Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Negosiasi Nuklir AS–Iran Di Pakistan Buntu, Ini Penyebabnya
Minggu, 12 April 2026 10:27 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Perundingan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) di Pakistan belum membuahkan kesepakatan damai untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama enam pekan kawasan Timur Tengah.
Menurut Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance yang memimpin delegasi AS dalam pertemuan itu, kegagalan ini disebabkan sikap Teheran yang tetap bersikukuh mempertahankan ambisi nuklirnya.
Pernyataan itu disampaikan Vance usai menjalani maraton negosiasi selama 21 jam di Islamabad.
"Pembicaraan dengan pihak Iran berlangsung serius dan menghasilkan sejumlah kemajuan, kabar baiknya, namun belum mampu menjembatani perbedaan mendasar terkait syarat-syarat yang diajukan Amerika Serikat," kata Vance kepala wartawan di Islamabad, dilansir Reuters, Minggu (12/4/2026).
“Kabar buruknya, kami belum mencapai kesepakatan. Dan saya pikir itu kabar buruk bagi Iran jauh lebih besar daripada kabar buruk bagi Amerika Serikat. Jadi kita kembali ke Amerika Serikat tanpa mencapai kesepakatan," ujarnya.
Vance menekankan bahwa salah satu ganjalan utama dalam perundingan adalah penolakan Iran untuk berkomitmen tidak mengembangkan senjata nuklir, bahkan menolak membatasi upaya memperoleh teknologi yang dapat digunakan untuk membuatnya.
Menurutnya, Washington membutuhkan komitmen tegas dari Teheran terkait isu tersebut.
“Itu adalah tujuan utama Presiden Amerika Serikat,” ujarnya. “Dan itulah yang kami upayakan melalui perundingan ini," tegasnya.
Baca juga : BGN Suspend Ratusan Dapur MBG Di Jawa Dan Timur, Ini Penyebabnya
Selama pembicaraan yang berlangsung berjam-jam, sangat sedikit rincian yang diungkap ke publik. Kondisi ini membuat dunia berspekulasi mengenai arah konflik setelah enam pekan perang yang mengguncang kawasan.
Pemerintahan Presiden Donald Trump menetapkan dua prioritas utama dalam perundingan ini, yakni membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz agar distribusi minyak dunia kembali lancar, serta menghentikan program pengayaan nuklir Iran guna mencegah pengembangan senjata nuklir.
Vance mengaku timnya telah menunjukkan sikap kooperatif selama negosiasi. Ia mengungkapkan bahwa Trump memintanya untuk melakukan upaya terbaik demi mencapai kesepakatan dengan itikad baik.
“Kami sudah melakukannya, namun sayangnya belum ada kemajuan berarti. Kami meninggalkan perundingan ini dengan tawaran terakhir dan terbaik dari kami. Kita lihat apakah pihak Iran akan menerimanya,” ujar Vance.
Lebih lanjut, Vance mengatakan dirinya terus berkomunikasi secara intens dengan Trump serta Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio selama perundingan yang berlangsung semalam suntuk.
Trump dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio diketahui tengah menghadiri ajang UFC 327 di Miami, AS, saat Vance menyampaikan pernyataannya kepada publik.
Namun, Vance tidak menanggapi pertanyaan terkait apakah gencatan senjata selama dua pekan telah berakhir dan apakah perang kembali berkobar.
Berdialog Dengan Rezim Lama
Andrea Stricker, Wakil Direktur sekaligus peneliti di Foundation for Defense of Democracies untuk Program Nonproliferasi, mengatakan tidak terkejut isu nuklir menjadi inti kegagalan perundingan tersebut.
Baca juga : Pakistan Berlakukan Pengamanan Berlapis
Dalam keterangannya kepada New York Post, ia menilai sejak awal perbedaan tajam terkait program nuklir Iran memang sulit dijembatani. Bahkan, ia memperkirakan gencatan senjata yang sempat tercapai kemungkinan besar akan segera runtuh.
Menurutnya, tanpa adanya kesepakatan yang jelas mengenai pembatasan nuklir, peluang meredanya konflik menjadi sangat kecil dan justru berisiko memicu kembali eskalasi di kawasan.
Stricker menilai, program pengayaan uranium dan upaya mempertahankan jalur menuju senjata nuklir tidak bisa dipisahkan dari ideologi pemimpin di Iran.
“Hal ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak sedang bernegosiasi dengan kelompok pragmatis yang telah berubah, melainkan dengan rezim lama yang sama,” ujarnya.
Ia menambahkan, gencatan senjata kemungkinan besar akan runtuh jika tidak ada perubahan sikap dari pihak Iran dalam waktu dekat. Menurutnya, hanya langkah drastis di detik-detik akhir yang bisa membuka peluang bagi tercapainya kesepakatan dan mencegah konflik kembali memanas.
Dorong Gencatan Senjata Terus Berjalan
Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar menyatakan bahwa perundingan yang banyak disorot antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad untuk mengakhiri konflik yang lebih luas di Timur Tengah telah “berakhir”.
Dalam konferensi pers singkat di Islamabad, Dar tetap mendorong kedua pihak agar menjaga komitmen terhadap gencatan senjata selama dua pekan. Ia berharap dialog yang telah berlangsung dapat terus dilanjutkan dengan semangat positif demi mewujudkan perdamaian yang berkelanjutan dan kemakmuran, baik di kawasan maupun secara global.
Dia juga menyampaikan apresiasi kepada Amerika Serikat dan Iran atas pengakuan terhadap peran Pakistan sebagai mediator dalam upaya meredakan konflik.
Baca juga : KDM Terima Panitia Muktamar Mathla`ul Anwar Di Lembur Pakuan, Ini Pesannya
Menurutnya, Pakistan akan terus mengambil peran aktif dalam memfasilitasi komunikasi dan dialog antara kedua negara dalam waktu mendatang, guna membuka peluang tercapainya solusi damai.
Sebagai informasi, AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026. Serangan itu menyebabkan gugurnya Ayatollah Ali Khamenei yang saat itu menjabat Pemimpin tertinggi Iran.
Iran langsung membalas dengan menyerang Israel dan berbagai fasilitas AS di negara-negara Teluk. Perang telah menyebabkan 2.076 orang tewas dan 26.500 orang terluka di Iran.
Selain itu, serangan balasan Negara Mullah telah menewaskan 26 orang dan melukai 7.451 orang di Israel. Serangan balasan Iran juga menewaskan 13 tentara AS dan melukai 200 tentara AS.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya