Dark/Light Mode

Jepang Umumkan Pelepasan Cadangan Minyak Negara Per Kamis 26 Maret 2026

Selasa, 24 Maret 2026 12:54 WIB
PM Jepang Sanae Takaichi (Foto: IG @takaichi_sanae)
PM Jepang Sanae Takaichi (Foto: IG @takaichi_sanae)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi mengumumkan rencana melepas minyak dari cadangan negara setara 30 hari konsumsi pada Kamis (26/3/2026), untuk mengantisipasi gangguan pasokan energi dan lonjakan harga minyak akibat krisis Timur Tengah. 

Sebelumnya, pada 16 Maret 2026, Takaichi juga telah melepas cadangan minyak dari sektor swasta, yang setara 15 hari konsumsi. Untuk memfasilitasi kebijakan tersebut, Pemerintah Jepang menurunkan kewajiban penyimpanan perusahaan swasta dari 70 hari menjadi 55 hari.

Takaichi juga menuturkan, cadangan minyak gabungan negara-negara penghasil minyak Timur Tengah yang saat ini tersimpan di Jepang akan mulai dieksploitasi pada akhir bulan ini.

Baca juga : Pengamat: Penanganan Cepat Kasus Air Keras Bukti Negara Tegas Tanpa Pandang Bulu

"Kedamaian dan stabilitas Timur Tengah sangat penting bagi Jepang dan komunitas internasional," kata Takaichi, seperti dikutip Kyodo, Selasa (24/3/2026).

"Tokyo akan terus melakukan semua upaya diplomatik yang diperlukan dalam koordinasi erat dengan negara-negara terkait. Kami berupaya meminimalkan dampak pada kegiatan ekonomi," imbuhnya.

Takaichi mengungkap, dalam pertemuan puncak di Washington pada akhir pekan lalu, dia dan Presiden AS Donald Trump menegaskan pentingnya memastikan pasokan energi yang stabil, dengan mengamankan navigasi yang aman di Selat Hormuz.

Baca juga : Arab Saudi Rayakan Lebaran Idul Fitri 1 Syawal 1447 H Besok, Jumat 20 Maret 2026

Jepang sangat bergantung pada Timur Tengah untuk lebih dari 90 persen impor minyak mentahnya, yang sebagian besar melewati Selat Hormuz.

Jalur transportasi minyak global ini ditutup secara efektif oleh Iran, begitu konflik dengan pasukan AS dan Israel pecah pada 28 Februari 2026. Alhasil, harga minyak mentah pun melonjak.

Dalam pertemuan tingkat menteri, Jepang disebut akan membahas sejumlah isu seperti kemungkinan dampak terhadap perekonomian akibat penurunan produksi etilena dalam negeri, yang banyak digunakan dalam produk plastik, dan diversifikasi pemasok minyak mentah.

Baca juga : Kakorlantas Dampingi Kapolri Hadiri Pelepasan Mudik Gratis Polri Presisi 2026

Kabinet juga memutuskan untuk menggunakan 800,7 miliar yen atau Rp 85,36 triliun dari cadangan anggaran tahun fiskal berjalan, termasuk 794,8 miliar yen atau Rp 84,81 triliun dana subsidi untuk menekan kenaikan harga bensin.

Dengan harga bensin reguler yang mencapai titik tertinggi sepanjang masa sebesar 190,80 yen atau sekitar Rp 21 ribuan per liter pekan lalu, Pemerintah Jepang menargetkan harga eceran rata-rata nasional turun menjadi sekitar 170 yen atau sekitar Rp 18 ribuan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.