Dark/Light Mode

Menlu Araghchi: Iran Tetap Melawan, Tidak Ada Negosiasi Yang Sedang Berjalan

Kamis, 26 Maret 2026 07:37 WIB
Menlu Iran Seyed Abbas Araghchi (Foto: IG)
Menlu Iran Seyed Abbas Araghchi (Foto: IG)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Luar Negeri (Menlu) Seyed Abbas Araghchi menegaskan keputusan Iran untuk melanjutkan perlawanan terhadap negara agresor. Tidak ada negosiasi yang sedang berjalan. 

"Kontak diplomatik regional memang telah terjadi. Banyak menteri luar negeri dari kawasan telah menghubungi Teheran, tetapi Iran tetap berprinsip dan tegas," kata Araghchi dalam wawancara dengan Press TV, seperti dilansir Tasnim, Rabu (25/3/2026).

Dalam kesempatan tersebut, politisi berusia 63 tahun itu juga mengomentari upaya sejumlah negara ketiga, yang ingin menjadi perantara untuk mengakhiri konflik Timur Tengah. 

"Iran menolak jaminan internasional, memilih jaminan dari kekuatan sendiri, Jaminan internasional tidak 100 persen dapat diandalkan,” cetus Araghchi. 

"Melalui jaminan yang kami ciptakan sendiri, tidak ada yang akan berani lagi berperang melawan rakyat Iran," tambahnya, mengacu pada aksi balasan Iran berupa 81 gelombang serangan balasan tanpa henti terhadap target sensitif dan strategis Amerika serta Israel di seluruh kawasan.

Araghchi menekankan, gencatan senjata tanpa jaminan adalah siklus buruk yang hanya akan mengulang perang. Negara musuh, kata dia, harus belajar agar tidak pernah lagi berpikir untuk melancarkan serangan.

Baca juga : Anggaran Pendidikan Tak Dipangkas, Revitalisasi Sekolah Berdampak Ekonomi

"Kerugian yang diderita rakyat Iran harus diganti,” cetus Araghchi.

Pangkalan AS di Wilayah Regional 

Araghchi juga mengatakan, perkembangan terbaru menunjukkan keberadaan pangkalan AS di wilayah regional malah mendatangkan ancaman keamanan negara tuan rumah. Bukan melindungi. 

“Perang ini mengungkap banyak fakta. Salah satunya, pangkalan AS tidak hanya gagal memberikan keamanan, tetapi justru menjadi sumber ketidakamanan,” beber Araghchi.

Araqchi merujuk pada berbagai serangan terhadap pos-pos militer AS di negara-negara seperti Qatar, Bahrain, Kuwait, Arab Saudi, dan Yordania sebagai balasan atas agresi serta kerja sama negara tuan rumah dengan pihak penyerang.

“Jika negara-negara ini diserang, itu karena keberadaan pangkalan tersebut,” katanya.

Pesan Araghchi Untuk Negara Kawasan

Araghchi berpesan kepada negara-negara kawasan, agar menjauhkan diri dari agresi Amerika-Zionis terhadap tanah dan rakyat Iran, serta tidak terlibat dalam konflik terbaru Timur Tengah. 

Baca juga : Senayan Minta Masyarakat Tidak Beli BBM Berlebihan

Dia menyesalkan sikap beberapa negara kawasan yang sebelumnya tidak mengizinkan wilayahnya digunakan untuk menyerang Iran, tapi ujung-ujungnya mengingkari. 

“Kami tidak percaya hal ini terjadi tanpa sepengetahuan mereka. Balasan Iran jadi momen emas dalam sejarah," ujar Araghchi.

Dia kemudian menyinggung jalannya agresi serta serangan balasan Iran yang melibatkan ratusan rudal balistik, hipersonik, dan drone terhadap target musuh.

Menurutnya, pihak lawan gagal mencapai sejumlah tujuan, termasuk memecah belah Iran, meraih kemenangan cepat, dan melemahkan kohesi domestik.

Aksi balasan Iran disebutnya sebagai momen emas dalam sejarah negara tersebut, karena berhasil menggagalkan dua agresor bersenjata nuklir mencapai tujuannya.

Araghchi menyebut, keberhasilan itu terlihat dari perubahan sikap pihak lawan yang kini berbicara tentang negosiasi, padahal sebelumnya menuntut Teheran untuk menyerah tanpa syarat.

Baca juga : Aurelie Moeremans, Pernikahan Pertama Tidak Diakui Gereja

“Fakta bahwa mereka sekarang berbicara tentang negosiasi adalah pengakuan kekalahan. Bukankah mereka sebelumnya yang menyerukan penyerahan tanpa syarat? Lalu mengapa kini mereka mengerahkan pejabat tertinggi untuk mengejar negosiasi?” tanya Araghchi. 

Selat Hormuz Terbuka Bagi Sahabat Iran

Terkait Selat Hormuz, yang ditutup Iran bagi musuh dan sekutunya sejak awal agresi pada 28 Februari 2026, Araghchi mengatakan jalur strategis itu tetap terbuka bagi negara sahabat.

“Untuk beberapa negara yang kami anggap sahabat, kami mengizinkan mereka melintas di Selat Hormuz. Kami mengizinkan China, Rusia, India, Irak, dan Pakistan untuk melintas,” ujarnya.

“Tidak ada alasan bagi kami untuk mengizinkan musuh kami melewati Selat Hormuz," tandas Araghchi. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.