Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Perkuat Kolaborasi, Menlu Lazaro Bertemu Sugiono
RI-Filipina Diikat Oleh Laut, Berbagi Takdir Yang Sama
Selasa, 28 April 2026 06:10 WIB
Sebelumnya
“Sebagai dua produsen nikel terbesar dunia, Indonesia dan Filipina perlu bekerja sama membangun rantai pasok global yang lebih kuat dan tangguh,” ujarnya.
Filipina merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia di Asia Tenggara. Pada 2025, nilai perdagangan bilateral mencapai 12,02 miliar dolar AS sekitar Rp 204,34 triliun. Filipina juga menjadi mitra penting dalam ketahanan energi, termasuk sebagai pasar ekspor batu bara terbesar Indonesia di kawasan.
Dalam kesempatan tersebut, Sugiono juga menekankan pentingnya mencegah eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk di Selat Hormuz, mengingat dampaknya terhadap stabilitas regional, keamanan energi global dan rantai pasok internasional. Dia juga menegaskan pentingnya penyelesaian yang adil bagi Palestina.
“De-eskalasi dan penyelesaian yang adil bagi Palestina harus terus menjadi prioritas,” tegasnya.
Diskusi FPCI
Baca juga : Agnes Rahajeng, Raih Mahkota Putri Indonesia Seperti Mimpi
Selain agenda resmi, Lazaro menghadiri forum diskusi publik yang diselenggarakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI). Dalam forum tersebut, dia membahas peran ASEAN di tengah dinamika tatanan global yang semakin kompleks.
Mengangkat tema “Forging Ahead in Crisis”, Lazaro menilai, dunia saat ini dihadapkan pada ketidakpastian, termasuk dampak konflik Timur Tengah terhadap harga energi dan rantai pasok global.
“Kita menghadapi ketidakpastian global. Tidak ada satu pun negara yang tidak terdampak,” ujarnya.
Dia juga menyoroti isu batas maritim dan keamanan di Laut China Selatan. Menurutnya, fondasi hukum kawasan bertumpu pada UNCLOS 1982 yang kerap disebut sebagai “konstitusi lautan”. Bagi negara kepulauan seperti Indonesia dan Filipina, hukum internasional menjadi penyeimbang penting di tengah dominasi kekuatan besar.
Baca juga : Purbaya: Uang Kita Masih Banyak
Terkait Code of Conduct di Laut China Selatan, Lazaro menyatakan bahwa ASEAN dan China memiliki komitmen bersama untuk menyelesaikan perjanjian tersebut. Negosiasi berlangsung rutin setiap bulan dan menunjukkan kemajuan, sehingga target penyelesaian tahun ini dinilai masih realistis.
Sebagai Ketua ASEAN 2026, Filipina mengusung tema “Navigating the Future Together” dengan tiga prioritas utama, yaitu memperkuat perdamaian dan keamanan kawasan, meningkatkan ketahanan ekonomi dan rantai pasok, serta memberdayakan masyarakat, termasuk generasi muda.
Hubungan Indonesia dan Filipina telah terjalin selama 77 tahun, dengan lebih dari 90 perjanjian kerja sama di berbagai sektor. Salah satu pencapaian penting adalah Perjanjian Batas Maritim 2014, yang menjadi bukti bahwa sengketa dapat diselesaikan secara damai melalui dialog.
“Pada akhirnya, kekuatan perjanjian terletak pada kepercayaan. Di tengah dunia yang terfragmentasi, kita harus memilih kerja sama, menjunjung hukum, dan membangun kepercayaan,” ujar Lazaro.
Baca juga : Selamat Dari Upaya Pembunuhan, Trump Yakin Tidak Terkait Dengan Iran
Ketua dan Founder FPCI Dino Patti Djalal menegaskan, sentralitas ASEAN harus terus diupayakan melalui narasi bersama dan pelibatan masyarakat.
“Sentralitas ASEAN tidak bisa dianggap otomatis. Dia harus terus diperjuangkan, khususnya di tengah dinamika persaingan kekuatan besar,” ujarnya. LDU
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 14, edisi Selasa, 28 April 2026 dengan judul "Perkuat Kolaborasi, Menlu Lazaro Bertemu Sugiono RI-Filipina Diikat Oleh Laut, Berbagi Takdir Yang Sama"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya