Dark/Light Mode

10 Titik Layanan Jemaah Siaga 24 Jam Di Masjid Al-Haram

Jumat, 8 Mei 2026 07:20 WIB
Kaseksus Masjid Al-Haram, Latief Wibawa bersama jemaah haji pada Rabu (6/5/2026). (Foto: MCH 2026)
Kaseksus Masjid Al-Haram, Latief Wibawa bersama jemaah haji pada Rabu (6/5/2026). (Foto: MCH 2026)

RM.id  Rakyat Merdeka - Laporan Wartawan Rakyat Merdeka Muhammad Rusmadi Dari Media Center Haji, Makkah

Derap langkah jemaah haji Indonesia di selasar Masjidil Haram kini tak lagi dibiarkan tanpa arah. Guna menjamin kelancaran ibadah, Pemerintah Indonesia melalui Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026 memetakan 10 titik strategis sebagai pos penjagaan khusus di masjid suci tersebut. 

Langkah ini diambil sebagai bentuk kehadiran negara dalam mengawal keselamatan serta kenyamanan warga negaranya. Kepala Sektor Khusus Masjidil Haram, Latief Wibawa, menegaskan bahwa penambahan titik jaga dari sembilan menjadi 10 pos merupakan respons atas dinamika kebutuhan jemaah di lapangan yang kian kompleks. 

Dia memaparkan, pos-pos tersebut berfungsi sebagai jangkar informasi sekaligus ruang pertolongan pertama bagi mereka yang membutuhkan. 

Keberadaan petugas di titik-titik krusial diharapkan mampu memangkas kendala mobilitas yang sering dialami jemaah, terutama bagi kelompok lanjut usia dan disabilitas. 

Struktur petugas yang dikerahkan pun bersifat multidisiplin, mencakup unsur kesehatan, pembimbing ibadah, hingga perlindungan jemaah. Sinergi ini dirancang agar setiap persoalan, mulai dari masalah kesehatan hingga keraguan tata cara ibadah, dapat diselesaikan dengan cepat dan tepat di lokasi.

Baca juga : Elly Rosita Silaban: Bukan Tukar Guling, Tetapi Buruh Dipertimbangkan

"Titik-titik itu harus ditempatkan pos, sehingga akan membantu jemaah haji yang berada di Masjidil Haram ini," ujar Latief saat ditemui tim Media Center Haji (MCH) 2026 di Makkah, Rabu (6/5/2026). 

Dia pun mengimbau agar jemaah tidak merasa sungkan untuk berinteraksi dengan petugas. 

Masalah klasik seperti kehilangan arah atau terpisah dari rombongan masih menjadi tantangan utama di area seluas Masjidil Haram. 

Sering kali, jemaah mengalami disorientasi saat hendak kembali ke terminal bus atau sekadar mencari pintu keluar yang tepat setelah menyelesaikan rangkaian ibadah. 

Selain faktor lokasi yang luas, tantangan cuaca ekstrem juga menjadi perhatian serius bagi Pemerintah. Suhu udara Makkah yang menyengat kerap menguras fisik jemaah, sehingga pos-pos ini disiapkan sebagai tempat peristirahatan sementara bagi mereka yang mengalami kelelahan atau dehidrasi. 

Dia menambahkan, mobilitas petugas tidak hanya statis di dalam pos, melainkan juga aktif berpatroli di area sekitar. 

Baca juga : Mirah Sumirat: Gerakan Buruh Tidak Bergantung Satu Orang

Petugas yang berkeliling akan secara proaktif menyapa jemaah yang terlihat bingung, lalu menuntun mereka ke area yang lebih teduh dan aman. 

Identitas visual petugas menjadi kunci dalam sistem pelayanan ini agar mudah dikenali oleh jemaah dari kejauhan. Seragam resmi menjadi "bendera" bagi jemaah untuk mencari perlindungan, terutama di tengah jutaan manusia yang datang dari berbagai belahan dunia. 

"Ketika melihat petugas yang menggunakan seragam, silakan temui kami, tidak usah khawatir," tutur Latief dengan nada meyakinkan. 

Dia menegaskan komitmen penuh Pemerintah untuk memberikan pelayanan maksimal selama 24 jam tanpa jeda bagi seluruh tamu Allah asal Indonesia. 

Khusus di area thawaf atau Pos 4, terdapat pemandangan yang sedikit berbeda namun fungsional. Petugas laki-laki di sana mengenakan pakaian ihram dengan identitas khusus bertuliskan "PETUGAS HAJI INDONESIA 2026", sebuah upaya adaptasi agar tetap bisa bertugas di zona yang mewajibkan pakaian tersebut. 

Tak hanya petugas lapangan, peran kemanusiaan juga dijalankan oleh para jurnalis yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) 2026. Meski mengemban tugas peliputan, nurani mereka tetap terpanggil untuk membantu jemaah yang membutuhkan bantuan navigasi maupun pendampingan fisik. 

Baca juga : Penyidik Diminta Hadirkan Rasa Aman Dan Keadilan

Seringkali, proses pengambilan berita harus terjeda sejenak demi memastikan seorang jemaah menemukan lokasi air Zamzam atau kembali ke terminal dengan selamat. Bahkan, hal-hal sederhana seperti membantu mengabadikan momen melalui foto menjadi bumbu humanis dalam tugas mereka di Tanah Suci. 

Data terbaru menunjukkan dinamika pergerakan jemaah yang cukup masif, di mana sebanyak 97.139 jemaah haji Indonesia telah mendarat di Arab Saudi. Dari jumlah tersebut, puluhan ribu jemaah secara bertahap mulai bergeser dari Madinah menuju kemegahan Kota Makkah untuk memulai prosesi umrah wajib. 

Seiring berakhirnya penerbangan gelombang pertama ke Madinah hari ini, Pemerintah bersiap menyambut gelombang kedua mulai Kamis (7/5/2026). Gelombang baru ini akan mendarat di Jeddah dan langsung menuju Makkah, yang diprediksi akan semakin meningkatkan kepadatan di area-area pos penjagaan yang telah disiapkan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.