakangan menyatakan belum memerintahkan serangan langsung ke Iran, dia menegaskan seluruh opsi, termasuk militer, tetap ada.

“Kami memiliki armada besar di dekat Iran,” kata Trump dalam wawancara dengan Axios, Senin waktu setempat.

Baca juga : Pastikan Ibadah Aman, Kapolda Metro Tinjau Pengamanan Gereja di Kelapa Gading

Namun demikian, Trump juga mengklaim, Teheran menunjukkan keinginan untuk berunding. “Mereka ingin membuat kesepakatan. Saya tahu itu. Mereka sudah berkali-kali menghubungi,”¬ ujarnya.

Seorang pejabat senior AS menambahkan, Washington terbuka untuk komunikasi jika Iran ingin menjalin kontak diplomatik.

Melansir The New York Times, kapal induk USS Abraham Lincoln siap melakukan operasi melawan Iran dalam 1-2 hari. Kehadiran kapal induk itu beserta kapal perusak berpemandu rudal yang mengiringinya, memberi AS kemampuan untuk melancarkan serangan ke Iran.

Situasi ini kian sensitif karena negara-negara Arab Teluk, meski menjadi tuan rumah bagi personel militer AS, mengisyaratkan keengganan mereka terlibat dalam serangan apa pun.

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Uni Emirat Arab tidak mengizinkan penggunaan wilayah udara, teritorial, atau perairannya dalam aksi militer apapun. Mereka juga berkomitmen tidak memberikan dukungan logistik apa pun untuk serangan apa pun terhadap Teheran.

Dikutip Kantor Berita Turki, Anadolu, Israel tengah mempertahankan status siaga maksimum sebagai antisipasi kemungkinan serangan AS yang menyebkan Israel jadi sasaran balasan.

“Teheran dapat menanggapi serangan Amerika apa pun dengan mencoba menargetkan Israel,” kata Kepala Komando Utara Mayor Jenderal Rafi Milo, dalam komentar yang disiarkan oleh Channel 12 seperti dikutip Anadolu.

Aksi protes di Iran mulai pecah sejak 28 Desember, dipicu krisis ekonomi dan melemahnya nilai mata uang rial. Dalam waktu singkat, demonstrasi berkembang menjadi gerakan nasional yang menentang Pemerintahan Negeri Mullah itu.

Baca juga : Kemenag Tetapkan Guwa Lor sebagai Kampung Zakat, Air Bersih Jadi Fondasi

Unjuk rasa besar-besaran berlangsung di berbagai kota mulai 8 Januari. Kelompok hak asasi manusia menuduh aparat keamanan Iran melakukan penindasan brutal, termasuk menembaki langsung para demonstran. Penindakan itu diperparah dengan pemadaman internet nasional.

Lembaga berbasis di AS, Human Rights Activists News Agency (HRANA), telah mengkonfirmasi, hampir 6.126 orang tewas akibat gelombang protes yang ditindak keras aparat keamanan.

Lembaga itu dikenal memiliki rekam jejak akurat dalam melaporkan gelombang kerusuhan di Iran, dengan memverifikasi setiap kematian melalui jaringan aktivis di lapangan.

HRANA menyebut korban tewas mencakup 5.777 demonstran, 214 aparat atau pihak yang berafiliasi dengan Pemerintah, 86 anak-anak, serta 49 warga sipil yang tidak ikut berdemonstrasi. Selain itu, lebih dari 41.800 orang dilaporkan ditangkap.

Namun, Associated Press pada Selasa (27/1/2026), belum dapat memverifikasi secara independen jumlah korban akibat pemutusan internet dan gangguan komunikasi yang diberlakukan otoritas Iran.

Pemerintah Iran merilis angka korban yang jauh lebih rendah, yakni 3.117 orang. Dari jumlah itu, 2.427 disebut sebagai warga sipil dan aparat keamanan, sementara sisanya dilabeli sebagai “teroris”.

Dalam berbagai kasus sebelumnya, rezim Iran kerap dituding meremehkan atau tidak melaporkan jumlah korban secara utuh.

Jumlah korban kali ini melampaui gelombang protes atau kerusuhan lain di Iran dalam beberapa dekade terakhir, bahkan mengingatkan pada kekacauan saat Revolusi Islam 1979.

Baca juga : Gelar Aluminium Talk, Inalum Perkuat Sinergi Dengan Pelanggan

Trump sebelumnya berulang kali memperingatkan Iran bahwa AS akan melakukan intervensi militer jika aparat menewaskan demonstran. Dia juga mendorong warga Iran mengambil alih institusi negara, seraya mengatakan “bantuan sedang dalam perjalanan”.

Namun, awal bulan ini Trump menahan diri dari perintah serangan setelah Iran disebut menghentikan lebih dari 800 eksekusi akibat tekanan internasional.

Menanggapi situasi tersebut, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei memperingatkan pihak asing agar tidak melakukan campur tangan. Dia menegaskan, Iran percaya diri dengan kemampuan pertahanannya sendiri.

Merespons kehadiran USS Abraham Lincoln, Baghaei menegaskan bahwa pengerahan kapal perang AS tidak akan melemahkan tekad Iran.

“Kedatangan kapal perang semacam itu tidak akan mempengaruhi keseriusan Iran mempertahankan bangsa dan kedaulatannya,” ujarnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.