Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Marc Klok Cs Pastikan Persib Siap Tempur Lawan Manila Digger
- Lautaro Martinez Tak Dijual, Barcelona Gigit Jari
- Guru Besar UGM: Penanganan Karhutla Jangan Hanya Hebat Saat Api Sudah Menyala
- Kepala Buperta Buktikan Mampu Jadi Tuan Rumah Perhelatan Pramuka Skala Nasional
- KPK: Calon Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unsoed Dimintai Ratusan Juta Rupiah
RM.id Rakyat Merdeka - Belum selesai dengan Iran, Israel mulai membidik Turki. Kali ini, Suriah menjadi medan pertarungan. Israel menuding Turki hendak mengerahkan pasukan ke pangkalan udara di Suriah. Sementara Turki membantah dan balik menuduh Tel Aviv mengacaukan stabilitas kawasan.
Ketegangan terbaru dipicu serangan udara Israel ke pangkalan udara Abu al-Duhur, di wilayah pedesaan Idlib, Suriah Utara, Selasa (18/8/2026). Israel melancarkan delapan serangan ke lokasi tersebut.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menuding Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan tengah menyeret negaranya untuk ikut campur dalam konflik Suriah. Israel menduga pasukan Turki akan dikerahkan ke pangkalan udara tersebut.
“Israel tidak akan mengizinkan pihak mana pun yang mengancam keamanan kami,” tulis Katz melalui platform X, dikutip AFP, Kamis (20/8/2026).
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya juga memperingatkan Suriah agar tidak mengizinkan keberadaan militer Turki di pangkalan udara tersebut. “Pesan kami sangat jelas, jangan lakukan itu. Saya rasa mereka tidak sepenuhnya memahami pesan tersebut,” kata Netanyahu, Rabu (19/8/2026).
Netanyahu menegaskan, Israel tidak akan menerima ekspansi kekuatan militer asing yang dianggap mengancam keamanan negaranya. “Israel tidak akan menoleransi pembangunan militer Turki yang bergerak ke selatan karena itu mengancam kami,” tegasnya.
Kementerian Pertahanan Turki langsung membantah tudingan Israel. Ankara menegaskan tidak pernah mengerahkan pasukan militernya ke pangkalan udara Suriah.
Baca juga : KPK Usut Pemotongan Upah Pungut Di Bappenda Bogor
Meski demikian, Turki memastikan akan terus mendukung upaya Suriah membangun infrastruktur dan kemampuan militernya.
Kementerian Pertahanan Turki juga mengecam serangan Israel ke wilayah Suriah.
Serangan tersebut disebut sebagai tindakan yang tidak dapat diterima, ceroboh, serta berpotensi mengancam perdamaian dan stabilitas kawasan. “Upaya dan kontribusi kami untuk melindungi kedaulatan dan keutuhan wilayah Suriah akan terus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Dengan tujuan membantu menciptakan kondisi yang aman dan stabil,” kata Juru Bicara Kementerian Pertahanan Turki dalam pernyataannya, dilansir Anadolu, Jumat (21/8/2026).
Turki juga menuduh Israel berupaya mendestabilisasi Suriah melalui agresi dan serangan militer. “Tuduhan-tuduhan yang dijatuhkan oleh Kantor Perdana Menteri Israel ditujukan untuk melegitimasi serangan udara Israel terhadap kedaulatan dan wilayah teritorial Suriah,” kritik Turki melalui media sosial Kantor Kepresidenan Turki.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani turut membantah adanya rencana penempatan pasukan Turki di pangkalan udara yang menjadi sasaran serangan Israel. Menurut Al-Shaibani, tidak ada alasan resmi bagi Israel untuk menyerang pangkalan tersebut.
Sebelum serangan terjadi, kata dia, tidak ada rencana menempatkan pasukan Turki di lokasi tersebut. “Tidak ada niat untuk mendirikan pangkalan atau membangun markas militer Turki secara permanen, bahkan sampai menempatkan pasukan Turki di lokasi tersebut,” ungkap Al-Shaibani dalam wawancara dengan media AS, Axios, Rabu (19/8/2026).
Dia menjelaskan, pangkalan udara yang diserang Israel sebagian besar kosong dan belum beroperasi. Fasilitas tersebut sedang dalam proses pemulihan untuk digunakan Angkatan Udara Suriah.
Baca juga : Gelar Sekolah Politik, Golkar Kalsel Ajak Anak Muda Perluas Wawasan
Al-Shaibani mengakui sejumlah perwira militer Turki memang sempat mengunjungi lokasi tersebut beberapa hari sebelum serangan Israel. Namun, dia menegaskan, kunjungan tersebut merupakan bagian dari kerja sama militer antara kedua negara.
Kerja sama itu mencakup pelatihan serta pertukaran keahlian militer.
Diketahui, ketegangan antara Turki dan Israel bukan baru kali ini terjadi. Tensi kedua negara telah meningkat seiring aksi militer Israel di Suriah yang berulang kali dilakukan, khususnya di wilayah barat daya Suriah.
Serangan tersebut semakin intens setelah mantan pemimpin Suriah Bashar Assad digulingkan pada 2024.
Israel berdalih, operasi militernya diperlukan untuk menghadapi potensi ancaman dari kelompok-kelompok bersenjata yang memiliki keterkaitan dengan penguasa baru Suriah.
Di sisi lain, Turki telah menempatkan pasukan militernya di wilayah utara dan timur Suriah selama bertahun-tahun.
Ankara juga menjadi salah satu sekutu utama Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa.
Baca juga : Pelni & ASDP Gratiskan Angkutan Kirim Bantuan
Turki menilai Israel berupaya mengacaukan stabilitas Suriah untuk melemahkan pemerintahan baru di negara tersebut.
Perbedaan kepentingan kedua negara juga semakin tajam akibat perang di Gaza, Palestina. Turki merupakan salah satu negara yang paling keras mengkritik operasi militer Israel di Gaza.
Ketegangan Israel dan Turki di Suriah turut membuat Amerika Serikat (AS) khawatir. Duta Besar AS untuk Turki Tom Barrack mengecam serangan udara Israel ke pangkalan Suriah. Menurut Barrack, serangan tersebut justru berpotensi memperburuk kondisi kawasan dan semestinya tidak perlu dilakukan.
“Kami sangat khawatir dengan serangan-serangan udara Israel. Eskalasi yang tidak perlu yang tidak memajukan stabilitas regional,” kecamnya, dilansir Al Jazeera.
Barrack mengatakan, Washington tengah berupaya mencari jalan keluar diplomatik atas ketegangan yang melibatkan Suriah, Turki, dan Israel. “AS akan terus menawarkan diskusi diplomatik untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan regional,” tambah Barrack. [FAQ]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya