Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Di tengah Memanasnya Tensi Geopolitik
RI-ASEAN Perkuat Kerja Sama Energi dan Pangan
Jumat, 8 Mei 2026 06:30 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah Indonesia menekankan urgensi penguatan kerja sama regional di sektor energi, pangan dan rantai pasok guna menjaga stabilitas ekonomi Asia Tenggara. Langkah konkret diperlukan untuk memitigasi dampak disrupsi akibat meningkatnya tensi geopolitik yang mulai menekan kinerja pertumbuhan kawasan.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai, kekuatan sentralitas blok ini harus dioptimalkan untuk membangun kedaulatan logistik yang tangguh.
"Pemanfaatan kekuatan sentralitas ASEAN diperlukan untuk membangun supply chain resilience di kawasan,” ujar Airlangga dalam Pertemuan ke-27 Dewan Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community Council/AECC) di Cebu, Filipina, Kamis (7/5/2026).
Baca juga : GoTo Dukung Pemerintah Kerek Kesejahteraan Ojol
Menurutnya, guna mengatasi gangguan pasokan, negara anggota perlu mengoptimalkan platform yang sudah tersedia, seperti ASEAN Plus One Free Trade Agreements (FTAs) dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).
Selain itu, penguatan infrastruktur strategis melalui ASEAN Power Grid (APG) serta ASEAN Framework Agreement on Petroleum Security (APSA) menjadi kian mendesak.
Hal ini mendorong langkah konkret untuk memperkuat ketahanan energi kawasan, antara lain melalui diversifikasi sumber dan jalur pasokan, penguatan mekanisme cadangan energi, serta percepatan implementasi kerja sama regional.
Baca juga : Kendaraan Listrik Bebas Pajak Dan Ganjil Genap
Keketuaan ASEAN 2026 yang dipegang Filipina menghadapi tantangan berat akibat imbas konflik di Timur Tengah. Ketegangan tersebut memicu keterbatasan suplai minyak bumi dan lonjakan harga komoditas yang berisiko memperlambat pemulihan ekonomi pascapandemi.
Menteri Perdagangan dan Industri Filipina Maria Cristina Aldeguer-Roque, selaku pimpinan rapat, meminta masukan para menteri ekonomi untuk mengatasi hambatan ketersediaan produk hilir minyak mentah.
Berdasarkan paparan ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO), kawasan kini dibayangi risiko stagflasi—pertumbuhan yang mandek dibarengi inflasi tinggi. Kondisi ini diperparah oleh disrupsi kiriman pestisida dan bahan bakar yang memicu kenaikan ongkos transportasi serta depresiasi nilai tukar mata uang lokal.
Baca juga : Back To Back Ke Final Liga Champions, Mental PSG Memang Juara
Menanggapi situasi tersebut, Asian Development Bank (ADB) mengusulkan program kemitraan bersama sektor swasta untuk menjaga ketersediaan pangan.
ADB juga menyatakan kesiapan menyuntikkan likuiditas ke pasar modal untuk meredam gejolak pasar dan tekanan ekonomi lebih lanjut. DIR
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 10, edisi Jumat, 8 Mei 2026 dengan judul "Di tengah Memanasnya Tensi Geopolitik RI-ASEAN Perkuat Kerja Sama Energi dan Pangan"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya