Dark/Light Mode

Efek Perang Dan Penutupan Selat Hormuz

Eropa Krisis Avtur, AS Krisis Amunisi

Minggu, 19 April 2026 07:40 WIB
Ilustrasi, krisis avtur di Eropa. (Foto: Dibuat oleh AI/Gemini)
Ilustrasi, krisis avtur di Eropa. (Foto: Dibuat oleh AI/Gemini)

 Sebelumnya 
Hal ini memicu kekhawatiran karena perbedaan cadangan avtur antarnegara. 

Maskapai juga meminta kejelasan terkait status jadwal penerbangan. Mereka mengusulkan agar pembatalan penerbangan akibat penutupan wilayah udara dikategorikan sebagai force majeure, guna melindungi hak operasional maskapai. 

Diketahui, efisiensi operasional maskapai terus menurun sejak eskalasi konflik pada 28 Februari 2026. Kondisi ini diperparah setelah Badan Keamanan Penerbangan Uni Eropa (EASA) melarang penerbangan di atas wilayah udara beberapa negara Teluk, termasuk Uni Emirat Arab dan Qatar, hingga 24 April 2026. 

Kebijakan ini memaksa maskapai mengalihkan rute melalui Turki atau Ethiopia, yang berdampak pada bertambahnya durasi penerbangan, konsumsi bahan bakar, serta emisi karbon. 

Baca juga : Justin Adrian Untayana: Premanisme Tak Akan Hilang Tanpa Sikap Tegas

Sejumlah maskapai bahkan telah mengurangi frekuensi penerbangan yang kurang menguntungkan akibat lonjakan harga avtur sejak awal konflik. Mereka juga menaikkan harga tiket dan membebankan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) kepada penumpang. 

Tak hanya di Eropa, maskapai di Nigeria bahkan berencana menghentikan operasional mulai 20 April akibat lonjakan harga bahan bakar. 

The Guardian Nigeria melaporkan, harga avtur melonjak hampir 300 persen dari 900 naira menjadi 3.300 naira per liter (sekitar Rp 11.529 menjadi Rp 42.272). “Kenaikan ini membebani operasional maskapai dan berpotensi mengganggu layanan penerbangan domestik,” tulis laporan tersebut. 

Sementara, Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) dilaporkan mendekati produsen mobil dan manufaktur lain untuk meningkatkan produksi senjata. 

Baca juga : Abdul Aziz: Premanisme Ganggu Investasi Dan Iklim Usaha

Dalam laporan Wall Street Journal (WSJ) yang dikutip Reuters dan Anadolu Agency, Jumat (17/4/2026), pejabat Pentagon telah berdiskusi dengan sejumlah produsen mobil besar seperti General Motors dan Ford Motor. 

Laporan tersebut menyebut, perang melawan Iran serta dukungan militer untuk Ukraina telah menguras persediaan amunisi AS. 

Presiden AS Donald Trump mendorong produsen otomotif untuk berperan lebih besar dalam produksi militer. Pentagon disebut telah bertemu dengan sejumlah eksekutif industri otomotif, termasuk CEO General Motors Mary Barra dan CEO Ford Motor Jim Farley. Selain itu, GE Aerospace dan Oshkosh juga terlibat dalam pembicaraan. 

Hingga kini, pihak General Motors, Ford Motor, GE Aerospace, dan Oshkosh belum memberikan tanggapan resmi. 

Baca juga : DPR: Pilih Yang Profesional

Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 dan konflik Gaza pada 2023, AS telah menggelontorkan berbagai pasokan militer, mulai dari senjata, artileri, amunisi, hingga rudal antitank. 

Bulan ini, Presiden Trump juga mengusulkan peningkatan anggaran militer sebesar 500 miliar dolar AS menjadi 1,5 triliun dolar AS di tengah konflik dengan Iran. [FAQ]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.