Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Situasi di Selat Hormuz kian panas usai Amerika Serikat (AS) ikut melakukan blokade. Sejumlah kapal yang akan keluar masuk Pelabuhan Iran disuruh putar balik. Iran yang geram, kini mengancam akan menutup Luat Merah.
Padahal saat ini, AS-Iran masih dalam masa gencatan senjata selama 2 pekan. Bahkan dalam dekat, mereka akan kembali melakukan perundingan lanjutan di Islamabad, Pakistan. Perundingan ini dilakukan, usai pertemuan sebelumnya tak menemui kesepakatan. Pengayaan nuklir dan Selat Hormuz menjadi poin paling alot.
Kesal karena perundingan pertama gagal, AS akhirnya ikut memblokade Selat Hormuz. Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command/CENTCOM) mulai memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran sejak Senin (13/4/2026) pukul 10.00 ET atau 21.00 WIB.
Militer AS mencegah kapal berlayar menuju maupun keluar dari pelabuhan Iran di kawasan Teluk Persia dan Laut Oman, di sebelah timur Selat Hormuz. “Dalam 24 jam pertama, tidak ada kapal yang berhasil melewati blokade AS,” kata Komando Pusat AS dikutip dari Reuters, Kamis (16/4/2026).
Setelah diblokade, jalur pelayaran vital bagi distribusi minyak global itu dipadati antrean kapal. Sejumlah tanker terlihat mengular mendekati Selat Hormuz.
Baca juga : Kelola Uang Eks Pejabat MA, Produser Film Jadi Tersangka
Meski begitu, sebagian kapal masih berhasil melintas. Pada Rabu (15/4/2026), kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan pengiriman dari pelabuhan selatan Iran tetap berjalan. Kapal-kapal komersial Iran juga disebut masih berlayar ke berbagai tujuan dalam 24 jam terakhir.
Namun, tidak sedikit kapal yang memilih berbalik arah. Secara keseluruhan, lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz mengalami penurunan drastis.
Data Kpler Risk and Compliance mencatat hanya 279 kapal melintas sepanjang 28 Februari hingga 12 April 2026, jauh di bawah kondisi normal yang mencapai sekitar 100 kapal per hari.
Kpler juga mencatat 22 kapal menjadi sasaran serangan sejak konflik pecah. Rinciannya, 8 kapal di perairan Uni Emirat Arab, 6 kapal di Oman, 2 kapal di Irak, 2 kapal di Qatar, serta masingmasing 1 kapal di Bahrain, Kuwait, Arab Saudi, dan Iran.
Sejak gencatan senjata diberlakukan pada 8 April 2026, aktivitas pelayaran belum pulih signifikan. Tercatat hanya 45 kapal yang masuk dan keluar dari Selat Hormuz. Situasi kian kompleks setelah blokade terbaru AS.
Baca juga : Selesaikan Musda, Hanura Papua Selatan Siap Hadapi Pemilu 2029
Enam kapal dilaporkan mengikuti arahan militer AS untuk berbalik dan kembali ke pelabuhan Iran. Dua tanker asal China termasuk di antara kapal yang mencoba melintas.
Sebuah kapal perusak AS juga menghentikan dua tanker minyak yang berupaya keluar dari pelabuhan Iran di Chabahar, Teluk Oman. Salah satunya adalah kapal Rich Starry milik Shanghai Xuanrun Shipping Co yang dikenai sanksi AS karena bertransaksi dengan Iran.
Kapal tersebut merupakan tanker berukuran menengah yang membawa sekitar 250.000 barel metanol dari pelabuhan Hamriyah, Uni Emirat Arab. Saat ini kapal masih berlabuh di perairan dekat Iran setelah gagal menembus blokade.
Penasihat militer pemimpin tertinggi Iran Mohsen Rezaei memperingatkan, bahwa Teheran akan menenggelamkan kapal-kapal AS jika blokade terus berlanjut. “Tuan Trump ingin menjadi polisi di Selat Hormuz. Apakah ini benar-benar tugas Anda? Kapal-kapal Anda akan ditenggelamkan oleh rudal pertama kami,” ancam Rezaei, dikutip AFP, Kamis (16/4/2026).
Militer Iran juga memperingatkan kemungkinan pemblokiran jalur perdagangan lain. Termasuk menutup Laut Merah dan Teluk Oman.
Baca juga : Diversifikasi Pasokan Energi Menjaga Stabilitas Nasional
Kepala Pusat Komando Militer Iran Ali Abdollahi menilai, langkah AS sebagai pelanggaran gencatan senjata yang menciptakan ketidakamanan bagi kapal komersial dan tanker minyak Iran. “Angkatan bersenjata Republik Islam tidak akan membiarkan ekspor atau impor berlanjut di Teluk Persia, Laut Oman, dan Laut Merah,” tegasnya.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump justru mengklaim telah membuka Selat Hormuz secara permanen demi kepentingan global, termasuk China. “China sangat senang bahwa saya membuka Selat Hormuz secara permanen. Saya melakukan ini untuk mereka dan dunia,” tulis Trump di Truth Social.
Trump juga mengklaim China sepakat tidak lagi mengirim senjata ke Iran, meski pernyataan tersebut belum dikonfirmasi Beijing.
Sementara itu, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dilaporkan mendesak AS untuk mencabut blokade. Ia khawatir ancaman Iran untuk memblokade Laut Merah dapat berdampak besar pada ekonomi kawasan. [FAQ]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya