Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Digertak Trump, Iran-Rusia-China Latihan Perang Di Selat Hormuz
Kamis, 19 Februari 2026 07:40 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Iran tak gentar digertak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Negeri Para Mullah itu langsung menanggapi gertakan tersebut dengan menggelar latihan perang bersama Rusia dan China di Selat Hormuz.
Pemerintah Iran secara resmi mengumumkan penutupan sebagian wilayah Selat Hormuz pada Rabu (18/ 2/2026), menyusul dimulainya latihan angkatan laut gabungan bertajuk Maritime Security Belt 2026. Operasi militer ini melibatkan armada Rusia dan China, dengan tujuan memperkuat koordinasi keamanan maritim di salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.
Latihan berlangsung saat kapal induk AS terpantau berada di dekat wilayah Iran. Aksi ini juga dinilai sebagai unjuk kekuatan setelah Trump menyatakan ikut memantau perundingan nuklir dengan Iran dan memperingatkan akan ada konsekuensi jika tidak tercapai kesepakatan.
Teheran menyebut latihan militer gabungan tersebut sebagai langkah kesiapsiagaan menghadapi potensi ancaman di kawasan.
Pejabat Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Mohammad Akbarzadeh menegaskan, pasukannya siap membidik musuh dari jarak jauh. “Semua kapal asing di wilayah tersebut berada di bawah pengawasan intelijen penuh dan dalam jangkauan kekuatan pertahanan kami,” ujar Akbarzadeh, dikutip dari Anadolu, Rabu (18/2/2026).
Baca juga : Salah Jalan, Kurir Terjebak Di Lapangan Tembak Militer
Berdasarkan laporan kantor berita Tasnim, latihan ini melibatkan Angkatan Laut Iran (Artesh), Angkatan Laut IRGC, gugus tugas kapal perang Angkatan Laut Rusia, serta satuan tugas maritim Angkatan Laut China (PLAN).
Iran telah memulai rangkaian latihan sejak Senin (17/2/2026). Kegiatan ini dipimpin Kepala IRGC Mayor Jenderal Mohammad Pakpour dan dipusatkan di Pulau Abu Musa, wilayah teritorial paling selatan Iran di Teluk Persia yang selama ini menjadi titik sensitif.
Dari video yang beredar, rudal kendali jarak jauh terlihat diluncurkan dari darat menuju target kapal di tengah laut. Sebuah helikopter juga tampak menerbangkan pasukan dari kapal induk. Rekaman lain memperlihatkan drone militer, meski detail operasional sengaja dikaburkan oleh televisi pemerintah Iran.
Dalam pernyataannya, Pakpour menegaskan, pasukan telah membangun markas di sekitar pulau tersebut sebagai bagian dari strategi pertahanan.
“Tujuannya untuk menciptakan benteng yang tangguh di sekitar pulau,” kata Pakpour.
Televisi pemerintah Iran menyebut pasukan dilengkapi rudal yang mampu menjangkau dan menghancurkan kapal perang musuh dalam radius hingga 1.000 kilometer. IRGC juga mengklaim unit-unit militernya di pulau-pulau Teluk mampu beroperasi secara mandiri tanpa dukungan dari daratan utama.
Sebuah tayangan lain memperlihatkan kedatangan armada Rusia. Kapal perang berjuluk “Beruang Merah” tampak bergabung dengan kapal Iran yang lebih dulu berada di laut.
Di dek kapal, personel berdiri berjajar. Sebagian mengenakan rompi pelampung dan helm tempur, sementara lainnya bersiaga di sisi meriam. Bendera Rusia berkibar di buritan kapal. Kapal pengawal Iran mendekat, sementara helikopter patroli melintas rendah di atas laut.
Dari udara, armada terlihat membentuk formasi taktis. Di pelabuhan, aktivitas meningkat. Tali tambat dilempar dan ditarik hingga kapal berhenti tepat di posisi sandar. Sejumlah perwira turun lebih dulu dan disambut militer Iran.
Latihan ini dimulai sehari sebelum Iran dan AS kembali berdialog di Jenewa, Selasa (17/2/2026). Dialog tersebut dimediasi Oman untuk meredakan ketegangan terkait program nuklir Iran dan eskalasi militer di kawasan.
Baca juga : Rio Priambodo: Larangan Ini Berat, Jika Tak Diringi Solusi
Perundingan ini merupakan kelanjutan pembicaraan 6 Februari 2026 di Oman, sekaligus menjadi diplomasi pertama kedua negara sejak konflik “Perang 12 Hari” dengan Israel dan serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran.
Dari Moskow, Penasihat Kepresidenan Rusia Nikolay Patrushev menyebut, latihan ini sebagai bagian dari upaya membangun tatanan maritim baru yang tidak lagi didominasi Barat.
“Kita akan memanfaatkan potensi BRICS, yang kini harus mendapatkan dimensi maritim strategis sepenuhnya,” kata Patrushev. [BYU/MEN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya