Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Laporan Wartawan Rakyat Merdeka Muhammad Rusmadi Dari Media Center Haji, Makkah
Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi bersama Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) serta Pemerintah Provinsi Aceh terus memastikan pelayanan terbaik bagi jemaah haji asal Aceh yang menjadi korban banjir besar pada akhir 2025 lalu.
Komitmen tersebut disampaikan Tim Koordinasi dan Pengendali Jemaah Haji Aceh pada PPIH Arab Saudi, Jamaluddin Affan Asyi atau yang akrab disapa Syekh Jamal. Dia menuturkan, proses pemberangkatan jemaah terdampak bencana menuju Tanah Suci penuh dengan perjuangan panjang dan berbagai tantangan.
Menurut Syekh Jamal, Pemerintah bersama Kemenhaj berupaya keras agar para jemaah tetap dapat menunaikan ibadah haji meski sebagian besar kehilangan rumah, harta benda, hingga dokumen penting akibat banjir besar yang melanda Aceh pada November 2025.
Banjir yang terjadi pada 22-26 November 2025 itu menerjang banyak wilayah di Aceh dan disebut masyarakat sebagai “tsunami kedua” karena dampaknya yang begitu luas. Ribuan warga terdampak dan berbagai fasilitas umum mengalami kerusakan parah.
“Dari 23 kabupaten/kota di Aceh, ada 18 daerah yang terdampak sangat berat akibat banjir tersebut,” ujar Syekh Jamal saat ditemui Tim Media Center Haji (MCH), Minggu (10/5/2026) malam.
Dia menyebut Kabupaten Aceh Tamiang menjadi salah satu wilayah dengan dampak paling berat. Kondisi masyarakat saat itu sangat memprihatinkan karena banyak warga kehilangan seluruh harta benda mereka.
Baca juga : Hendri Satrio: Masalahnya Bukan Aturan, Tapi Nyali Dan Keberanian
Syekh Jamal mengungkapkan, dari sekitar 150 calon jemaah haji di Aceh Tamiang, hanya satu orang yang mampu melakukan pelunasan biaya haji pada tahap pertama.
“Situasinya sangat berat. Banyak jemaah yang benar-benar kehilangan segalanya akibat banjir,” kata dia.
Melihat kondisi tersebut, Syekh Jamal bersama tim Kemenhaj turun langsung ke lapangan untuk membantu proses keberangkatan jemaah. Mereka melakukan berbagai langkah jemput bola agar seluruh tahapan administrasi tetap dapat diselesaikan.
Dia menjelaskan, upaya yang dilakukan mencakup pengurusan istitha’ah kesehatan, proses pelunasan biaya haji, hingga pendampingan administrasi bagi jemaah yang terdampak bencana.
“Kami ditugaskan oleh Gubernur Aceh dan Wakil Gubernur untuk turun langsung membantu jemaah agar tetap bisa memenuhi persyaratan keberangkatan,” ujarnya.
Tidak hanya persoalan administrasi, berbagai hambatan teknis juga muncul pascabencana. Di Aceh Utara, misalnya, sebanyak 18 paspor jemaah dilaporkan hanyut terbawa banjir.
Kondisi itu membuat koordinasi dilakukan hampir setiap hari antara Pemerintah daerah, PPIH, Kemenhaj, hingga Komisi VIII DPR RI. Berbagai laporan perkembangan terus disampaikan agar proses pemberangkatan jemaah tetap berjalan.
Baca juga : Herwyn JH Malonda: Sanksi Selama Ini Belum Memberikan Efek Jera
Syekh Jamal mengatakan, saat itu juga sempat muncul isu bahwa kuota haji untuk daerah terdampak bencana akan dialihkan ke provinsi lain. Namun, Pemerintah Aceh bersama PPIH terus bergerak cepat agar kuota tersebut tetap menjadi hak jemaah asal Aceh.
“Kami benar-benar melakukan jemput bola agar kuota itu tetap bisa dipenuhi oleh jemaah Aceh,” kata dia.
Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil. Aceh justru menjadi salah satu provinsi yang paling cepat memenuhi kuota haji pada musim haji tahun ini, bahkan melampaui target nasional.
Selain itu, koordinasi juga dilakukan dengan pihak perbankan agar proses pelunasan biaya haji bagi jemaah terdampak banjir dapat dipermudah.
Kerusakan infrastruktur akibat banjir turut menjadi tantangan tersendiri. Banyak jaringan komunikasi dan fasilitas elektronik rusak sehingga proses input data kesehatan serta administrasi haji sempat terhambat.
“Akhirnya pelayanan kami alihkan ke daerah yang masih memiliki jaringan internet dan komunikasi karena banyak infrastruktur elektronik yang rusak akibat banjir,” ujar Syekh Jamal.
Di tengah seluruh tantangan tersebut, Syekh Jamal mengaku paling tersentuh melihat semangat jemaah asal Aceh Tamiang. Meski kehilangan rumah dan harta benda, mereka tetap bertekad berangkat menunaikan ibadah haji.
Baca juga : Komisi II Bahas Sanksi Pelaku Money Politics
“Yang paling membuat saya terharu adalah jemaah di Tamiang. Mereka sudah tidak punya apa-apa lagi, rumah pun hilang, tetapi tetap ingin berhaji,” tutur dia.
Syekh Jamal bersyukur seluruh proses yang penuh tantangan itu akhirnya dapat dilalui. Dia juga merasa haru karena jemaah haji asal Aceh kini mulai tiba secara bertahap di Makkah dalam keadaan selamat.
Dia berharap seluruh jemaah dapat menjalankan rangkaian ibadah haji dengan lancar, khusyuk, dan memperoleh haji yang mabrur.
Pada penyelenggaraan ibadah haji tahun ini, Provinsi Aceh memperoleh kuota sebanyak 5.426 jemaah yang terbagi dalam 14 kelompok terbang (kloter). Setiap kloter diisi sekitar 393 orang jemaah.
Dari total kloter tersebut, hanya satu kloter yang berangkat pada gelombang pertama, sedangkan mayoritas jemaah diberangkatkan pada gelombang kedua dengan penerbangan langsung menuju Makkah.
Secara nasional, Kemenhaj mencatat sebanyak 323 kloter dengan total 125.243 jemaah dan 1.289 petugas haji telah diberangkatkan ke Arab Saudi hingga Minggu (10/5/2026). Dari jumlah tersebut, sebanyak 204 kloter dengan 78.946 jemaah dan 816 petugas kini telah berada di Makkah setelah bergerak dari Madinah.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya