Dark/Light Mode

PM Lee: Corona Jangan Diremehkan, Antisipasi Agar Tak Meluas

Jumat, 13 Maret 2020 13:06 WIB
Tangkapan layar video pidato PM Singapura Lee Hsien Loong , saat menyampaikan perkembangan penanganan wabah Covid-19 di Negeri Singa, Kamis (12/3). (Sumber: Facebook)
Tangkapan layar video pidato PM Singapura Lee Hsien Loong , saat menyampaikan perkembangan penanganan wabah Covid-19 di Negeri Singa, Kamis (12/3). (Sumber: Facebook)

RM.id  Rakyat Merdeka - Lima pekan setelah pidato pertamanya soal wabah Corona atau Covid-19, PM Singapura Lee Hsien Loong menyampaikan kondisi terkini di negaranya, di tengah ancaman virus tersebut. Terutama dari sisi medis, ekonomi, dan psikologi.

"Dari sisi medis, kasus baru di Singapura umumnya merupakan kasus impor. Penderitanya tertular di luar negeri. Sejauh ini, kami telah mengisolasi mereka, melakukan contact tracing, dan mengkarantina mereka yang berhubungan dekat. Sehingga, angkanya tetap terkendali. Namun, virus tersebut belum bisa diberantas, meski kami sudah melakukan upaya terbaik," papar PM Lee dalam pidatonya, Kamis (12/3).

PM Lee juga menyoroti meningkatnya jumlah kasus infeksi Covid-19 di negara-negara lain.

Ia menyebut, kondisi China saat ini sudah mulai stabil. Namun, lonjakan kasus terjadi di Eropa, Amerika, dan Timur Tengah. Secara global, jumlah kasusnya meningkat dua kali lipat setiap 5-7 hari.

Banyak negara seperti Korea Selatan dan Italia mengalami lonjakan kasus Covid-19, karena adanya penularan wabah di tengah masyarakat atau community spread.

Alasan inilah yang melatarbelakangi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), untuk menetapkan status pandemi global terhadap wabah Covid-19. "Tak seperti SARS, wabah ini dapat berlanjut. Bisa setahun, bisa juga lebih," ujar PM Lee.

Dalam hal ini, WHO menyoroti satu faktor utama yang mendorong terjadinya community spread. Yakni sikap pemerintah di berbagai negara, yang tak menganggap Covid-19 sebagai masalah yang serius. Sehingga, minim antisipasi.

Berita Terkait : Dua Pasien Corona di RSPI Sulianti Saroso Sembuh

"Singapura serius menghadapi masalah ini. WHO bahkan memuji upaya yang kami lakukan, dan mengatakan apa yang dilakukan Singapura terkait Covid-19, patut ditiru negara-negara lain," jelas PM Lee.

Diakui, Singapura juga menghadapi masalah serius. Semisal banyaknya kasus impor, serta klaster dan gelombang infeksi baru yang berasal dari sejumlah negara.

Terkait hal itu, Singapura mengambil kebijakan membatasi perjalanan dari China, Iran, Korea Selatan, dan Italia. "Sepertinya, pembatasan ini harus diperketat lagi. Tapi itu tak berarti kita harus shut down. Menutup diri dari dunia," tutur PM Lee.

Mengingat Covid-19 adalah ancaman yang mengintai setiap saat, PM Lee menyarankan sejumlah hal penting. Pertama, kita harus senantiasa menjaga kebersihan personal, mengikuti norma sosial yang baru, menghindari pertemuan dalam skala besar, dan menjaga jarak dengan individu lain.

Inilah yang disebut menurunkan skala aktivitas masyarakat. Terutama, untuk para lansia. Penurunan skala aktivitas masyarakat ini, antara lain bisa diperluas menjadi pembatasan dalam kegiatan.

Terlebih, sudah ada bukti community spread yang terjadi dalam lingkungan gereja Shincheonji, Korea Selatan.

Di Singapura, dua klaster besar Corona juga terjadi di lingkungan gereja. Selain itu, sejumlah warga Singapura yang menghadiri acara tabligh akbar berskala internasional di Kuala Lumpur belum lama ini, juga terjangkit virus Corona.

Berita Terkait : Arteta Positif Corona, Tiga Pemain Leicester Diisolasi

Isunya, tentu bukan pada masalah agama atau kegiatan keagamaan yang dijalankan. Melainkan pada kemungkinan virus dapat berjangkit dengan cepat di tengah kerumunan orang.

Itu sebabnya, pemerintah Arab Saudi menyetop umroh untuk sementara, dan Paus Francis menayangkan khotbah dan doa Angelus melalui video streaming - agar tak timbul kerumunan massa di Lapangan Santo Petrus -.

"Saya harap, warga Singapura bisa memahami, mengapa dalam situasi seperti ini kita harus membatasi aktivitas keagamaan, atau tidak menghadiri pertemuan berskala besar. Dalam hal ini, kita bisa berkonsultasi dengan pemuka agama," ujar PM Lee.

Kedua, mengantisipasi lonjakan kasus Covid-19. Bila kasusnya membludak, bukan tak mungkin kita tidak dapat merawat atau mengisolir seluruh pasien itu di rumah sakit, seperti yang saat ini dilakukan.

"Kami telah mendata,  80 persen pasien Covid-19 di Singapura hanya mengalami gejala ringan. Yang paling berisiko adalah golongan lansia, dan mereka yang memiliki riwayat tekanan darah tinggi atau masalah paru-paru," terang PM Lee.

Karena itu, bila terjadi lonjakan pasien, maka yang diutamakan untuk dirawat dan diisolir hanya mereka yang berisiko tinggi. Sedangkan yang bergejala ringan, disarankan untuk mengunjungi dokter keluarga dan beristirahat atau mengkarantina diri di rumah masing-masing.

"Dengan begitu, kita dapat memfokuskan sumberdaya pada pasien yang kondisinya parah, untuk meminimalkan angka kematian," tandas PM Lee.

Berita Terkait : Satu Lagi WNI Positif Corona Di Singapura, Ini Kronologisnya

Untuk berjaga-jaga, Singapura juga menyediakan kapasitas tambahan berupa ruang UGD serta fasilitas dan ranjang rumah sakit. Sehingga, pasien bisa langsung ditangani, bila ada lonjakan wabah.

Pembatasan Interaksi Sosial

Selain antisipasi dari sisi medis, Singapura juga menerapkan berbagai pembatasan interaksi sosial seperti menyetop aktivitas belajar-mengajar untuk sementara, mengubah jam kerja, atau mewajibkan bekerja dari rumah.

Hal-hal seperti ini dapat menjadi rem ekstra yang cukup pakem, dalam mengatasi lonjakan kasus.

Rem ekstra ini berfungsi menurunkan laju penyebaran virus, melindungi sistem perawatan kesehatan dari membludaknya pasien, dan menurunkan jumlah pasien terjangkit. Sehingga, setelah situasi membaik, kita bisa kembali ke pencegahan dasar.

"Perlu saya tekankan, situasi Singapura saat ini tetap aman terkendali. Status wabah tidak meningkat menjadi DORSCON (level waspada, Red) merah. Kami tidak menutup akses kota seperti yang terjadi di China, Korea Selatan, dan Italia. Apa yang kami lakukan saat ini adalah membuat perencanaan bila terjadi kondisi darurat, dan menyiapkan mental masyarakat, bila ternyata harus memgimplementasikannya," tandas PM Lee.
 Selanjutnya